Mencintai Pembunuh Suamiku.

Mencintai Pembunuh Suamiku.
Bab 55.Mengancam Fero


__ADS_3

Rey menatap Damian wajahnya menjadi tegang seketika dia takut terjadi hal buruk pada Rumsi.


"Apa yang terjadi?Jangan katakan jika dia tidak selamat.Kau tidak boleh mengatakan itu!"Bentak Rey tanpa sadar.


"Tuan.."Ucap Damian menenangkan bos nya.


Rey menatap Damian lalu kembali menatap Dokter di hadapan nya"Ada apa?"Ulang Rey.


"Sebaiknya kita bicara di ruangan saya!Mari."Ajak Dokter itu karena ada hal penting yang harus dia sampaikan pada Rey.


Rey duduk sebelum sang empunya mempersilahkan"Katakan ada apa?"Tanya Rey


"Pasien mengalami keguguran"Ucap sang Dokter menjeda ucapan nya dan melihat reaksi Rey dan Damian yang sangat kaget.


"Kami harus melakukan tindakan cepat karena jika tidak maka nyawa ibu nya dalam bahaya lagi pula janin itu sudah tidak bernyawa sepertinya dia mengalami guncangan kuat di tambah lagi sebelum ini pasien juga baru kekuar dari rumah sakit dengan kasus yang sama."


"Bagaimana ini,apa yang harus kita katakan padanya?"Lirih Rey


"Bagaimana kondisi ibunya Dok?"Tanya Damian.


"Dia masih belum sadarkan diri.Kita akan melihat perkembangan nya beberapa jam lagi!"


"Baiklah Dok,kami sudah mengerti kalau begitu kami permisi ingin melihat kondisi Rumsi dulu!"Kata Rey tidak bersemangat.


Dokter itu mengangguk dan memepersilahkan Rey dan Damian untuk melihat Rumsi.


Pintu ruangan Rumsi dibuka perlahan nampak di atas ranjang wajah Rumsi yang pucat,matanya tertutup rapat terlihat sangat tenang saat dia dalam kondisi seperti ini tapi entah apa yang akan terjadi jika nanti dia bangun dan menyadari jika janinnya sudah tidak ada lagi.


"Apa yang harus kita lakukan Dam?Bagaimana caranya kita menjelaskan tentang calon anaknya padanya?''Kata Rey dengan tatapan matanya yang terus mengarah ke wajah pucat Rumsi.


"Saya juga tidak mengerti bagaimana mengahadapi mereka nanti,diusia yang masih sangat muda mereka sudah mengalami begitu banyak ujian hidup.Kasihan sekali.''


"Sebaiknya kita kembali ke rumah itu,kita harus melihat cctv yang terpasang disana agar kita mempunyai bukti kejahatan pria itu!"Ajak Rey


Damian setuju dengan apa yang di katakan Rey,bagaimanapun ini adalah kasus kekerasan.Entah mereka ingin melapirkan nya atau tidak iti tergantung pada Rumsi nanti.


Sepanjang jalan mereka hanya diam,kejadian yang menimpa Rumsi dan adiknya sangat membuat mereka berdua turut berduka.


"Lihat cctv di ruang tengah Dam!"


Damian memeriksa cctv dan memberikan nya pada Rey.Mereka melihat bagaimana Heri menampar Dian dan menarik paksa Rumsi yang terus saja memberontak.Mata Rey memerah menahan amarah,rahang nya mengeras.

__ADS_1


"Bajingan ini tak akan aku lepaskan!Cari dia sampai ketemu Dam jangan lapir polisi kita akan menanganinya sendiri sampah sepertinya tidak perlu mengotori tangan polisi!"


"Baik Tuan,saya akan memerintahkan anak buah kita untuk mencafi keberadaan pria ini."


Derrrttt Derrrttt


Suara ponsel membuat mereka terdiam dan mencari sumber suara.


"Ponsel siapa itu?"Tanya Rey seraya mendengarkan dengan teliti.


"Sepertinya dari tas itu Tuan"Tunjuk Damian ke arah tas kerja Rumsi.


Rey melihat ke arah yang di tunjuk Damian."Benar itu pasti pinsel Rumsi,cepat lihat ada apa!"


Damian mengambil ponsel itu terlihat nama Fero yang ada di layar.


"Angkat saja!"


"Hallo...:"


"Loh ini siapa,dimana pemilik ponsel ini?"


