Mencintai Pembunuh Suamiku.

Mencintai Pembunuh Suamiku.
Bab 9. Positif


__ADS_3

Sedikit ragu tangan Rumsi mengulur saat tangan bidan Rahma juga terulur meminta alat tes itu.Jantung Rumsi seakan mau keluar dari tempat nya terlebih saat mata nya menangkap wajah orang tuanya yang terlihat tegang.Tergambar jelas kekhawatiran di mata mereka membuat Rumsi menyesali semua perbuatan nya,hanya Dian yang belum paham dengan apa yang terjadi.


Bidan Rahma terdiam menatap dalam Rumsi yang kini menundukkan kepala nya.Air mata terlihat menetes lalu bidan Rahma melihat Bu Naila dan Bapak Saiful yang kini terlihat tegang menunggu dia mengumumkan hasil tes tersebut.


Bidan Rahma kembali melihat alat tes yang ada di tangan nya seakan dia juga tidak siap untuk memeberitahuakannya,tapi bagaimana pun dia hanya menjalankan tugasnya saja.


"Maaf pak,buk.Sebelum nya saya pribadi ingin mengatakan agar ibu dan bapak tetap tegar."Bidan Rahma menjeda kalimat nya melihat orang tua itu yang kini sudah menitikkan airmata."Dari hasil tes ini menunjukkan jika dik Rumsi sedang mengandung!"Lirih bidan Rahma.


Jedaaarrrrr


Bagai di sambar petir disiang bolong Bu Naila dan pak Saiful sangat terkejut dengan kabar memalukan itu.Rahang nya mengeras,mata nya memerah seakan ingin menghancurkan semua yang ada di rumah itu.


Hancur sudah harapan yang dia bangun selama ini untuk Rumsi,Remuk sudah perasaan cinta yang besar untuk Rumsi kini pak Saiful merasa sia sia cinta dan harapan nya pada Rumsi mendengar kabar buruk ini.


Sementara bu Naila luruh ke lantai dan segera di pegang Dian pundaknya.Dian pun ikut menangis.Bu Naila memegang dadanya ,meremasnya seakan kabar yang di sampaikan bidan Rahma telah menikam tepat di jantung nya.


Rumsi sendiri tidak berani bergerak dari tempatnya,dia meremas ujung baju nya,airmatanya tidak bisa lagi dia bendung bagaimanapun ini adalah kesalahan nya jadi dia harus menerima apapun hukuman bapak nya.


Melihat situasi yang tidak lagi memungkinkan bidan Rahma memberanikan diri membuka suara."Pak,bu kalau begitu saya permisi dan tolong jangan bertindak gegabah!Bicarakan baik baik dengan kepala dingin."Bidan Rahma mencoba meredam emosi pak Saiful yang dia tahu belum tentu berhasil mengingat bagaimana disiplin nya pak Saiful mendidik anak anak nya.


"Bu.."Bu Naila melihat bidan Rahma yang akan keluar namun ucapan nya terhenti.


"Saya paham bu.Saya tidak akan mengatakan apapun pada orang lain."Setelah mendengar ucapana bidan Rahma ,bu Naila merasa lega.


Setelah kepergian bidan Rahma,Pak Saiful mendekati Rumsi yang sedang menangis.Di pandanginya anak gadis kebanggaan nya itu dalam dalam.


Plaakkkk


Bu Naila dan Dian sangat terkejut dan hampir tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.Selama ini bapak Saiful tidak pernah marah apalagi main tangan,ini adalah untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Rumsi yang jatuh tersungkur karena kerasnya tamparan bapak nya hanya bisa terus menangis sambil mengusap sudut bibir nya yang berdarah dan tidak berani melihat wajah bapaknya.


"Siapa laki laki itu?"Tanya bapak Saiful seakan enggan menyebut nama anaknya itu.


Rumsi masih diam tidak menjawab karena dia sangat takut melihat bapak nya.


"Jawab,jangan diam saja!"Bentakan Pak Saiful membuat Rumsi kaget.Bu Naila dan Dian kini hanya menangis sambil berpelukan.


"M..Ma..Mas..He..Heri..!"Jawab Rumsi terbata bata.


Jedaarrrr


Kabar kedua ini sungguh sangat membuat Bu Naila dan pak Saiful seperti ingin menghabisi Rumsi saja,bagaimana tidak orang tua itu sudah berkali kali memperingati untuk tidak dekat atau berhubungan dengan nya tapi Rumsi justru hamil dengan pria itu.


