Mencintai Pembunuh Suamiku.

Mencintai Pembunuh Suamiku.
Bab 12. Penyesalan Rumsi


__ADS_3

Rumsi hanya bisa meratapi nasibnya yang malang.Penyesalan nya pun hanya sia sia belaka karena nasi yang sudah menjadi bubur tidak akan bisa di ubah lagi.


Dengan airmata yang berderai Rumsi membersihkan gudang itu,ingatan nya kembali kepada orang tua yang begitu menyayangi nya dan memanjakan nya.Namun karena cinta bodohnya Rumsi harus merasakan sakitnya pernikahan di usianya yang masih sangat muda ini.Baru beberapa jam mereka sah menjadi suami istri namun neraka itu sudah di rasakan Rumsi.


"Pak ,Bu.Maafkan Rumsi.Rumsi menyesal tidak mendengarkan nasehat ibu sama bapak.Hiks..hiks...Fero"Lirih Rumsi mengingat Feronica sahabatnya yang selalu mengingatkan nya untuk tidak berhubungan dengan Heri tapi Rumsi justru menuduhnya ingin merebut Heri darinya.


"Huhu..huhu....Aku memang bodoh.Begitu banyak orang yang menyayangiku tapi aku justru abai pada mereka.!"Lirih Rumsi di sela sela isak tangisnya.


"Jangan nangis aja.Buat apa nangis? masih untung kamu di tampung di rumah ini jika tidak maka kamu dan anak kamu itu sudah tidur dijalanan"perkataan Retno menyentak Rumsi yang masih tergugu.


" Tidakkah mereka menyayangi cucu mereka yang ada dalam kandungan nya?Tapi orang tuanya sendiri juga tidak mau menerima anak yang ada dalam kandungan nya itu."Batin Rumsi.


Rumsi bangun sambil menundukkan kepalanya,rasanya dia sudah tidak punya muka untuk menatap orang lain ataupun dunia ini.Jika orang tua dan mertuanya saja tidak menganggapnya apalagi orang yang tidak punya hubungan apapun dengan nya.


"Ada yang bisa saya bantu bu?"Tanya Rumsi memberanikan diri.


"Kamu tidur pakai kasur itu dan ini bantal serta spreinya.Jangan nangis terus cepat tidur!besok pagi kamu harus membersihkan seluruh rumah ini.Karena akan ada tamu penting."


Rumsi mengangguk saja.Setelah Bu Retno meninggalkannya matanya menoleh mencari kasur yang di tunjuk ibu mertuanya itu.Di pojok Rumsi memang melihat kasur tapi keadaan nya sangat tidak layak.Kasur itu sudah kotor dan rusak.Rumsi menangis saja ,rasanya dia sangat tidak di hargai di rumah ini.


Terpaksa Rumsi membersihkan debu dan kotoran di kasur itu,setelah di rasa cukup bersih dia lalu membentangkan sprei di atasnya.


"Baiklah,ini sudah cukup baik dari pada kita tidur di jalankan nak?"Rumsi mengelus perut ratanya menyunggingkan senyum agar anaknya bisa merasakan kekuatan nya.


Karena lelah menangis akhirnya Rumsi tertidur juga di kasur usang itu.


*********


Rumsi bangun dari tidurnya karena terkejut dengan suara jam weker yang entah kapan ada di dalam kamarnya.


Kepalanya terasa berdenyut karena saking terkejutnya dia.Matanya melirik ke arah jarum jam yang masih menunjukan pukul empat dini hari.

__ADS_1


"Apa kita harus bangun sepagi ini nak?"Walau dia tahu anak dalam kandungannya belum bernyawa namun Rumsi terus saja mengajaknya bicara karena hanya dia yang Rumsi punya saat ini.


Akhirnya Rumsi memutuskan untuk bangun dan membersihkan dirinya.Jika jam itu ada di kamarnya pasti ada yang menaruhnya dan ingin dia bangun membereskan rumah besar ini.


Rumsi memulai kegiatan barunya pagi ini,matanya sangat terasa panas karena masih mengantuk tapi dia tetap harus membuka matanya agar bisa segera menyelesaikan tugasnya.


Dia mengamati seluruh ruangan yang sunyi karena semua penghuninya masih tertidur nyenyak.Dia bingung dimana dia harus mendapatkan peralatan kebersihan di rumah ini.Ternyata semua sudah di siapkan di sudut dapur.


