Mencintai Pembunuh Suamiku.

Mencintai Pembunuh Suamiku.
Bab 22.Ke makam ibu Naila.


__ADS_3

Dengan kaki yang sangat berat Rumsi terus memaksakan kaki nya untuk melangkah,sejak kemarin dia hanya makan sekali dan hari ini sisa tenaganya dia habiskan untuk menghajar bu Retno.Airmata yang sudah menganak sungai pun tak lagi di hapusnya karena percuma airmatanya akan terus keluar dàn keluar.


"Hari sudah hampir sore saat Rumsi tiba di rumahnya,sepi itu adalah kesan pertama yang Rumsi rasakan saat berdiri di halaman dan melihat ke arah rumahnya terlihat sekali jika rumah itu tidak ada yang menempati.


Bayangan kejadian kemarin menari nari di kepalanya,Rumsi tidak bisa untuk tidak menggumamkan nama ibunya.


"Ibu..Hiksss..Rumsi pulang!"Lirih nya,dia melangkah mendekat ingin menyentuh daun pintu tapi seseorang menhentikan nya.


"Heh Rumsi."Suara seorang wanita tetangga Rumsi mendekat.


Rumsi menunduk,menghapus airmatanya.


"Buat apa lagi kamu pulang hah?Kamu tahu karena kamu ibumu meninggal dan bapakmu sekarang jadi gila!"Mata tetangga Rumsi melotot sambil menunjuk nunjuk wajah Rumsi.


Rumsi tidak bisa menahan airmatanya"Enggak ibu pasti bohong,ibuku ada di dalam dia belum meninggal!"Rumsi berteriak tidak mau kalah.


"Di beritahu tidak percaya,kamu itu lah penyebab kematian ibumu jadi gak usah sok drama sedih sedih segala pasti kamu senangkan jadi tidak ada lagi yang melarang larang kamu lagi."Julidnya tetangga Rumsi sangat keterlaluan dia tidak iba sama sekali dengan keadaan keluarga Rumsi.


"Pergi!"Usir Rumsi tidak peduli lagi bahwa yang di usirnya adalah orang yang lebih tua.


"Huh Udah salah tapi gak mau salahin.Cari tuh adik kamu luntang lantung entah kemana gara gara kamu!"


"Pergiii..!"Rumsi benar benar frustasi mendengar ocehan tetangganya yang tidak berperasaan itu.


Setelah kepergian wanita julid itu, Rumsi segera mendorong pintu masuk ke rumahnya.Kondisinya masih sama seperti saat dia di bawa pergi secara paksa kemarin.


"Ibu..Bapak.Dian.!"Panggil Rumsi seraya menghapus airmatanya walau tidak mengurangi apa pun.


Masih terlihat bekas darah ibunya disana"Hikss ibu..Ini Rumsi bu hiksss."Tak tahan lagi Rumsi berlari keluar menuju ke pemakaman,hari sudah mulai gelap tapi Rumsi tidak peduli dia terus berlari hingga tiba di sebuah makan yang masih basah kakinya membatu disana matanya terasa semakin panas tubuhnya bergetar dia luruh ke tanah gundukan itu.


"Ibuuuuu......."Raung Rumsi memegang nisan yang tertulis nama bu Naila.

__ADS_1


"Ibuuu..Bangun bu,jangan tinggalkan Rumsi bu!"Rumsi meraung raung kini tangan nya tidak lagi memegang nisan tapi sudah mulai menggaruk tanah gundukan itu.


"Ibu..Enggak bu,ibu gak boleh ada di dalam! Ibu harus ikut Rumsi bu.Rumsi minta maaf bu,Ibu gak boleh pergi!Ibuuuuuu.." Rumsi terus terusan berteriak kini suaranya sudah benar benar habis begitu juga dengan tenaganya Rumsi pingsan memeluk gundukan tanah makam ibunya yang basah.


Rumsi tersadar dari pingsan nya saat hari sudah sangat gelap,dia teringat Dian yang entah dimana di pandangnya makam ibunya sekali lagi tidak ada rasa takut sedikitpun hatinya seperti mati sekarang.


"Ibu maafin Rumsi,Rum harus cari Dian sama bapak, sekali lagi maafin Rum bu.Hikss..!" Dengan langkah yang sempoyongan menahan lapar Rumsi kembali pulang ke rumahnya.