"Dasar anak tidak berguna.Bapak sudah melarang kamu berhubungan dengan nya tapi kamu justru hamil dengan dia?Dimana rasa patuh mu?"Bagai kesetanan pak Saiful menjambak Rambut Rumsi


"Ammpunn pak.Rumsi minta maaf hiks...Rumsi salah pak..hiks...hiks..."Rumsi memohon pada bapak nya yang sudah kehilangan harga dirinya karena perbuatan Rumsi.


"Hikkk....Hiksss .Jangan bilang begitu pak.Rumsi akan minta mas Heri bertanggung jawab pak.Dia janji akan menikahi Rum.Mas Heri bilang seperti itu pak."Dengan airmata yang menetes deras dan rasa sakit karena jambakan dan tamparan yang di belikan bapak nya Rumsi bangkit.


"Kamu pikir lelaki macam apa yang kamu bicarakan hah?"Bu Naila ikut menimpali


"Dia baik bu,Dia janji akan bertanggung jawab dan mau menikah dengan Rum karena Mas Heri cinta sama Rum."


Pak Saiful tidak habis fikir dengan cara berfikir Rumsi.Apakah dia tidak berpikir masa depan nya pasti hancur dan dia akan di keluarkan dari sekolah nya karena hamil tanpa suami.


"Sejak kapan kamu berhubungan dengan dia hah?"


"Hiks...hiks...Sejak Dian di rumah pakde."

__ADS_1


"Jadi kamu terlambat pulang bukan karena ada pelajaran tambahan tapi pacaran sama Heri?"


Rumsi mengenggukkan kepala nya karena tak lagi sanggup untuk membuka mulutnya.


Plakkkk


Satu lagi tamparan mendarat di pipi Rumsi,pak Saiful sangat emosi dengan pengakuan Rumsi jika selama ini dia sudah membohongi orang tuanya demi Heri,laki laki bajingan urakan yang tidak punya pekerjaan.


"Bapak kecewa sama kamu Rum.Mulai sekarang pergi dari sini dan jangan pernah kembali apapun yang terjadi.Kamu bukan lagi bagian dari keluarga ini!Anggap saja kekuarga mu sudah mati."Pak Saiful sudah kehabisan tenaga dan kata kata untuk memarahi Rumsi.Dia meninggalkan kamar Rumsi diikuti bu Naila.


Bu Naila berdiri di bantu Dian.Dia tidak tega sebenarnya melihat keadaan Rumsi tapi hatinya sangat sakit dengan apa yang sudah Rumsi lakukan.


Apalagi semua ini terjadi atas persetujuan Rumsi sendiri.


"Bu..Hikss...Maafin Rumsi bu.Jangan usir Rum bu!Rumsi menangis di kaki ibunya.Tapi nasi sudah menjadi bubur.


"Lepaskan Rum!"Bu Naila menarik kaki nya yang di pegang Rumsi


"Enggak bu.Ampuni Rum bu.Rum sadar kalau apa yang Rum lakukan itu salah."Air mata Rumsi jatuh di kaki ibu nya tapi tak akan bisa mengubah apa pun lagi.


"Lepas..!"Bu Naila membentak dan sedikit mendorong Rumsi.


Dian dan Rumsi kaget melihat sikap ibunya yang biasanya lembut kini jadi sangat marah matanya merah,sedih dan marah,kecewa semua tegambar di sana.


"Bu..."


"Aku bukan ibu mu!"Rumsi yang mendengar ucapan ibu nya menangis kejer.Rasa nya sakit di tolak oleh ibu nya bahkan rasa sakitnya mengalahkan dua tamparan bapak nya.


Naila keluar tapi sebelum benar benar melewati pintu dia berbalik."Selamat Rum,kamu sudah berhasil menghancurkan semua harapan kami.Semoga kamu baik baik saja di luar sana!"Serelah mengatakan nya Bu Naila keluar di bimbing Dian yang sedari tadi hanya menangis tanpa tahu harus bicara apa.

__ADS_1


Rumsi yang mendengar perkataan Ibu nya kini makin luruh di lantai.Dia menangis sambil memukul perut nya"Akkkhhhhh....."Teriaknya


__ADS_2