"Baiklah ayo kita mulai bekerja!"Gumam nya menyemati dirinya sendiri.


Rumsi sudah menyelesaikan tugasnya saat para penghuni rumah bangun.Hanya tinggal membuat sarapan saja dan bu Retno yang akan memasak tugas Rumsi hanya membantu saja.


Semua hidangan sudah tersedia di meja makan,semua penghuni rumah juga sudah duduk untuk makan.


"Kamu makan setelah kami selesai makan dan ingat makan di dapur jangan disini!"Perintah bu Retno pada Rumsi.


Rumsi mengangguk,hatinya sakit dia benar benar tidak di anggap selain sebagai pembantu lalu bagaimana nasib anaknya jika lahir nanti.


Dengan langkah yang begitu di paksakan Rumsi kembali ke dapur menunggu mereka selesai makan.Perutnya sangat lapar tapi dia harus menahan nya lagi pula dia juga sudah terbiasa menahan lapar saat bersama orang tuanya.


"Siapa namamu?"Tanya Bram membuat Rumsi berhenti.Yang lain pun menoleh menatap Bram.


"Ru..Rumsi pak."Jawab Rumsi gugup.


"Siapa nama orang tuamu?"Tanya Bram lagi.


"Bapak Saiful."Jawab Rumsi


"Kamu dari kampung xx?Dan nama ibumu Naila?"Tanya Bram lagi.


Bu Retno ,Heri dan Prida heran bagaimana papa nya bisa tahu bapak dan ibunya Rumsi.

__ADS_1


"Iya pak.Benar!"


"Pa.Kok papa bisa tahu kalau ibunya bernama Naila?"Tanya bu Retno yang cemburu.


"Hemm.Mama lupa, beberapa bulan yang lalu ada orang yang datang kesini meminjam uang untuk biaya sekolah anaknya?Mereka orang tua perempuan ini."Ternyata Ayah mertuanya tidak kalah menyakitkan jika bicara.


Sungguh Rumsi sangat sangat menyesal dengan keputusan nya mencintai Heri.Dunianya yang awalnya bisa di bilang sangat baik kini berbanding terbalik.


"Ohhh ternyata ini anaknya pak Saiful toh.Hemm orang tuanya hutang sana hutang sini tapi anak yang di perjuangkan malah hamil di luar nikah masih sekolah lagi.Dasar anak tidak tahu trimakasih kamu itu!"Celetuk Bu Retno.


Rumsi tidak lagi bisa membendung airmatanya,dia meremas kuat ujung bajunya.Melampiaskan rasa sakit di hatinya pada ujung baju yang tidak bersalah.Rumsi menunggu dan masih terus menunggu Heri membelanya di hadapan orang tuanya tapi tidak Heri sama sekali tidak membelanya.


"Ya sudah sana kamu!"kata bu Retno.


Rumsi mau tidak mau hanya menuruti perintah ibu mertuanya atau bukan wanita itu adalah majikan nya,apalagi setelah tahu bapaknya mempunyai hutang pada mereka jelas mereka akan semakin semena mena padanya.


"Pak maafkan Rum ya!Rum janji mulai sekarang Rum tidak akan merepotkan bapak dan ibu lagi.Sebelum Rum sukses Rum tidak akan pulang pak,bu.Rum hanya berharap doa bapak dan ibu tidak akan pernah putus untuk Rum agar Rum kuat menghadapi ujian ini!"Lirih Rumsi di sela isak tangisnya.


Rumsi menghapus airmatanya,dia harus kuat demi anak yang ada dalam kandungan nya.Sekarang harapan nya semoga anak dalam kandungan nya tidak akan rewel.


"Ketemu di mana sih Her,sama si Rumsi itu?"Tanya Bram pada anaknya.


"Di jalan pa.Kasihan dia nangis karena di usir sama orang tuanya.Jadi Heri ajak pulang lumayan bisa bantu bantu mama!"Jawab Heri tanpa beban.


"Iya tapi kenapa harus di nikahi segala sih?"Bram masih merasa tidak suka dengan keputusan Heri menikahi Rumsi.


"Ya,biar bantunya gak setengah setengah pa."


Bram mendengus mendengar jawaban Heri yang di anggap tidak masuk akal.


"Nanti anak yang ada dalam kandungan Rumsi anaknya kakak?"Sontak ucapan Prida membuat Heri tersedak makanan nya.

__ADS_1


__ADS_2