
Pada akhirnya, dering telepon masuk dari Chole membuat Helios meminta Dandi untuk mengambilkan ponselnya. Untuk pertama kalinya, Dandi ingin menertawakan Helios walau sampai detik ini, ia tetap merasa takut pada bosnya itu.
“Gengsinya lebih gede dari gaban! Aku pikir cuma aku yang begitu kalau lagi kangen sekaligus merangkap cemburu. Eh ternyata, ... sekelas bos Helios lebih parah!” batin Dandi susah payah menahan tawanya.
Helios berdeham beberapa kali dan malah membuat tenggorokannya sakit. Segera ia menerima air minum pemberian Dandi meski karena itu, ia justru menjadi melewatkan telepon suara dari Chole. Ponsel Helios tak lagi dihiasi dering masuk, tapi tak lama setelah itu terdengar dering pesan masuk.
Chole : Massss Suaaamiiiii, maaf. Tadi lagi masak. Mas Suamiii di mana? Ini sudah mau pukul delapan. Mas jadi pulang, kan? Sehat, kan? Semuanya aman, kan?
“Oke, enggak usah dibalas. Cukup dibaca saja biar dia ngerasain apa yang aku rasakan!” batin Helios masih kesal. Niatnya memang begitu, tapi setelah dua menit menunggu dan Chole tak lagi mengiriminya pesan, niat tersebut langsung gagal.
Helios yang awalnya hanya sesekali melirik layar ponselnya, menjadi makin sering melakukannya dan berakhir meraihnya.
“Kita sampai, Bos!” sergah Dandi sengaja cari aman agar tragedi ponsel terbang tak terulang.
Seperti yang Dandi harapkan, Helios tak jadi melempar ponselnya walau memang hampir. Mobil mereka memasuki halaman rumah Helios yang terbilang luas.
Dari dalam, Chole yang sibuk menatap layar ponselnya tampak melangkah buru-buru. Wanita itu tak hentinya tersenyum semringah ketika Doni mengabarkan kepulangan Helios. Jadilah pertemuan pasangan ala*y itu berlangsung layaknya adegan pada sebuah drama romantis. yang wanita sangat antusias dan tanpa malu mengumbar perasaan. Yang laki-lak dan baru keluar dari mobil langsung jaim meski ketika melihat istrinya memakai warna biru salem, Helios langsung kesemsem alias terpesona.
Chole yang kegirangan sekaligus tampak tidak sabar, buru-buru lari dan tak lagi fokus pada ponselnya. Termasuk itu ketika menuruni anak tangga menuju tehel yang menghiasi sebagian halaman rumah dan kini menjadi tempat Helios berpijak.
__ADS_1
Helios sudah langsung panik dan baru saja akan teriak, melarang Chole lari karena pakaian Chole yang serba panjang kedodoran sangat rawan. Terbukti, tanpa bisa dicegah, tubuh Chole sudah langsung menggelundung.
Kedua ART, Dandi, termasuk Ben yang awalnya bengong melihat sambutan girang Chole pada Helios langsung panik. Keempatnya kompak lari menyusul Chole walau Doni yang ibaratnya babay sister Chole, sudah langsung melakukannya. Lain dengan Helios yang justru diam kemudian berkecak pinggang, menatap marah Chole. Meski tentu, ekspresi marah Helios kali ini dengan dulu sangat berbeda. Karena jika kemarahan Helios di masa lalu membuat pria itu seolah akan langsung menghab*isi Chole, tidak dengan kemarahan kali ini yang membuat Helios tampak gemas tapi juga gengsi.
Di lain sisi, meski sudah dihampiri lima orang yang siap menolong, yang Chole butuhkan tetap Helios. Ia menatap manja sang suami dan kebetulan lurus dengan keberadaannya yang masih tengkurap. “Mas Suamiiiiiiiii!” rengek Chole benar-benar manja.
Kelima orang di sekitar Chole langsung mendelik mendengarnya. Mereka heran sekaligus terkejut lantaran baru tahu, ada yang berani manja kepada Helios bahkan itu Chole yang mereka tahu sangat takut kepada Helios. Terlebih sejauh ini, yang mereka tahu khususnya para mafia, Chole dan Helios tidak pernah akur.
