
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika bis yang di tumpangi Heri tiba di kota J.Walau tubuhnya merasa lelah tapi hatinya sangat senang karena akhirmya dia tiba juga di ibu kota dan sebentar lagi dia juga akan bertemu dengan wanita yang masih berstatus istrinya itu.Membayangkan Rumsi yang tidak akan bisa menolak permintaannya nanti membuatnya semakin bersemangat.
Bermodal alamat yang dia dapatkan dari Fero,Heri manaiki taksi agar segera sampai karena malam semakin larut di tambah lagi sepertinya akan turun hujan yang sangat lebat,Heri tentu tidak mau kehujanan di jalan apalagi sekarang perutnya juga lapar.
"Ke alamat ini pak!"Heri menyerahkan sepotong kertas yang ada di tangan nya pada sang supir.
Supir itu mengangguk tanda mengerti dan tahu alamat yang di maksudkan Heri.
"Baik mas.Ayo masuk!"Jawab supir itu.
Taksi melaju tidak terlalu kencang ataupun lambat.
"Datang dari mana mas?"Tanya sang supir yang mencoba bersikap ramah dan memecah kesunyian.
"Apa perlu saya jawab saya datang dari mana?"Tanya Heri dengan angkuhnya.
Sang supir yang terkejut mendengar jawaban Heri hanya bisa menghela nafasnya ternyata penumpangnya ini sangat arogan.
"Maaf mas!"Kata sang Supir.
Tanpa bertanya lagi Pak supir menambah kecepatan taksinya agar segera sampai ke alamat yang di berikan Heri.
"Sudah sampai mas."
"Oh,iya.Berapa?"Tanya Heri masih dengan sifat arogan nya.
"Delapan puluh lima mas!"Jawab Sang supir sesuai denga argo yang tertera.
"Mahal sekali.Cuma dari sana kesini saja.Jangan mengada ngada bapak ya!"
Pak supir menarik nafasnya dan membuangnya kasar.Malam ini dia ingin segera pulang agar tidak sampai kehujanan tapi penumpang nya ini malah sangat sombong tapi kere.
"Ini sudah sesuai mas.Harusnya lebih mahal lagi karena ini sudah hampir tengah malam.Lagian kalau mas gak punya uang jangan sok sok an naik taksi!"Jawab sang supir yang kesal dengan sikap Heri.
"Sembarangan,nih!Ambul tuh sekalian kembalian nya biar bapak tahu saya punya uang!"Heri melemparkan uang selembar merah pada sang supir.
__ADS_1
"Terserah!"Pak supir yang sudah terlanjur kesal pun mengambil uang yang di lemparkan Heri tanpa mengucapkan terimakasih lalu melajukan taksinya meninggalkan Heri yang masih menggerutu di tempatnya.
"Dasar.Huh."Omel heri."Duh ini rumah nya yang mana ya?"Gumam Heri akhirnya setelah taksi yang tadi di tumpanginya telah menjauh.
Heri kembali melihat potongan kertas yang ada di tangan nya dan kembali melihat ke sekeliling.
"Duh gimana ini?yang mana kosan Rumsi mana sudah malam.dan tidak ada orang.Mau hujan lagi.Akhhh..!"Heri mengomel sendiri karena.tidak mudah menemukan alamat Rumsi karena ini sudah tengah malam dan cuaca sangat mendung sehingga tidak ada orang yang lewat.
Heri masih menunggu disana sesekali.dia duduk di bangku kosong yang ada disana sambil terus menerka nerka dimana kiranya kosan Rumsi.
Duarr..
"Astaga!"Kata Heri yang kaget mendengar suara petir yang tiba tiba menggelegar.
"Duh ini rumah yang mana sih?Gak mungkin kan aku ketuk satu persatu?Apes mana laper lagi!"
Tiba tiba ada seseorang yang sedang berlari lari kecil sepertinya dia juga sedang terburu buru pulang agar tidak kehujanan,tidak menyia nyiakan kesempatan Heri segera menemui pria yang sedang melewatinya.
"Mas,tunggu sebentar!"Panggil Heri.
