
Rey kembali mengetuk pintu kamar pak saiful sementara Damian hanya melihat nya saja.Tetapi tetap tidak ada sahutan dari dalam.
Rey tidak putus asa dia kembali mengetuk hingga beberapa kali tapi hasilnya pintu kamar pak Saiful tetap tertutup rapat.
Reymengertutkan alis nya''Aku merasa ini sangat aneh Dam.''kata Rey.
''Benar tyan,sebaiknya kita langsung buka saja saya juga khawatir terjadi sesuatu pada pak Saiful.''jawab Damian.
Rey mengangguk lalu membuka pintu kamar dengan sangat pelan agar tidak mengganggu pak saiful jika dia sedang beristirahat.
Rey bisa melihat jika pak Saiful memang sedang berbaring di ranjang.
''Sepertinya pak Saiful masih tidur tuan.''kata Damian.
''Ya kau benar.''Jawab Rey akan berbalik tapi sepertinya Rey melihat ada sesuatu yang membuatnya curiga.
''Dam,apa kau merasa jika wajahpak Saiful sedikit pucat?''Tanya Rey yang tidak jadi berbalik keluar.
Damian kembali melihat pak Saiful yang sednag berbaring di ranjang.''Benar tuan,apa pak Saiful sakit?''
Rey melangkah maju mendekat memastikan.
''Pak...''panggil Rey
Tidak ada jawaban membuat Rey dan Damian mengerutkan alisnya.
''Pak...apa bapak sakit?''Tanya Rey lagi tapi tetap sama tidak ada jawaban sama sekali.
Rey tidak sabar dia lalu menyentuh tangan pak Saiful tetapi Rey merasa ada yang aneh.
''Ada apa Tuan?''Tanya Damian yang bingung.
''Pak Saiful.''Panggil Damian agak mengeraskan suaranya tapi pak Saiful tetap memejamlan matanya.
Rey meraba kening pak Saiful tidak panas.Rey kembali menggoyangkan tangan pak Saiful tapi masih diam.''Dam,jangan jangan?''Rey menempatkan salah satu jarinya di bawah hidung pak Saiful dan mata nya langsung melotot tidak percaya dengan cepat dia juga meraba nadi pak Saiful tapi hasil nya sama tidak ada tanda tanda nadi itu berdenyut.
''Damian.Tidak mungkin?''Rey sangat syok dengan apa yang dia lihat ketika kebenaran adadi depan matanya justru hal ini terjadi.
Damian ikut meraba nadi pak Saiful bahkan menempelkan telinganya di dada pak Saiful tapi hasilnya sama pak Saiful sepertinya sudah pergi.Tanpa menunggu perintah dari Rey,Damian segera menghubungi seorang dokter dengan cepat.
Rey terduduk dilantai kesempatan nya untuk mengetahui tentang kecelakaan orang tuanya kandas sudah,dia juga memikirkan bagaimna Rumsi jika mengetahui tentang ini.
Dokter tiba dengan sangat cepat dan Damian langsung membawanya ke kamar pak Saiful.
__ADS_1
Dokter itulangsung memeriksa kondisi pak Saiful''Maaf Tuan beliau sudah meninggal.''Kata Dokter itu membuat Rey semakin lemah.
''Tapi pagi tadi beliau baik baik saja Dok.Kenapa bisa tiba tiba seperti ini?''tanya Rey.
''Untuk memastikan nya hanya bisa kita lakukan di rumah sakit Tuan.Karena peralatan yang saya bawa tidak bisa mendeteksi itu.Maaf.''
Rey mengerti dan dia hanya bisa mengijinkan saat Dokter itu pamit.
Di depan Rumsi,dan Fero yang baru pulang dari kuliahnya berpapasan dengan Dokter.
''Kenapa ada Dokter Fer?''Tanya Rumsi khawatir dengan kesehatan bapak nya.
''Aku tidak tahu Rum.Siapa yang sakit?''
Rumsi mengabaikan pertanyaan Fero.dan langsung berlari ke kamar bapak nya.
Hah...Hah..
''Mas ada apa?''Tanya Rumsi yang melihat Rey ada di kamar pak Saiful dengan wajah yang sendu membuat Rumsi semakin merasa takut.