“Kamu yah, ... suami baru pulang sudah langsung dikasih beban!” omel Helios sampai teriak-teriak sambil tetap berkecak pinggang.
Detik itu juga kelima pekerja yang ada di sekitar Chole melipir teratur. Karena jika Helios sudah marah-marah kepada Chole, otomatis mereka juga tidak boleh peduli apalagi sampai menolong Chole layaknya sebelumnya. Kendati demikian, mereka yang diam-diam sampai menahan napas, juga jadi sibuk mengawasi interaksi Chole dan Helios. Karena entah kenapa, kenyataan keduanya yang memiliki pribadi sangat bertolak belakang membuat mereka sangat penasaran.
Chole sengaja memasang wajah melas meski kali ini, ia masih memakai cadar. “Mas Suamiiii Sayanggg, gendong ih! Mau peluk juga, kangen!” rengeknya.
Lain dengan kelima pekerja mereka, Helios yang jadi terlalu gugup justru terbatuk-batuk. Batuk yang makin lama makin parah hingga selain kedua mafianya langsung menghampiri, Chole yang masih kesakitan juga berusaha duduk dengan mandiri.
Helios mengangkat tangan kanannya yang masih diperban. Selain itu, ia yang masih batuk juga menggeleng dan sengaja menolak uluran tangan kedua mafianya.
Terbatuk-batuk, Helios menatap wajah pengawal di hadapannya silih berganti. “Kalian siap-siap makan saja. Makan, istirahat, sorenya kita makan besar!” Setelah berkata demikian, ia langsung menghampiri Chole sambil terus berusaha meredan batuknya.
__ADS_1
Lucunya, walau Chole masih menatap khawatir Helios, wanita itu tetap manja sekaligus ingin dimanja sambil mengulurkan kedua tangannya ke atas. Tentunya, Chole berharap digendong atau malah dibopong.
Helios mendengkus dan nyaris kembali mengomel. Tapi ia membiarkan tangan kanannya untuk disalami dengan takzim sekaligus hati-hati oleh sang istri. Kemudian, ia sengaja jongkok di hadapan Chole.
Baru melihat Helios jongkok saja kelima orang pekerja mereka langsung antusias bahkan mendadak girang.
“Baiklah Mas, mulai sekarang aku akan membuatmu menjadi laki-laki paling bahagia. Mulai sekarang, aku akan membuatmu menjadi pria paling beruntung karena memiliki aku sebagai istri Mas Suamiku sayang!” batin Chole.
Meski efek jatuh menggelundung dari anak tangga membuatnya sakit bahkan malu, Chole tetap bersemangat berusaha meraih punggung Helios.
“Kelamaan! Sudah, jalan sendiri!” semprot Helios tak sabar dan memang sudah berdiri menghakimi Chole.
“Ihhh, bentar. Ini kan memang sakit banget. Tuh lihat, anak tangganya setinggi itu. Sakit parah ini!” rengek Chole.
Namun dengan entengnya Helios berkata, “Enggak ada yang minta apalagi nyuruh kamu buat lari!”
“Tapi hati sama cinta aku pengin lari ke Mas suamiii! Apalagi aku juga sudah kangen berat!” protes Chole masih merengek manja.
Ulah Chole membuat kelima pekerja mereka sibuk menahan tawa. Ada yang melakukannya sambil menunduk, tak jarang juga sengaja menoleh seolah pura-pura tidak dengar.
__ADS_1
“Ehmmm!” Helios sengaja berdeham lantaran kegugupannya makin bertambah. Ia berangsur menunduk, tapi kali ini ia melakukannya dengan kaku saking gugupnya. Helios siap membopong Chole dan tak jadi menggendongnya di punggung.
Senyum cerah merekah di mata Chole yang menjadi makin berbinar-binar. Chole segera mengulurkan kedua tangannya kemudian mengalungkannya kepada tengkuk sang suami. Tengkuk yang juga diam-diam sudah sangat ia rindukan.