"Begini mas,saya mau tanya apakah alamat ino benar?"Heri menyerahkan alamat yang sejak tadi dia pegang.
"Benar mas.Alamat nya disini!"Jawab Pria itu setelah melihat alamat yang di berikan Heri.
"Kira kira mas kenal tidak dengan wanita yang bernama Rumsi?"Tanya Heri langsung.
"Pria itu tampak berpikir atau mungkin mengingat ingat nama yang Heri sebutkan."Maaf mas,saya tidak kenal karena orang yang kos disini sering gonta ganti jadi saya kurang laham.Tapi jika memang mas sangat perlu mas bisa tanya sama pemiliknya langsung mas.Itu tu rumahnya tapi biasanya jam segini sih orangnya sudah pada tidur!"Jawab pria itu.
Heri melihat rumah yang di tunjuk pria itu sebagai rumah pemilik kosan itu"Oh iya terimakasih ya mas."Kata Heri
"Iya mas.Sama sama,saya pulang dulu mas sudah mau hujan!"Ucap pria itu pamit.
Heri masih diam sambil menatap rumah pemilik kontrakan tempat Rumsi tinggal dia sedikit ragu ingin memanggil penghuni rumah itu karena hari sudah sangat larut tapi dia tidak punya pilihan.Pelan dia berjalan dan beruntungnya pagar rumah itu tidak terkunci entah memang biasa seperti itu atau mereka lupa menguncinya Heri tidak ambil pusing.
"Permisi."Heri mengetuk pintu rumah itu.Panggilan pertama tidak ada sahutan sama sekali.
__ADS_1
"Permisi..!"Ulang Heri dengan suara agak keras.Tapi lagi lagi tidak ada sahutan dari dalam rumah.
"Permisi...!"Ulang Heri lagi.
Dari dalam tidak ada sahutan tapi seperti ada pergerakan karena penghuni juga takut jika ternyata yang memanggil mereka adalah penjahat.
"Permisi..!"Teriak Heri."Ini orang tidur atau koit sih,masa suara ku sudah keras begitu tapi orang nya gak denger denger?"Gerutu Heri yang sudah mulai kesal.
"Siapa?"Terdengar suara seorang wanita menyahut dari dalam.
"Saya Heri bu,ingin menanyakan tentang Rumsi!"Jawab heri yang tidak mau basa basi lagi karena pintu rumah belum juga terbuka.
Ceklek..
Daun pintu terbuka sedikit dan nampak oleh Heri seorang wanita yang belum terlalu tua juga tidak juga muda."Kamu siapa dan ada perlu apa?"Tanya wanita itu seraya mengintip.
"Maaf bu mengganggu ibu malam malam begini.Saya Heri saya suami Rumsi dan saya ingin menanyakan apakah Rumsi tinggal di kosan ibu?Kira kira yang mana ya bu kosan Rumsi?"Tanya Heri tidak sabar.
Si ibu tampak terkejut mendengar Heri mengatakan bahwa dia adalah suaminya Rumsi karena setahunya Rumsi masih kecil dan belum pantas menikah.
""Kamu suaminya?Jangan bohong ah,dia lebih cocok jadi anak sekolah dari pada ibi rumah tangga!"Bela si ibu.
"Benar bu,dia istri saya dan sekarang dia juga sedang mengandung anak saya makanya saya cari dia.Sekarang tolong katakan yang mana kosan Rumsi?"Tanya Heri yang mulai tidaks abar lagi.
"Enak saja.Mana buktinya kalau kamu suaminya Rumsi bisa saja kamu penjahat yang mengejar ngejar dia dan berpura pura jadi suaminya!"
Heri mulai kesal dengan ocehan si ibu pemilik kontrakan itu dan Heri segera mengambil ponselnya menunjukkan poto pernikahan mereka agar si ibu percaya.
"Untung aku masih menyimpan poto ini."Gumam Heri.
Si ibu yqng melihat poto yang ada di hp Heri pun percaya.
"Dia sudah pindah dari sini!"Jawab si ibu.
Duarrrrr...
__ADS_1