
Rumsi berjalan dengan tergesa gesa agar segera sampai ke kamar bapak nya.Dari mata nya tidak berhenti keluar cairan bening tapi kali ini bukan karena sedih namun karena dia sangat terharu atas apa yang baru saja Rey katakan.
''Bapak...''Rumsi langsung menghambur ke dalam pelukan bapak nya.Pak Saiful merasa heran kenapa tiba tiba anak nya menangis dan memeluk nya.
''Ada apa Rum?Apa nak Rey menyakitimu?''tanya pak Saiful tapi dia ragu juga dengan pertanyaan nya sendiri.
''Rumsi katakan ada apa?Jangan buat bapak berpikir yang tidak tidak.''Kata pak Saiful lagi karena Rumsi tidak kunjung menjawabnya.
Rumsi melepaskan pelukan nya dan menatap bapaknya setelah menghapus air matanya."Pak Rey meminta Rumsi untuk melanjutkan kuliah setelah kami menikah pak.''Jawab Rumsi dengan wajah berbinar.
Pak Saiful tercengang''Nak Rey meminta mu kuliah?"Tanya pak Saiful tidak percaya.
Rumsi mengangguk cepat karena merasa bahagia.
Pak Saiful merasa senang,dia juga ikut menangis lalu memeluk Rumsi.Rasa syukur tidak henti di panjatkan pak Saiful dalam hati nya.
"Bapak tidak tahu harus berkata apa lagi Rum.Rasanya semua ini seperti mimpi"Pak Saiful mengusap sudut matanya yang basah karena merasa terharu.
"Rumsi bahagia pak.Semua penderitaan yang pernah Rumsi alami selama ini Tuhan ganti dengan kebahagian.''Ucap Rumsi merasa bersyukur.
"Iya nak.Seandainya saja ibu mu masih ada dia juga pasti juga merasa bahagia sama seperti kita.''
Rumsi menganggukkan kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kabar kematian Heri dan masuknya Bu Retno ke dalam penjara telah sampai ke telinga Pak Bram dan prida, mereka tidak menyangka jika perbuatan Heri dan mamanya telah sangat keterlaluan hingga membuat Heri kehilangan nyawanya.
''Kita lihat mama ke kota ya pa!''Ajak Prida pada pak Bram.
"Iya nak.Papa juga tidak tega mendengar keadaan mama mu yang seperti ini,walau pun papa masih marah pada mama mu tapi papa masih sayang sama mama mu.''Jawab Pak Bram.
__ADS_1
''Iya pa.Sekarang Prida akan bersiap siap dulu!''
Pak Bram termenung di kamar nya dia tidak pernah berpikir sedikit pun jika keluarga nya akan hancur berantakan seperti ini karena perbuatan putra nya.Heri sudah meninggal dan istrinya kini mendekam di penjara dia merasa dirinya gagal menjadi seorang suami dan papa yang baik bagi istri dan anak nya.
''Pa,Prida sudah selesai.''Lamunan pak Bram buyar dengan kehadiran Prida yang sudah siap dengan koper kecil di tangan nya.
''Oh iya.Ayo kita pergi!Semoga kita tiba sebelum tengah malam agar tidak sulit mencari tempat menginap.''Pak Bram bangun dari duduk nya dan mengambil alih koper di tangan Prida,sekarang dia hanya punya Prida putri nya yang akan menjadi penguat nya di tangah kegagalan nya menjadi seorang papa.
Dalam perjalanan menuju ibu kota pak Bram hanya memandang keluar jendela,Prida terus mengamati papanya yang seperti nya sangat syok tapi Prida juga tidak bisa berbuat apa apa karen kabar yang mereka dapatkan juga membuat dirinya merasa frustasi.
Mereka tiba sebelum tengah malam,perjalanan yang melelahkan membuat kedua orang papa dan anak ini memutuskan segera mencari tempat menginap.
''Pa,papa baik baik saja?''tanya Prida mulai mengkhawatirkan papa nya yang sejak tadi hanya diam saja.
Pam Bram menoleh menatap anak nya''Papa gagal Prida.Papa gagal menjadi seorang suami juga gagal menjadi seorang ayah.''Pak Bram menangis memukul dadanya yang terasa sesak.
Mata Prida mengembun dia tidak tega dengan papa nya.Berarti sejak tadi papa menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi.
''Maafkan papa nak!''Ucap pak Bram.
Prida mengangguk''Sekarang papa istirahat ya!''bujuk Prida
Setelah memastikan papa nya tidur Prida baru keluar dan memilih tidur di kamar lain karena mereka menyewa dua kamar.
Pagi menjelang,suara kicau burung meramaikan suasana kota yang memang sudah ramai.Prida membuka matanya tapi dia sangat terkejut karena papanya sudah duduk di ranjang sambil menatap dirinya.
''Pa,papa sedang apa pa.Papa sakit?''Tanya Prida yang menyadari jika wajah papanya sangat pucat.
''Tidak nak.Papa hanya rindu dengan mu.Dulu saat kau masih kecil papa selalu menjaga mu,melihat mu tertidur nyenyak membuat papa merasa bahagia.''Ucap pak Bram dengan senyum mengembang di wajah nya.
Prida merasa sangat aneh dengan sikap papa nya pagi ini.Begitu terpukul kah papanha dengan semua kejadian ini hingga membuatnya menjadi tertekan.
__ADS_1
''Ya sudah,Prida bersih bersih duluya lalu Prida akan membeli sarapan untuk kita agar kita bisa segera menjenguk mama."Prida menyingkap selimut nya dan bergegas ke kamar mandi.
''Pa ,Prida beli sarapan dulu ya!''
''Tidak usah,kita pergi bersama saja sekalian kita menjenguk mamamu.''
''Oh,baik.Ayo kalau begitu!''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam selnya bu Retno terus menangis,dia merasa sangat marah pada Rumsi bahkan setelah apa yang terjadi dengan nya pada Rumsi semakin menggunung.Bu Retno terus menyalahkan Rumsi atas kepergian Heri putra kesayangan nya.Di tambah lagi bu Retno mendapat bully dari teman teman satu sel nya membuat bu Retno yang terbiasa hidup enak menjadi gila.
''Hei..pijit yang benar jangan menangis terus!''Bentak wanita bertato teman satu sel yang sangat garang.
Awal masuk bu Retno berani membalas tapi mereka memukulnya dan jatah makan nya di rampas membuat bu Retno lebih memilih menurut dari pada dia kelaparan.
Bu Retno hanya mengangguk dan kembali fokus memijit dari pada dia kena pukul lagi,badan tua nya tidak sanggup menerima itu.
'''Bu Retno ada yang berkunjung!''Kata penjaga lapas membuat bu Retno merasa senang setidaknya dia akan terbebas dari orang orang ini sebentar.
''Iya bu iya .''Jawab nya bersemangat.''Emm tapi siapa yang datang bu?''Tanya bu Retno lagi.
''Suami anda serta anak anda!''
Bu Retno terdiam tapi kemudian mengangguk.Bu Retno mengikuti petugas untuk menemui suami dan anaknya tentu saja dia sangat rindu dengan mereka.
''Mama!''Panggil Prida lirih begitu melihat mamanya yang terlihat lebih kurus dan berantakan.
Pak Bram menatap istrinya yang sudah beberapa bulan ini mereka tidak bertemu,wajah nya menjadi sendu melihat penampilan istrinya sekarang lingkaran hitam terlihat jelas di mata istrinya itu,badan kurus entah karena tidak selera makan atau memang bu Retno kurang makan.
Bersambung...
__ADS_1