Mencintai Pembunuh Suamiku.

Mencintai Pembunuh Suamiku.
Bab 16. Bu Retno mengancam pak Saiful


__ADS_3

Rumsi tengah di rawat seorang bidan di desa itu.Pak Saiful sedari tadi hanya diam entah apa yang tengah di pikirkan pria tua itu.Tak terlihat sedikitpun ada airmata di wajahnya tapi gurat kegelisahan jelas terpancar dari wajah tuanya.


Memikirkan bagaimana nasib anaknya juga gunjingan yang akan Rumsi dapatkan setelah ini,Pak Saiful duduk sambil menatap wajah istrinya yang penuh dengan airmata.


"Sudah bu,jangan menangis terus nanti kamu sakit!"Pak Saiful tidak bisa membujuk istrinya dia hanya mencoba menenangkan istrinya yang terlihat sangat lelah.


"Airmataku tidak mau berhenti pak.Bagaimana nasib anak kita nantinya?"Bu Naila tidak bisa menyembunyikan rasa hancur di hatinya,mengetahui putrinya hamil saat masih di bangku sekolah saja sudah menghancurkan hatinya dan kini dia melihat sendiri bagaimana keluarga suami anaknya memperlakukan nya seperti binatang.Hati ibu mana yang tahan,sungguh bu Naila tidak sekuat itu untuk tidak meratap.


"Kita pikirkan nanti ya buk.Sekarang bukan saat yang tepat."Pak Saiful memeluk istrinya berharap dengan pelukan nya bisa memberi kekuatan untuk wanita yang selama ini menemaninya.


Pintu ruangan tempat Rumsi sedang di rawat terbuka,tampak seorang wanita keluar dari sana.


"Bagaimana kondisi anak kami bu?"Tanya Bu Naila tidak sabar.


"Saat ini dia sedang istirahat,Sepertinya dia tidak makan sejak kemarin dan di tambah di seperti keracunan sesuatu tapi sekarang kondisinya dan janinnya baik baik saja,demam nya juga sudah mulai turun."Jawaban bidan itu membuat kedua orang tua Rumsi menjadi sedikit lega.


"Baik bu,trimakasih."Setelah menjelaskan kondisi Rumsi,bidan itu segera meninggalkan mereka disana yang juga segera melihat kondisi Rumsi.


Bu Naila tidak tega melihat wajah anaknya yang terlihat pucat sekali.


"Bahkan mereka tidak memberinya makan pak!Mereka benar benar tidak memiliki hati."Tangis bu Naila kembali pecah yang di lakukan pak Saiful hanya mengelus punggung istrinya.


Tangan Rumsi bergerak beriringan dengan matanya yang perlahan terbuka.


Rumsi perlahan menetralkan pandangannya dia masih belum yakin jika di hadapan nya ada kedua orang tuanya.


"Rum,bagaimana keadaan mu?"Tanya bu Naila pelan.

__ADS_1


Rumsi masih memicingkan mata seakan takut jika itu hanya halusinasinya saja.


"Nak,apa kamu masih merasa pusing?"Suara ibunya terasa jelas di gendang telinga Rumsi.


"I..Ibu?"Tanya Rumsi terbata.


"Iya nak,ibu disini"Bu Naila mengelus pipi Rumsi lembut.


"Bapak,Ibu hikss maafkan Rumsi bu huhuhu,,Rumsi berdosa.Rumsi salah,maafkan Rumsi pak,buk.Hiks..!"Rumsi berusaha bangun agar bisa menyentuh kaki kedua orang tuanya.Tapi di larang oleh ibunya.


"Pak..Rumsi minta ampun pak.Rumsi sudah mengabaikan perintah dari bapak hikss..Mereka jahat bu,mereka tidak mengenggap Rumsi menantu mereka..Hikss..Rumsi menyesal hikss."Rumsi menangis meraih tangan bapak dan ibunya.


"Sudahlah nak,sekarang kamu pulang ya kerumah kita !Jangan kesana lagi"


"Tidak bisa!"Suara seorang wanita terdengar sangat tegas membuat Rumsi dan kedua orang tuanya terperanjat.


"Tentu saja membawanya pulang,Dia itu sudah menikah dengan Heri jadi dia harus ikut saya pulang!"


