Mencintai Pembunuh Suamiku.

Mencintai Pembunuh Suamiku.
Bab 23.Menemui pak Saiful


__ADS_3

"Makannya pelan pelan aja Rum!"Fero melihat Rumsi yang makan dengan sangat lahap dan seperti tidak mengunyah makanannya.Terlihat jika Rumsi benar benar lapar.


"Maaf!"Kata Rumsi tapi tetap terus melanjutkan makannya.Dian yang melihat kakaknya seperti itu mengusap sudut matanya.


"Terima kasih ya Fer,kamu sudah menjaga adikku.Kalau tidak ada kamu,aku tidak tahu Dian akan bagaimana?"Kata Rumsi setelah selesai makan dia menatap adiknya yang sedang membereskan piring kotor nya.


"Iya Rum gak apa apa,lalu sekarang apa rencanamu?"Tanya Fero.


"Aku akan pergi membawa Dian jauh dari sini!Aku tidak mau jika keluarga Heri menemukan aku atau Dian lagi!Benar apa yang di katakan pak Bram jika bu Retno tidak akan melepaskan aku begitu saja.Tapi sebelumnya aku akan melihat keadaan bapak dulu!"Rumsi menatap Fero tapi hatinya sedang memikirkan bagaimana selanjutnya hidupnya apalagi dengan keadaan bapaknya yang sekarang.


"Tapi kamu mau kemana? apalagi sekarang kamu lagi hamil,mencari kerja dengan keadaan yang seperti ini juga tidak mudah Rum."


Rumsi tampak berfikir apa yang di katakan Fero memang benar di tambah lagi dia tidak sekolah tapi jika dia tetap bertahan disini itu jauh lebih berbahaya tapi Rumsi masih bersyukur karena janin yang ada dalam kandungan nya tidak rewel juga sangat kuat di tengah keadaan ibunya yang sangat menyedihkan tapi dia tetap bertahan.


"Kamu benar Fer.Tapi tetap disini juga bukan pilihan.Dian juga masih sekolah,aku bingung harus bagaimana sekarang?"Mata Rumsi kembali memerah rasa menyesalnya datang lagi.


"Udah masalah sekolah Dian aku akan coba bantu kamu sebisa aku,kamu tenang saja ya!Yang penting aku bisa hubungi kamu."Fero punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah sekolah Dian,tapi untuk urusan sekolah Rumsi pasti sulit karena kabar Rumsi hamil sudah tersebar.


"Tapi aku tidak punya ponsel?Kamu tahu kan lagi pula bagaimana caramu menyelesaikan masalah Dian?"


"Aku punya ponsel jadul sih tapi masih bisa kalau buat sekedar telfonan dan kirim foto.Udah gak aku pake lagi kalau kamu mau itu bisa kita gunakan untuk saling menghubungi,Kamu mau?"Tanya Fero.


"Kamu baik banget Fero.Aku tidak tahu gimana caranya membalas semua kebaikan kamu ini.Maafkan aku Fer,aku pernah bicara kasar dan menuduh kamu yang macam macam!"Ucap Rumsi sudah menangis.

__ADS_1


"Rum,dengarkan aku! jika kamu ingin aku memaafkan semua yang sudah kamu katakan sama aku maka kamu harus menghapus airmatamu dan mulai sekarang jangan ada air mata kesedihan lagi,jadilah kuat!Sekarang saatnya kamu bangkit jangan lemah,ingat Rum kamu punya tanggung jawab di pundakmu sekarang,adik mu,calon anakmu dan juga bapakmu mereka semua bergantung padamu.Jadi mulai sekarang jadikan masalah yang menimpamu ini sebagai pecutan agar kamu bisa bangkit berdiri lebih kokoh dari sebelumnya!"Fero memberikan semangat pada Rumsi.Rumsi mengangguk paham rasa terharu dengan kata kata Fero mwnyeruak ke dalam hatinya dia memeluk Fero.


"Terima kasih Fer!"Ucap nya tulus.Dian yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka mengusap sudut matanya mereka harus kuat,harus jadi dewasa dalam menghadapi masalah.


"Kak."Panggil Dian.


"Ada apa Dian?"


Rumsi dan Fero melihat Dian seperti ada yang ingin disampaikan nya.


