Mencintai Pembunuh Suamiku.

Mencintai Pembunuh Suamiku.
Bab 15.Datang menemui Rumsi


__ADS_3

Karena terlalu sering menangis,pagi ini kepala Rumsi rasanya sangat sakit.Berdenyut seperti akan meledak saja dia juga lupa makan malam karena kata kata yang Heri lontarkan padanya membuatnya jadi tidak berselera.


"Uhh,Sakit sekali kepalaku ya tuhan!"Rumsi memijit mijit kepalanya meringis menahan sakit.


Rumsi tetap berusaha bangkit karena pekerjaannya tidak bisa di tunda tapi rasanya sangat sakit."Sebaiknya aku istirahat dulu sebentar,ini juga masih terlalu pagi!"Rumsi yang tidak tahan dengan sakit kepalanya memutuskan untuk kembali membaringkan tubuhnya di kasur.


Saking sakitnya Rumsi malah ketiduran bahkan suara teriakan bu Retno di balik pintu kamar nya tidak di dengar Rumsi.


Bugh...Bughh


Sudah berkali kali Bu Retno menggedor tapi hasilnya tetap sama Rumsi tidak juga bangun,akhirnya bu Retno membuka saja pintu kamar Rumsi dan sangat terkejut melihat Rumsi yang masih tidur pulas.


Dengan emosi bu Retno kembali ke dapur mengambil segayung air untuk membangunkan Rumsi.


Byurrrr


Hah...Hahhh


Rumsi gelagapan saat tiba tiba wajahnya di siram air saat tidur,kepalanya yang berdenyut kini semakin berdenyut.


"Bu..!"Mata Ŕumsi mengerjap kaget melihat ibu mertuanya masih memegang gayung kosong karena airnya sudah di siramkan ke wajah Rumsi.


"Enak bener kamu ya?Jam segini masih tidur majikan sudah bangun tapi pembantunya malah males malesan."Nada bicara ketus bu Retno semakin membuat Rumsi pusing.


"Maaf bu,kepala Rum sakit sekali.Tolong ijinkan Rum buat istirahat nanti kalau kepala Rum sudah mendingan Rum akan kerjakan semua pekerjaan rumah!"Lirih Rumsi


"Enak saja kamu ya.Disini kamu itu gak punya hak,kamu cuma punya kewajiban buat mengurus rumah ini, lagi pula bapak kamu itu punya hutang yang belum di bayar sama sekali jadi jangan malas malasan.Cepat bangun dan bersihkan seluruh rumah ini!"Bu Retno berteriak teriak sampai semua orang mendengarnya.


Heri yang mendengar teriakan mamanya pun bangun dari tidurnya untuk melihat apa yang terjadi.


Heri mengucek matanya yang masih mengantuk"Ada apa sih ma?pagi pagi teriak teriak kayak di hutan aja?"

__ADS_1


"Kamu lihat dia.Jam segini bukan nya bangun malah enak enakkan tidur!"


"Mas,kepala ku sakit.Rum cuma ingin istirahat sebentar saja!"Rumsi lupa jika di sini dia tidak punya tempat mengadu.


"Gak usah manja,biasa hidup susah saja banyak tingkah baru pusing begitu aja udah mau istirahat segala.Tuh di dapur ada obat, minum sana!.Abis itu bereskan pekerjaan kamu!"Heri meninggalkan Rumsi yang sudah menangis,dia tidak menyangka jika Heri sama sekali tidak peduli padanya.


"Denger sendirikan.Udah sana bangun urus pekerjaan kamu!"


Rumsi menghapus airmatanya,dia segera membersihkan badan nya dan mengganti bajunya walau kepalanya terasa seperti di timpa batu berton ton namun dia tidak punya pilihan lain.


Setelah selesai membersihkan dirinya Rumsi segera berjalan ke dapur kadang sesekali dia menggoyangkan kepalanya yang terasa sakit.


Di dapur Rumsi melihat ibu mertuanya sudah menyiapkan sarapan di meja makan.Ternyata ibu mertuanya sudah selesai.


"Ehh...Ehhh Kamu mau ngapain?"Tanya bu Retno menghentikan tangan Rumsi yang akan menyendok nasi.


