
“Ayo ....” Helios sudah lebih dulu turun dari tempat tidur.
Karena wajahnya sudah beberapa kali tersangkut kelambu pink di sana, kali ini Helios dengan sigap menghindar. Helios sengaja menghindari perdebatan apalagi keributan di antara mereka apalagi kini Chole sedang hamil. Iya, Chole, harta terindah sekaligus paling berharga yang ia miliki.
Berbeda dengan Helios yang begitu bersemangat dan langsung siap-siap, dari cuci wajah, gosok gigi, Chole malah tetap meringkuk. Hanya kedua matanya saja yang sesekali berkedip karena wanita itu tengah merasakan apa itu “mager” alias malas gerak.
Ketika akhirnya Helios kembali dan tak hanya wajah yang sudah segar karena rambut rapinya pun sudah pria itu sisir rapi, Chole malah tengah memejamkan mata. Mendapati itu, Helios sudah menghela napas dan mulutnya sudah terbuka terbilang lebar lantaran ia siap mengomel. Namun ketika mata kirinya tak sengaja melihat tangan kanan Chole tengah mengelus-elus perut, Helios langsung luluh. Semua rasa kesal yang nyaris ia lam*piaskan melalui kata-kata perlahan menghilang tanpa sisa.
“Chole ...,” panggil Helios lembut sambil menghampiri Chole.
“Chole ...?” panggil Helios lagi lantaran Chole tetap tidak ada perubahan. Kedua mata Chole tetap terpejam damai dan tubuh Chole juga nyaris tak bergerak lantaran bernapas pun, Chole melakukannya dengan sangat pelan. Padahal biasanya seperti yang Helios katakan, Chole tak jarang akan mengorok.
“Chole, kamu tidur apa belajar mati, sih? Dibangunin enggak nyaut-nyaut ...,” lanjut Helios sambil mengguncang tangan kanan Chole. Kemudian tangan kirinya menepuk-nepuk pipi sang istri dan kedua kelopak mata Chole perlahan terbuka.
“Mager banget ih Mas ....”
“Mager bagaimana? Itu alarm kita beneran sudah bunyi. Kamu sudah janjian sama dokter kandungannya, kan? Sudah ayo, nanti kita telat.”
“Masalahnya aku mager alias malas gerak Mas ....”
“Lebih masalahnya lagi, yang hamil kamu. Kalau perutnya di aku, sudah aku bawa perutku tanpa ajak kamu yang lagi mager. Ayo semangat, gerak. Bangun ... bangun.”
“Aduh Mas. Andai pun sampai Mas sayang-sayang, peluk ci*um, yang ada aku makin mager dan pengin terus tidur.”
__ADS_1
“Innalilahi Chole ....”
“Kok innalilahi, Mas? Kan cuma tidur, belum sampai mati.”
Helios mendengkus pasrah. “Kalau begitu kita atur ulang jadwal. Satu jam lagi, cukup?”
Chole yang tetap terpejam karena telanjur mager parah, berangsur mengangguk-angguk. Tangan kanannya terulur berusaha meraih wajah Helios. “Ke*lo*nin lagi ih, Mas ...,” rengek Chole.
Mendengar itu, Helios refleks tertawa geli. Sambil beranjak tiduran di sebelah Chole dan memang langsung mendekap Chole, ia juga meraih ponsel Chole dari meja nakas sebelahnya. Ia mengatur ulang jadwal kontrol kehamilan Chole yang diundur satu jam dari jadwal sebelumnya.
***
Kehamilannya membuat Chole diperlakukan layaknya ratu, Chole menyadari itu. Setiap geraknya selalu dalam pengawasan, sementara apa-apa disiapkan. Kini, selain menuntun Chole, Helios juga menenteng tas milik istrinya. Sementara Chole mengikuti sambil menikmati jus alpukat di tangan kanannya.
Sebenarnya, Chole sempat minta jus jambu biji merah kepada ART di rumah orang tuanya. Namun, ternyata stok jambu biji merahnya sedang kosong dan mau tidak mau, Chole mengonsumsi jus buah lain selain itu.
Kali ini mereka kembali dikawal oleh dua orang mafia, meski bukan lagi Ben dan Dandi.
“Mau!” Chole bersemangat kemudian memilih bermain ponsel karena memang sudah tidak ada pembahasan lain. Bahkan, Helios yang langsung diam sampai memegang gelas sekaligus membantu Chole minum.