Dia kini duduk di atas ranjang kedua orang tuanya,dia memeluk selimut yang biasa di gunakan ibunya tanpa menyalakan lampu sedikitpun.Rumsi yang dulu takut gelap kini sudah berubah mungkin inilah gambaran hatinya yang sudah menghitam karena ulah Heri.


Rumsi tidak tidur sama sekali ,saat matahari mulai menampakkan cahaya nya Rumsi keluar dan mengambil tas yang sejak kemarin dibawanya.


Dirogohnya uang yang di berikan pak Bram dan Prida serta uang yang pernah Heri berikan dulu padanya.Di pandanginya uang itu yang jumlahnya sekitar hampir empat juta.


Setelah masukan uang itu kembali Rumsi segera membersihkan wajahnya dan pergi dari rumah itu untuk mencari Dian sebelum warga melihat nya dan menghinanya tanpa ampun.


Kreeettt


"Fero,saat terakhir kali ada Fero di rumah siapa tahu Dian ada di rumah Fero,aku akan kesana mencarinya!"Dengan tertatih dan perut yang sangat sakit Rumsi berjalan ke rumah Fero yang lumayan jauh dari rumahnya.


Rumsi tidak peduli jika kini kakinya sudah lecet karena sejak kemarin dia terus berjalan.


Hari sudah sangat terang saat Rumsi tiba di rumah Fero.


"Fer..Fero...!"Panggil Rumsi lemah sesekali dia meringis menahan sakit di perutnya.


BRUKKK


Tak tahan lagi Rumsi roboh di depan pintu rumah Fero.


"Rumsi..!"Fero yang membuka pintu sangat terkejut melihat tubuh Rumsi sudah tergeletak di lantai.

__ADS_1


"Dian,,Dian.Bantu kakak!"Teriak Fero memanggil Dian.


"Ada apa kak?"Dian yang sedang di belakang terkejut mendengar teriakan Fero hingga dia langsung berlari.


"Bantu kakak bawa kakak kamu ke dalam ,sepertinya dia pingsan!"


Dian pun tidak tega dengan kakaknya,walau pun dia marah tapi saat ini dia hanya punya Rumsi sementara bapaknya entah kapan sembuh dia juga tidak tahu.


Fero memberikan sedikit minyak kayu putih ke hidung Rumsi tidak lama kemudian Rumsi sadar.


"Fero dimana Dian?"Hal yang pertama di tanyakan Rumsi adalah adiknya dia takut terjadi hal buruk pada Dian.


"Dian disini kak!"Dian mendekat menggantikan posisi Fero duduk di sebelah Rumsi.


"Maafin kakak Dian,semua salah kakak!Ibu meninggal karena kakak,kakak yang sudah membuat ibu meninggal.!"Rumsi tidak kuasa menahan airmatanya begitu juga dengan Dian dan Fero.


"Sudah kak,semua sudah takdir kita harus iklas jangan menyalahkan diri sendiri lagi!"Dian kini menjadi lebih bijak setelah begitu banyak masalah yang datang dalam keluarganya tapi satu yang membuatnya trauma tanpa di sadari yaitu jatuh cinta.


"Rum,kamu kok bisa sampai disini?apa kamu kabur dari sana?"Tanya Fero.


Rumsi menggeleng"Aku di usir lebih tepatnya Pak Bram sengaja mengusirku agar aku terbebas dari sana.Pak Bram dan Prida juga memberikan uang padaku agar aku bisa pergi jauh dan jangan sampai bertemu dengan Bu Retno dan mas Heri."


"Ya ampun Rumsi,syukurlah ternyata pak Bram dan Prida tidak sejahat bu Retno dan Heri.Jadi kamu kok bisa pingsan?"


"Sejak Bu Retno membawaku,aku baru makan satu kali dan ini entah pingsan aku yang keberapa."Ucap Rumsi masih menangis.


"Astaga,tega sekali mereka!Dian cepat ambilkan makanan buat kakak kamu sama minumnya sekalian ya!"


Dian segera ke dapur mengambil makanan untuk kakak nya ternyata apa yang di rasakan Kakaknya jauh lebih buruk dari apa yang dia rasakan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2