
Rumsi sudah pulang karena keadaan nya semakin membaik namun wajah mereka semua terlihat murung tidak ada rona bahagia karena Rumsi sembuh.
Sampai beberapa hari pun mereka masih diam tidak banyak bicara.Rumsi kini berada dikamarnya tempat ternyaman jika dia sedang merasa lelah.
"Bagaimana pak?Apa yang harus kita lakukan agar Rumsi tidak kembali ke rumah mereka?"Bu Naila sangat mengkhawatirkan keadaan anak pertamanya itu.
"Bapak sendiri masih bingung bu.Bapak tidak ingin anak kita kembali kesana dan di perlakukan seperti binatang disana tapi bapak juga tidak punya uang untuk membayar semua hutang hutang kita ke mereka.Bapak gagal menjadi orang tua bu."Pak Saiful mengusap airmatanya dia berada di titik lemah dalam hidupnya terlepas dari kesalahan Rumsi semua adalah tanggung jawab nya.
"Jangan bicara seperti itu pak.Bapak sudah melakukan yang terbaik untuk kita,mungkin takdir ini yang harus kita jalani sekarang!Kita harus ikhlas!"Entah kenapa kali ini Dian bisa bicara bijak seperti itu.
Pak Saiful menatap anak bungsunya dengan tersenyum,setidaknya dia masih punya seorang anak yang bisa memberikan semangat di kala seperti ini.
"Trimakasih nak."
Tok..Tok...
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat jantung semua orang seakan ingin melompat keluar dari tempatnya.
Mereka saling lirik takut jika yang datang adalah bu Retno."Jangan di buka pak!"Kata Bu Naila gemetar ketakutan.
"Tapi orang di luar sana tidak berhenti mengetuk bu!"Jawab pak Saiful juga khawatir.
"Biar Dian intip dulu ya pak,bu siapa yang datang!"Tanpa menunggu jawaban dari orang tuanya Dian segera beranjak mengintip siapa gerangan yang datang.
Tak lama Dian kembali"Pak ,bu yang datang kak Fero teman sekolah nya kak Rumsi."Kabar dari Dian membuat orang tua itu menghembuskan nafas lega karena ternyata bukan yang mereka khawatirkan yang datang.
"Ya sudah nak buka pintunya dan suruh Fero masuk lalu kunci lagi ya pintunya!"Dian pun mengangguk dia paham dengan apa yang di khawatirkan kedua orang tuanya.
Fero sidikit heran melihat Dian langsung mengunci pintu begitu dia berada di dalam.
__ADS_1
"Kenapa di kunci Dian?"Tanya Fero curiga.
"Iya kak.Takut ada hama!"Jawab Dian asal
"Hama?"Fero menggaruk kepalanya yang tidak gatal dia justru bingung dengan jawaban yang di berikan Dian
"Sudah, kakak mau bertemu kak Rumsi kan?Ayo Dian antar ke kamarnya!"Dian menarik tangan Fero karena males jika Fero bertanya tentang hama.
"Pak..Bu..!"Fero menundukkan kepalanya menyapa kedua orang tua Dian dan Rumsi.
"Nak Fero,apa kabar?Tumben datang kemari ada apa?"Tanya Bu Naila.
"Oh,,Begini bu,guru menanyakan kenapa Rumsi tidak hadir kesekolah beberapa hari belakangan ini soalnya sebentar lagi akan ujian.
Kedua orang tua itu saling pandang ,Fero merasa ada yang aneh pada kedua orang tua Rumsi ini.
"Maaf bu.Ini ada apa sepertinya terjadi sesuatu?Apa Rumsi sakit?"Tanya Fero khawatir.
"Fero boleh lihat Rumsi bu?"Bu Naila tidak langsung mejawab tapi kembali melirik suaminya dan mendapat anggukan samar.
"Silahkan nak biar di antar Dian."Setelah mendapat ijin Fero segera mengikuti Dian melihat Rumsi.
"Kenapa di kasih ijin Fero melihat Rumsi pak.Takutnya nanti Fero tahu kalau Rumsi sedang ....."Bu Naila tidak meneruskan ucapannya karena khawatir ada yang mendengar.
Dian membangunkan kakak nya yang terlihat sedang tertidur mungkin efek kehamilan nya dan rasa lelah menyebabkan Rumsi mudah sekali mengantuk.
"Hemm.."Jawab Rumsi karena masih enggan membuka matanya entah kenapa matanya terasa lengket sekali.