"Jika kita pergi,bagaimana dengan bapak?Apa kita akan meninggalkan bapak atau kita membawa bapak?"Tanya Dian yang khawatir dengan keadaan bapaknya.


Rumsi tersadar,bagaimana mungkin dia tidak berpikir ke arah sana justru adiknya yang mengingatnya.


"Sudah,untuk sementara biar bapak ditangani disini saja!Masalah biaya nya kakak akan bantu, nanti jika kalian sudah punya uang kalau kalian mau, bisa kirim untuk mengobati bapak.Fero selalu memberi solusi untuk setiap masalah Rumsi tapi Rumsi merasa tidak enak hati untuk terus merepotkan Fero yang statusnya hanya teman saja.


"Gak apa apa,lagi pula bapak di tempatkan bukan di rumah sakit mahal jadi biaya nya masih terbilang murah,makanya kamu jangan terus nangis aja,kamu harus semangat agar bisa mengobatkan bapak di rumah sakit mahal biar bapak cepat sembuh!"


"Baiklah,kalau begitu sebaiknya kita segera melihat bapak dulu dan besok pagi kita pergi dari sini.Kamu mau kan?"Ajak Rumsi pada Dian.


"Iya kak.Kalau memang ini yang terbaik Dian gak apa apa.Dari pada Bu Retno menemukan kita dan kita di siksa di sana Dian gak mau kak!"


"Kamu gak capek Rum,muka kamu masih pucet apa gak sebaiknya besok saja kita lihat bapak hari ini kqmu istirahat saja dulu!"

__ADS_1


"Enggak Fer,aku gak mau menunda keberangkatan ku soalnya bisa saja mas Heri belum puas menyiksaku dan malah mencariku sampai kesini itu justru akan berbahaya buat kita!"


Fero paham dengan ketakukutan yang Rumsi rasakan,dia menyetujui saja apa yang Rumsi inginkan.


Mereka bertiga bersiap untuk menjenguk bapak Saiful di rumah sakit,jantung Rumsi sepertinya belum siap melihat keadaan bapaknya tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika dia akan kuat karena tidak tahu kapan lagi dia bisa bertemu dengan bapaknya.


Empat puluh lima menit mereka tiba di rumah sakit tempat bapaknya di rawat.Mata Rumsi memanas tidak menyangka jika tempat ini akan menjadi tempat tinggal bapaknya dan semua ini terjadi karena kesalahan nya.


Fero menyadari perubahan Rumsi dia memegang bahu Rumsi seakan memberikan kekuatan pada sahabatnya itu dian juga mengangguk meyakinkan Rumsi jika semua akan baik baik saja.


Akhirnya Rumsi menguatkan dirinya dan mengikuti langkah Dian menuju ruangan tempat bapaknya berada.


"Pak,Dian datang sama kak Rumsi."Lirih Dian pelan.


"Rumsi."Pak Saiful mengenali Rumsi tapi tidak dengan Dian.


"Iya pak ini Rumsi."Rumsi mendekat,air mata yang sebenarnya sudah di tahannya sedari tadi tumpah ruah melihat keadaan bapaknya yang sangat jauh berbeda dari bapaknya beberapa hari yang lalu.


Lelaki itu kini terlihat sangat kurus,matanya sayu dan tatapan nya kosong melihat keluar jendela.


"Rumsi."Kata pak Saiful lagi


"Iya pak."Rumsi memegang tangan bapaknya mencium tangan pak Saiful yang masih dengan tatapan kosong nya.

__ADS_1


"Rumsi."Kata pak Saiful lagi.Mereka menangis melihat pak Saiful seperti itu.Rumsi bersujud di kaki pak Saiful tapi sama sekali pak Saiful tidak bergeming selain menyebut nama Rumsi.


"Hikss..Pak maafkan kesalahan Rumsi pak.Rumsi janji akan bekerja keras agar bisa mengobatkan bapak dan bapak bisa sembuh.Maafkan Rumsi karena Rumsi kita kehilangan ibu..Hikss..Ampuni Rumsi pak.!"Rumsi tidak kuasa menahan airmatanya dia menangis di kaki bapaknya.Sementara Fero juga sudah banjir airmata begitu juga Dian dia tidak tega dengan keadaan bapaknya.


__ADS_2