"Maaf bu.Rum mau minta sedikit nasi agar Rum bisa minum obat!"Ucap Rumsi sambil menunduk.


Tanpa membantah lagi Rum meninggalkan pikiran nya ingin menyendok nasi.Dia kembali ke dapur untuk meminum air dan meminum obat sakit kepala.


Shhsshh


Rumsi menemukan obat tapi sedikit ragu karena dari tanggalnya sudah kadaluarsa walau hanya beberapa hari lalu.


Karena sudah tidak tahan lagi terpaksa Rumsi meminum obat itu dengan perut yang kosong sejak malam tadi.Saat ini Rumsi sedang membersihkan halaman depan rumah Heri,Perutnya terasa seperti di aduk aduk,kepalanya bahkan masih berdenyut akhirnya Rumsi jatuh pingsan dan Heri maupun kedua orang tua dan adiknya tidak tahu,mereka asyik sarapan tanpa memperdulikan Rumsi sama sekali.


"Ma,Rumsi kok gak kelihatan?"Tanya Prida


"Hemm, untuk apa kamu nanyain dia?paling dia lagi bersihin halaman depan dan sengaja di lama lamakan."


Mereka sudah selesai sarapan tapi Rumsi juga belum kembali.Karena penasaran mereka melihat ke halaman depan,mereka terperanjat melihat Rumsi yang tergeletak di sana.

__ADS_1


"Prida cepat ambil air di ember!anak ini makin ngelunjak sepertinya."Retno sangat geram.


Prida sudah datang dengan se ember air di tangannya.


Byurrr...Byurrr


Dua kali Retno menyiramkan air di wajah Rumsi.


"Hei,Apa yang kalian lakukan hah?"Suara pak Saiful membuat mereka terperanjat tidak terkecuali Heri namun tidak berlangsung lama.


"Biadap!"Kesal Pak Saiful mendorong bu Retno hingga dia terhuyung nyaris jatuh.Bu Naila menangis melihat putrinya di perlakukan seperti binatang di rumah mertuanya.


"Hikss Rumsi bangun nak!Hikss..Pak badan Rumsi panas!"Tangis bu Naila pilu seraya mengankat kepala Rumsi dan membawanya kepangkuan nya.


"Dasar tidak punya hati kalian.Dia itu menantu kalian tapi kalian memperlakukan nya seperti ini!"Pak Saiful berteriak karena kesalnya.


"Kamu tidak punya hak lagi karena Heri sudah menikah dengan anakmu yang udik itu!"


"Tapi kalian tidak ber hak memeperlakukan dia seperti itu."


"Lalu kami harus apa hah?Kami tidak sudi mempunyai menantu seperti anakmu itu,masih untung aku mengijinkan Heri menikahi anakmu yang sudah hamil di luar nikah!"Bu Retno tidak mau kalah,walau kini beberapa orang sudah melihat pertengkaran mereka karena terjadi di luar rumah.


"Anak ku begini juga karena ulah anakmu yang tidak bermoral itu!"Bu Naila ikut bicara tidak tahan dengan sikap bu Retno yang tidak merasa bersalah sedikit pun.


Retno, Bram dan Prida menatap wajah Heri yang seperti tikus ketahuan belangnya.Namun tetap saja mereka tidak mau menerima Rumsi.


" Dia itu laki laki jadi sudah wajar jika nakal.Tapi anakmu itu perempuan harusnya bisa menjaga dirinya sendiri bukan seperti wanita murahan yang mau saja jika di ajak laki laki buat melakukan hal yang tidak baik."


Bisik bisik tetangga bu Retno semakin santer terdengar.Bu Naila tidak tahan dengan apa yang dia dengar air matanya sudah membanjir sementara Rumsi belum juga siuman.


"Pak,sudah !Sebaiknya kita bawa Rumsi ke puskesmas."Bu Naila lebih mengutamakan anaknya dari pada meladeni mulut bu Retno yang memang tidak pernah mau kalah jika bicara.

__ADS_1


"Tolong bantu kami pak,bu!"Kata bu Naila pada tetangga bu Retno disana.Sebagian orang bergerak juga membantu membawa Rumsi ke puskesmas terdekat.Sementara keluarga Retno tidak peduli sama sekali dengan keadaan Rumsi dan calon cucu mereka.


__ADS_2