Kenyataan Helios yang begitu memanjakan Chole sudah langsung membuat kedua mafia di sana bingung. Keduanya kerap berkode mata melalui lirikan. Sampai di rumah sakit pun ketua mafia mereka masih sangat memperhatikan sekaligus memanjakan Chole.
Suasana sedang terik-teriknya meski waktu sudah memasuki pergantian siang ke sore. Saking panasnya dan memang menyilaukan, salah satu dari mafia yang ada diminta untuk memayungi Chole. Namun ribetnya Helios yang sangat pencemburu, menjadi berubah aturan dan memilih memayungi istrinya sendiri. Helios lebih memilih kerepotan daripada istrinya dekat-dekat dengan laki-laki lain bahkan itu anai buahnya.
__ADS_1
“Pelan-pelan, jangan lari,” tahan Helios sambil menuntun Chole keluar dari mobil. Dua mafia yang bersama mereka masih mengawal.
“Aku pikir, lebih baik kita ke Syam, setelah kita pulang dari sini saja, Mas. Kalau kita ke sananya besok, terlalu mendadak. Otomatis kita juga belum bisa kasih dukungan moril ke dia,” usul Chole.
“Seperti itu memang lebih baik, tapi kita bakalan menginap di markas biar enggak bolak-balik capek di perjalanan. Aku enggak mau kamu capek di perjalanan,” balas Helios masih menggandeng sebelah tangan Chole sekaligus menenteng tas milik Chole.
“Ya enggak apa-apa, kita menginap di markas.” Meski jujur saja, Chole ragu. Bayang-bayang ketika pak Mul berusaha mele*ce*hkannya di kamar pribadi Helios dan kini mendadak terputar, baginya terlalu mengerikan.
“Tatapan kamu tidak mengatakan begitu,” tepis Helios yang melihat ketakutan dari cara kedua mata sang istri dalam menatapnya.
“Yang penting aku selalu ikut Mas. Kalau enggak begitu, yang ada semuanya enggak keurus. Mas bakalan keteteran apalagi sekarang mas Excel udah enggak bantu-bantu seperti dulu,” yakin Chole sambil mengeratkan dekapan kedua tangannya pada lengan kiri Helios.
“Baik kalau begitu,” sanggup Helios.
Senyum lega langsung terbit dan membuat kedua mata Chole yang tidak tertutup cadar menjadi pipih. Helios yakin kenyataan tersebut terjadi lantaran sang istri tersenyum lepas. Senyum yang benar-benar ceria layaknya biasa.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, meski sampai harus antre, akhirnya Chole dan Helios mendapatkan giliran.
“Antrenya kayak nunggu jatah sembako dari pemerintah,” kesal Helios sambil menuntun Chole masuk ke ruang pemeriksaan.
“Ya makanya Mas wajib ikut, biar tahu prosesnya gimana. Nunggunya saja lama. Bayangkan kalau Mas enggak ikut, Mas enggak tahu prosesnya dan aku disuruh cepat-cepat. Lagian sepertinya memang sedang banyak orang hamil, selain pemeriksaan di sini yang bagus makanya banyak yang rela antre,” balas Chole meyakinkan.
Detik itu juga Helios yang kesabarannya masih belum bisa lebih dari sehelai tisu kering yang dibagi tiga, memilih diam. Satu hal yang Helios syukuri, dokter kandungannya seorang perempuan. Bayangkan jika dokternya laki-laki pasti urusannya jadi ribet karena Helios harus mengontrol kecemburuannya.
__ADS_1
Sepanjang pemeriksaan apalagi konsultasi, Chole terbilang banyak bertanya dan Helios justru benar-benar diam. Helios memilih menjadi pendengar baik, terlebih setelah mengetahui janin mereka yang diprediksi sudah memasuki minggu ke lima dalam keadaan sehat dan mereka sudah bisa mendengar detak jantungnya.
“Gini Dok, beberapa orang di sekitar kami, pernah mengalami keguguran di kehamilan pertama mereka. Ini beneran jadi kekhawatiran tersendiri buat kami. Jadi setelah tahu hamil, aktivitas saya langsung dibatasi karena khawatir berpengaruh kepada janin. Masalahnya, kami juga belum berpengalaman dan punya kekhawatiran sendiri untuk hubungan ... se*k*sual kami,” ucap Chole yang kemudian tersenyum kikuk sambil melirik Helios. Detik itu juga Chole memergoki lirikan mata kiri Helios kepadanya yang menjadi kikuk. Lain dengan dokter di hadapan mereka yang langsung tersipu.