
Langit mendung di sertai gerimis membuat suasana pemakaman bu Naila terasa semakin pilu.Tangis Dian juga tidak mereda sedikitpun,beberapa warga pun mulai berkasak kusuk tentang penyebab kematian bu Naila serta ketidak hadiran pak Saiful dan Rumsi menjadi buah bibir warga yang memang suka mencari kesalahan orang lain.
Pak Saiful kondisinya semakin memburuk,dia terus berteriak kadang menangis dan kadang tertawa bisa di pastikan jika saat ini pak Saiful sudah kehilangan akalnya.Sementara Rumsi sendiri entah apa yang terjadi hingga dia tidak datang kepemakaman ibunya padahal sudah ada warga yang menyampaikan kabar duka itu pada keluarga bu Retno mungkin saja bu Retno tidak mengijinkan dia untuk pergi atau bu Retno tidak memberi tahu Rumsi tentang keadaan ibunya.
"Ini semua hasil dari perbuatan Rumsi,ibunya meninggal dan bapaknya jadi gila.Memang dasar dia anak yang tidak tahu di untung."
"Iya sekarang biar dia rasakan di jadikan pembantu sama bu Retno,itu lah akibat dari anak yang suka membantah perintah orang tuanya"
Beberapa orang terus saja menyumpahi Rumsi atas apa yang terjadi dengan keluarga nya padahal semua itu sudah takdir yang harus di jalani.
Fero membimbing Dian untuk meninggalkan pemakaman,walaupun awalnya Dian menolak dan berkata ingin bersama ibunya namun itu tidak mungkin apalagi kondisi gerimis seperti ini nanti dia bisa sakit.
"Ayo pulang Dian!Nanti kamu sakit dan enggak ada yang jagain bapak."Bujuk Fero
"Pulang kemana kak?Di sana sudah tidak ada siapa siapa,Dian sendirian sekarang."Perkataan Dian membuat Fero menangis lagi dalam sekejap semua berubah,Dian yang awalnya anak yang ceria kini sama sekali berbeda jauh dari sebelumnya ,lingkaran hitam di matanya serta mata nya yang bengkak membuat Dian jauh berbeda dari beberapa hari yang lalu.
"Masih ada kakak.Kamu ikut kakak saja ya!Kita tinggal bersama!"Fero tidak tega jika meninggalkan Dian sendirian di rumah itu takutnya Dian akan berusaha bunuh diri.
Dian tidak menjawab dan Fero mengartikan nya sebagai iya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Rumah Bram
__ADS_1
"Lepaskan aku mas!"Teriak Rumsi seraya menggedor pintu kamar gudang tempat dia di kurung."Tolong,,ijinkan aku untuk menemui ibuku mas.Tolong."Suara Rumsi nyaris habis karena terus berteriak tapi para penghuni rumah itu sama sekali tidak ada yang mau mendengarnya.
"Buka pintunya..Aku mau menemui ibuku!Buka..!"Kini tangan Rumsi sudah memerah tapi pintu itu tetap tidak terbuka.
"Ma,apa tidak sebaiknya biarkan dia melihat pemakaman ibunya untuk yang terakhir kalinya?"Tanya Prida yang sedikit tidak tega dengan keadaan Rumsi,bagaimanapun dia seorang wanita dan seorang anak.
"Ngomong apa kamu?Apa sekarang kamu berpihak sama dia?Ingat Prida, hutang mereka itu banyak jika dia di biarkan pergi lalu kabur siapa yang akan membayar hutang mereka?"Ucap Bu Retno tidak suka.
"Ya hutang nya makin banyak kan karena mama membungakan hutang nya jika tidak pasti sekarang hutang itu sudah lunas,jika seperti ini maka mama tidak akan mendapatkan apapun!"Prida memang suka berkata blak blakan itu yang membuat bu Retno kadang tidak ingin berbagi cerita dengan anak gadisnya ini.