"Anda siapa dan ada perlu apa dengan pemilik ponsel ini?"Tanya Damian balik.


Damian menyerahkan ponsel Rumsi kepada Rey"Sahabatnya ingin menyampaikan kabar tentang bapaknya Rumsi Tuan."


Rey menerima ponsel itu''Ada apa?Saya bos nya Rumsi''


"Maaf Tuan apa Rumsi nya ada?''Tanya Fero karena merasa khawatir dengan keadaan Rumsi.


"Saat ini kondisinya sedang tidak baik baik saja.Katakan ada apa dengan bapak nya Rumsi?''


"Disini kondisinya bapak semakin memburuk Tuan.Kami berencana memindahkan bapak ke kota agar Rumsi juga bisa memantau nya tapi sampai sekarang Rumsi belum.memberi kabar apa apa pada saya.''


Rey tampak sedang berpikir apa yang harus dia putuskan sekarang''Baiklah saya akan urus semua nya, besok bapaknya Rumsi akan dipindahkan.''Akhirnya Rey memutuskan untuk membantu kekuarga Rumsi.


Fero merasa senang mendengarnya namun tiba tiba''Tuan apa yang terjadi dengan Rumsi?''


"Emmm Suaminya datang dan membuat keributan sekarang Rumsi dan Dian sedang di rawat di rumah sakit.''


"Ya ampun Rumsi..''Fero merasa sangat sedih mendengar keadaan Rumsi dan Dian seperti itu.

__ADS_1


"Baiklah Tuan,terimakasih karena sudah membantu Rumsi.''


Fero yang kini sedang berada di jalan merasa sedih,kabar yang dia dapatkan dari bos nya Rumsi sangat membuatnya bingung disini kondisi pak Saiful juga sangat buruk dan fisana kedua anaknya juga sednag dirawat.''Memang keterlaluan sekali Heri,Apa mereka tidak takut dengan karma yang akan mereka dapatkan?''Gumam Fero.


"Tante itu orang nya!"Kata Yoga pada Bu Retno ternyata mereka pergi mencari Fero untuk mendapatkan alamat Rumsi.


Fero yang belum sadar jika ada orang yang sedang bersiap menangkapnya dari belakang masih bersikap santai.


''Dapat kamu!"Kata Bu Retno .


Fero kaget karena tiba tiba kedua tangannya di pegang dari belakang.


''Siapa kalian,mau apa lepaskan tanganku!"Bentak Fero.


''Akan aku lepaskan setelah kamu mengatakan dimana alamat Rumsi pada kami!"Kata bu Retno


"Oh anda pasti mamanya Heri kan?pantas saja Heri seperti itu ternyata dia menurun pada sipat anda!"Ejek Fero.


Bu Retno yang mendengarnya menjadi geram.''Dasar perempuan kurang ajar,jangan banyak bicara katakan saja dimana alamatnya atau kamu lebih memilih kondisi bapak nya Rumsi lebih parah dari ini?''ancam bu Retno.


"Apa maksud anda?''


"Menurutmu apa penyebab pak Saiful itu keadaan nya semakin memburuk?''Kata bu Retno seraya tersenyum jahat.


"Jadi..?"Kata Fero terputus.


"Ya..Makanya sekarang cepat katakan dimana alamat Rumsi atau kau akan melihat laki laki itu semakin parah atau bahkan kehilangan nyawanya''


Fero merasa ngeri ternyata keluarga Heri sangat jahat,Fero cepat berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang.


"Cepat!"Bentak bu Retno.Sementara Yoga hanya tersenyum melihat Fero yang tidak berdaya di tangan mamanya Heri.


"Iya iya..."Akhirnya Fero mengatakan alamat Rumsi tapi bukan alamat yang baru melainkan alamat yang lama toh mereka tidak tahu apa apa.


"Kamu yakin tidak memberikan alamat yang salah?''Tanya Bu Retno curiga


"Tidak itu alamat yang aku berikan pada Heri''Ucap Fero dengan nada kesal karena lengan nya kini memerah karena cekalan bu Retno sangat kuat.


"Awas saja kalau kamu berbohong,maka laki laki tua itu tidak akan selamat!"Ancam bu Retno sebelum pergi bersama Yiga meninggalkan Fero.


"Terserah,cati tu Rumsi sampai botak kepala kalian!"Gumam Fero.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2