''Ada apa mas?''Rumsi semakin mendekat di lihat nya Damian hanya menundukkan kepalanya.
''Rumsi,kamu tenang ya!''Ucap Rey mendekatu Rumsi ingin memeluknya tapi Rumsi menolak.
''Pak bangun pak!Rumsi sudah pulang,bapak kenapa?''Tanya Rumsi sambil menggoyangkan lengan bapak nya.
Rey mendongakkan kepalanya dia tidak tahan melihat adegan ini.Begitu juga Damian dia mengusap sudut matanya.
''Kenapa bapak diam saja mas?''Tanya Rumsi.
Rey kembali mendekati Rumsi dan memeluknya.''Kamu yang sabar ya!Bapak ?''
''Bapak kenapa mas jawab?''Rumsi menggoyangkan lengan Rey karena tidak sabar lalu berbalik memegang lengan bapak nya.
''Bapak sudah pergi!''Jawab Rey perlahan dan merasa sakit saat mengatakan nya.
Rumsi terdiam tapi air matanya mengalir semakin deras.
''Apa?''Teriak Dian dari pintu dia datang bersama Fero.
Rey menatap Dian hatinya semakin hancur.
''Tidak.Bapak tidak mungkin meninggal pagi tadi bapak baik baik saja.Ini tidak mungkin kakak jangan berbohong ini tidak lucu!''Marah Dian tapi air mata nya sama deras nya dengan Rumsi.
__ADS_1
Sementara Rumsi kini menyentuh wajah bapak nya lembut.''Pak bangun,jangan tidur lagi Rumsid an Dian sudah pulang!''kata Rumsi.
''Bapak..!''Dian langsung memeluk bapak nya berharap Pak Saiful akan segera bangun.
''Dian jangan kencang kencang kasihan bapak!''Kata Rumsi.
Dia melihat kakak nya lalu memeluknya dengan erat.
''Kalian harus sabar.Bapak memang sudah tidak ada bersama kita lagi.''Kata Rey lagi hatinya snagat sakit melihat dua orang yang dia sayangi kehilangan bapak yang selalu menguatkan mereka.
Rumsi memamgis begitu juga Dian.''Pak bangun pak.Jangan tinggalkan kami pak.Rumsi mohon pak bangun.''
''Kakak bohong,bapak hanya tidur.Kakak jahat!''Dian berdiri lalu memukul Rey dengan air mata yang membanjir.
Rey ikut menangis tapi dia diam saat Dian memukulnya walau bukan orang tua kandung tapi bagi Dian mereka adalah orang tuanya.
Rey memeluk Dian.''Jangan seperti ini Dian.Kakak tahu kalian terpukul tapi ini sudah takdir.''Rey memeluk adiknya yang mulai melemah.
''Rumsi..''teriak Fero yang melihat Rumsi melemah dan pingsan.
Rey segera melepas pelukan nya pada Dian dan mendekati Rumsi yang sudah luruh di lantai.
Damian membantu Rey,sementara Fero dan Dian saling berpelukan dan menangis.
''Bapak...''Lirih Dian dalam pelukan Fero.
Seseorang yang sedari tadi mengawasi mereka segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Carlos.
''Bagaimana?''Tanya Carlos.
''Mereka sedang berduka tuan.''Jawab pelayang yang ternyata adalah mata mata Carlos.
''Bagus!Awasi terus dan selalu beri aku kabar jangan ada yang terlewat sedikit pun!''perintah Carlos pada mata mata nya.
''Baik tuan.
Setelah memdapat informasi dari mata matanya Carlos merasa sangat senang.
''Hahahaha....kau pikir mudah mengetahui kebenaran ku Rey?Lihat lah aku sudah menyingkirkan duri yang menghalangi ku dengan sangat mudah seperti aku menyingkirkan kakek dan kedua orang tuamu.Hahahaha....''Tawa Carlos menggema di seluruh ruangan membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa ngeri.Sorot mata yang merah membuat Carlos tak ubahnya sama seperti iblis yang keluar dari neraka.
''Lihat saja aku akan membuat hidupmu dan wanita itu menderita.Kalian akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang kalian sayang.''Kata Carlos sambil menenggak segrlas minuman di tangan nya.
Bersambung...
__ADS_1