"Sudahlah bu jangan sok menjadi seorang mertua jika selama dia disana saja kalian menganggapnya sebagai pembantu.Lagian anda sendiri yang bilang jika Rumsi bukan lah menantu kalian jadi biarkan kami membawanya pulang ke rumah kami!"Pak Saiful sadar tempatnya berdiri sekarang adalah fasilitas umum jadi sebisa mungkin dia menahan diri agar tidak tersulut emosi.


Sementara bu Naila memeluk anaknya erat seakan takut jika tiba tiba Rumsi di bawa mereka.


"Kami memang tidak pernah menganggapnya sebagai menantu tapi dia tetap istri Heri jadi sudah menjadi kewajibannya untuk melayani Heri bukan malah seenaknya saja mengabaikan tugasnya!"


"Lalu bagaimana dengan tugas anak ibu sendiri?Dia hanya menonton anak dan istrinya di perlakukan dengan tidak adil oleh orang tuanya sendiri.Jadi jangan menuntut tugas anak saya sementara anda sendiri tidak bisa mengingatkan apa saja tugas suami pada istrinya."


"Aku tidak peduli ,Rumsi harus ikut dengan saya kalau tidak maka saya akan laporkan kalian kepolisi!"

__ADS_1


"Rumsi tidak akan pergi dengan anda!"Suara pak Saiful naik satu oktaf.


"Dengar ya!"Jari telunjuk bu Retno sudah berada tepat di depan wajah pak Saiful.Sementara pak Saiful sendiri merasa geram karena sikap bu Retno yang tidak berperasaan."Kamu punya hutang yang banyak sama kami,jadi selama hutang itu belum kalian lunasi maka anak kalian harus bekerja di rumah kami.Kalau tidak maka kami bisa menuntut kalian dan menyeret kalian ke kantor polisi.Apa kamu lupa kamu menandatangani surat perjanjian?"Seringaian muncul di bibir bu Retno.


Pak Saiful sadar saat meminjam uang pada bu Retno dan pak Bram mereka memang menyerahkan sebuah kertas yang berisi surat perjanjian hutang piutang yang di buat oleh mereka sendiri.Salah satunya jika mereka tidak bisa membayar hutang dalam tempo waktu yang di tentukan maka rumah mereka akan di ambil alih.


Jika mereka tidak punya rumah maka mereka harus siap menanggung cap sebagai penipu dan akan di laporkan ke polisi.Pak Saiful merasa hancur sekarang jika dia menahan Rumsi maka dia harus siap mendekam di penjara dan pasti kehilangan rumah mereka.Tapi jika dia menyerahkan Rumsi maka sama saja memasukkan anaknya ke kandang singa.


Sementara untuk melunasi hutang itu pak Saiful juga belum mampu.Rumsi menangis menatap bapak nya yang tampak tidak berdaya.


"Rumsi akan ikut ibu!"Jawab Rumsi.


Bu Retno tersenyum kemenangan."Anak kalian pintar juga ternyata.Sudah ayo cepat ikut!"Kata bi Retno lagi


"Tidak,jangan sekarang bu.Saya mohon Rumsi belum pulih dia baru saja sadar.Biarkan dia sembuh dulu bu!"Bu Naila mengiba.


Bu Retno menatap Rumsi yang wajahnya masih sangat pucat dia pun berpikir jika Rumsi di bawa sekarang dan dia pingsan lagi maka akan merepotkan dirinya juga.


"Baiklah,jika kau sembuh segara datang kerumahku jika tidak maka kau harus tanggung akibatnya!"Bu Retno berbalik keluar meninggalkan ketiga orang yang kini sedang mengangis pilu.


"Maafkan bapak nak!Karena bapak berhutang pada mereka kamu harus menanggung semua ini!"Lirih pak Saiful.


"Ini bukan salah bapak,tapi ini kesalahan Rumsi andai saja Rum tidak membohongi bapak dan ibu maka kita tidak akan berada dalam situasi seperti ini."


"Sudah lah,jangan saling menyalahkan diri sendiŕi.Sekarang kita pikirkan bagaimana caranya agar Rumsi tidak perlu ke rumah itu lagi dan hutang kita bisa dilunasi?"


Mereka terdiam memikirkan caranya agar bisa melepaskan Rumsi dari genggaman bu Retno dan keluarganya.Soal kehamilan Rumsi mereka sepakat akan menerimanya.

__ADS_1


Seandainya semua ini tidak terjadi,seandainya juga mereka tidak mengusir Rumsi.Banyak kata seandainya yang hanya akan menjadi seandainya.


__ADS_2