"Ada kak Fero!"Bisik Dian.Sontak mata Rumsi terbuka lebar.
__ADS_1
"Fero..!"Rumsi melihat Fero sudah berdiri di sebelah ranjangnya..
"Fero..Maafkan aku Fer Hiks....Hikss...!"Rumsi kembali menangis dan memeluk Fero serta meminta maaf tentu saja hal itu membuat Fero bingung.Dia mengeryitkan alis nya merasa Rumsi sangat berbeda dari yang terakhir mereka bertemu.
"Rum kamu kenapa?"Fero mengusap punggung Rumsi yang menangis di pelukan nya.
"Kamu benar Fer.Aku sudah salah!"Rumsi melepaskan pelukan nya dengan mata yang sudah sangat basah.Sementara di luar pak Saiful dan istrinya yang mendengar suara Rumsi yang menangis segera beranjak takut terjadi sesuatu pada Rumsi.
"Kamu benar Fero kalau mas Heri itu jahat,sekarang aku sudah merasakan buah dari perbuatan ku sendiri.Maaf jika selama ini aku tidak mendengarkan nasihatmu jika saja saat itu aku menuruti kamu untuk menjauhi mas Heri maka nasib ku tidak akan seperti ini hikss..!"
Pak Saiful dan ibu Naila yang mendengar apa yang di katakan Rumsi pun paham jika selama ini Fero juga peduli dengan Rumsi.
Fero ikut menangis begitu juga bu Naila dan Dian sementara pak Saiful yang tidak menangis tapi bukan berarti dia tidak teriris hatinya melihat semua nasihat baik dari orang orang yang peduli justru di abaikan oleh anaknya.
Jika di tanya apakah pak Saiful masih marah pada Rumsi jawabannya pasti iya.Orang tua mana yang tidak marah jika anaknya dengan sengaja dan dengan sadar menentang perintahnya tapi dia juga tidak bisa memungkiri jika saat ini Rumsi butuh keluarganya butuh dukungan dan penguat agar dia tidak merasa di abaikan dan mengambil jalan pintas.
Rumsi pun menceritakan semua yang di alaminya selama tinggal dirumah itu dari mulai menjadikan nya pembantu bahkan menempatkan nya di gudang dan yang lebih membuatnya sakit Bu Retno sengaja mengundang calon istri Heri kerumah.Tidak hanya Fero kini semua semakin sedih, mendengar apa yang di katakan Rumsi saja sudah membuat hati mereka hancur apalagi Rumsi yang menjalaninya.
"Lalu sekarang kamu mau bagaimana?"Tanya Fero menatap Rumsi.
"Aku tidak tahu Fer,tapi jika aku tidak kembali maka bu Retno dan pak Bram akan memenjarakan bapak ku"Rumsi menatap bapaknya yang tengah menunduk.
"Maaf kalau boleh tahu berapa hutang bapak pada bu Retno?"Tanya Fero.
Pak Saiful ragu tapi ia berpikir kita tidak pernah tahu dari tangan siapa pertolongan itu bisa datang.Walau ragu pak Saiful menyebutkan juga nominal pinjaman nya pada bu Retno,sebenranya tidak terlalu besar tapi bagi keluarga Rumsi nominal itu sudah sangat banyak.
"Emm..Maaf pak,bu,Jika Fero bantu boleh?Fero punya tabungan dan belum akan Fero gunakan jadi jika bapak sama ibu mau bisa pakai uang Fero dulu.Kalau masalah bayarnya bapak sama ibu jangan khawatir bayar saja jika bapak sudah punya uang!"Fero berbicara hati hati takut menyinggung orang tua Rumsi dia juga sadar uang yang dia tawarkan bukan lah uang dari hasil yang baik tapi dia punya niat yang baik untuk membebaskan teman nya dari penjara terbuka bu Retno.
Mereka saling tatap bagaimana pun Fero hanya orang luar dan mereka juga tahu jika Fero bekerja keras sendiri untuk membiayai kebutuhan nya walau mereka tidak tahu apa yang di kerjakan Fero sesungguhnya.
__ADS_1
"Tapi nak,itukan uang tabungan mu bagaimana jika saat kau butuh tapi kami belum bisa mengembalikan nya?"Tanya Pak Saiful
"Bapak jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi,bisa jadi hal itu justru tidak terjadi."Fero mengembangkan senyum nya."Ini demi Rumsi pak,jangan sampai dia kembali ke rumah itu!"Bujuk Fero.