"Itu bukan urusan kamu Prida!"Kali ini Heru yang bicara.
"Tapi apa yang Prida katakan memang benar ma.Bagaimana jika ada orang yang melaporkan perbuatan mama ke polisi ,mama bisa kena hukuman loh!"pak Bram juga kurang setuju dengan cara bu Retno menghukum Rumsi karena Rumsi juga tidak tahu apa apa.
"Kenapa papa jadi ikut ikutan belain perempuan itu,apa jangan jangan papa suka sama dia,iya?"Bu Retno tidak terima jika dia salahkan suaminya.
"Aku tidak mau punya menantu perempuan udik itu.Aku mau nya menantu Sella dan cucu juga dari Sella!"Bu Retno menghempaskan sendoknya meninggalkan ruang makan.
Begitu juga Heri setelah mamanya pergi dia juga ikut meninggalkan meja makan karena tidak ingin mendapat omelan dari papanya dan juga Prida.
Pak Bram dan Prida hanya menghela nafas melihat kelakuan bu Retno dan Heri itu,mereka seperti tidak takut karma saja.
"Kamu beri makan Rumsi ya.Bagaimana pun dia sedang hamil dan butuh tenaga!"Perintah pak Bram.
__ADS_1
"Iya pa."Prida menyiapkan sepiring nasi beserta lauknya lalu tiba tiba"Pa bukan kah kamar Rumsi di kunci dan kuncinya ada sama mama,Bagaimana Prida memberikan makanan ini?"Tanya Prida bingung.
Pak Bram memijit kening nya yang terasa mulai berdenyut dengan kelakuan istrinya itu.
Sementara Rumsi sendiri keadaan nya kini makin melemah sejak kemarin dia di paksa datang,dia baru makan sekali perutnya memang tidak merasa lapar tapi tubuhnya melemah dia terus di kurung sejak kemarin.
Rumsi sendiri juga belum mengetahui jika ibunya sudah meninggal,warga yang datang menyampaikan kabar hanya bertemu dengan bu Retno dan bu Retno tidak ingin memberi tahu pada Rumsi.Memang bu Retno ini jahat sekali.
"Akhhhh..".Rumsi menjambak Rambutnya sendiri dia merasa sangat frustasi dengan apa yang terjadi sekarang ,dia sangat ingat bagaimana kemarin ibunya tidak sadarkan diri dan darah terus mengalir dari kepalanya.
"Ibu huhuhu..Maaf kan anakmu yang bodoh ini bu!"Rumsi memeluk lututnya menenggelamkan kepalanya disana.
Dia melihat sekeliling kamar yang dia tempati tapi tidak menemukan celah sedikitpun untuk kabur.
"Hiks..hiks...Ibu,Maaf bu!Maafkan Rumsi jika saja Rumsi menurut apa kata bapak sama ibu semua ini pasti tidak akan terjadi bu..Rumsi menyesal bu!"Rumsi terus meminta maaf pada ibunya.
Di luar kamar Rumsi ,wanita setengah baya itu menangis,dia ingin menolong Rumsi tapi dia juga tidak punya keberanian karena dia juga hanya pembantu di rumah itu.
Saat Rumsi datang kemarin dia sedang libur menjenguk anaknya yang sakit jadi saat kemarin dia melihat Rumsi yang di perlakukan seperti itu dia sangat terkejut sekaligus kasihan dengan Rumsi.
"Ngapain kamu disitu?"Bantakan Bu Retno mengagetkan bik Jumilah.
"A..Anu bu.Itu anak yang ada di dalam dia terus menangis memanggil ibunya kasihan dia bu."Kata bi Jumilah dan di dengar oleh Rumsi di balik pintu.
__ADS_1
"Biar saja,lagi pula percuma sekalipun dia nangis darah Ibunya juga tidak akan dengar karena sekarang ibunya sudah di kubur."
Duarrrr