
Bagai di sambar petir saat Rumsi mendengar apa yang di katakan bu Retno tentang kondisi ibunya.Sekuat tenaga dia bangun dan menggedor keras daun pintu gudang itu.
"Jangan asal bicara.Cepat keluarkan aku dari sini wanita sialan!"Rumsi tidak lagi memiliki rasa hormat pada bu Retno sudah cukup baginya selama ini bersikap baik.
Bu Retno semakin murka mendengar Rumsi yang mengatai dia wanita sialan."Dasar anak orang gila berani kamu menghina saya ya?"
"Keluarkan aku dari sini.Maka kamu akan tahu seberapa beraninya aku!"Rumsi terus berteriak dan menggedor pintu yang menjadi penghalang antara dia dan bu Retno.Sementara bi Jumilah merasa sedih sekaligus takut dengan amarah yang sangat kentara dari suara Rumsi.
Karena tersulut emosi bu Retno mengeluarkan kunci dari saku bajunya dan membuka pintu.Saat pintu di buka Rumsi langsung menyerang Bu Retno seperti orang kesurupan.
"Dasar bapak sama anak sama gilanya!Lepaskan aku!"Kini bu Retno memaki Rumsi dan meminta agar Rumsi melepaskan rambutnya yang sudah terasa sangat sakit.
"Kau yang gila wanita bangsat,Kau tega sekali mengatakan ibuku meninggal.Aku akan menghajarmu!"Rumsi masih belum sepenuhnya percaya jika ibunya benar benar sudah berpulang.
Saat Rumsi lengah bu Retno memelintir tangan Rumsi hingga melepaskan jambakan di rambutnya.
"Dengar apa kau mau tahu semuanya?"Bibir bu Retno menyeringai mengerikan bi Jumilah sampai bergidik melihatnya."Tidak hanya ibumu yang sudah meninggal,bahkan bapakmu apa kau mau tahu di mana dia sekarang?"
Rumsi mengerutkan alisnya"A..Apa yang terjadi dengan bapakku?"Tanya Rumsi gugup kemarin semua masih baik baik saja selain ibunya yang sedang pingsan.
"Hahaha..Kamu yakin mau tahu?Emmm kasih tahu gak ya?"Bu Retno memancing emosi Rumsi.
"Dasar gila.Cepat katakan dimana bapakku?"Hati Rumsi bergetar khawatir jika bapaknya di laporkan kepolisi dan di tangkap,jika itu terjadi lalu bagaimana dengan nasib Dian?
"Akkhhhh.Lepaskan aku dasar wanita gila!"Rumsi yang sudah kehabisan rasa sabarnya langsung menyerang bu Retno.
"Katakan dimana bapakku!"Teriak Rumsi sambil terus menyerang.
__ADS_1
"Sudah bu,non.Jangan seperti ini!Malu di dengar tetangga."Bi Jumilah bingung sendiri harus melakukan apa lalu dia pun teringat dengan pak Bram yang belum pergi kerja,sehera bi Jumilah mencari pertolongan.
"Bapak mu sudah gila, sekarang dia ada di rumah sakit jiwa.Hahahaha...."Kenyataan yang di dengar dan tawa penghinaan dari bu Retno semakin memancing ke tidak warasan Rumsi.
Dengan sekuat tenaga Rumsi terus menyerang,bahkan rasa lemas karena belum makan dan karena kehamilan nya pun lenyap dalam amarah Rumsi kali ini.Kenyataan pahit yanh di alami dia dan keluarganya telah membangkitkan sisi kemarahan nya dan ini adalah puncaknya.
Suara langkah kaki yang terburu buru terdengar mendekat tidak hanya satu tapi ada beberapa dan Rumsi yakin itu adalah keluarga Bu Retno.Rumsi menyadari situasinya akan buruk unguknya sebelum dia tidak bisa berbuat apa apa dia menghempaskan kuat kepala bu Retno ke lantai.
"Hentikan wanita gila!Lepaskan mamaku!"Heri berteriak mencekal tangan Rumsi.Prida menangis melihat keadaan ibunya,dia ingin marah pada Rumsi tapi kini dia tahu apa yang Rumsi rasakan jauh lebih sakit dari ini.
Pak Bram segera menokonh istrinya yang sudah sangat lemah di lantai,rambutnya acak acakan ada beberapa memar terlihat di wajah nya dan sekarang kepalanya juga pasti benjol karena benturan keras dari Rumsi.
Plakkkk
Rumsi tersungkur di lantai,tamparan keras dari Heri mendarat di pipinya kini penampilan nya tidak jauh lebih baik dari bu Retno.
"Tidak.Kita bawa saja dia ke kantor polisi agar ia di penjara sekalian!"Usul dari Heri.
"Shhh..Benar mama setuju sama Heri."Bu Retno masih belum mau melepaskan Rumsi begitu saja.
"Apa kalian gila jika kita lapor polisi maka kita yang akan masuk penjara karena sudah menyiksa dia!Apa kalian mau?"Pak Bram terlihat geram dengan tingkah istrinya.
Dengan di bantu bi Jumilah Rumsi berdiri,dia menangis sambil memegang pipinya yang panas.
"Cepat beresin pakaian mu dan pergi dari rumah ini!"Pak Bram sudah memberikan perintah baik Heri ataupun mamanya tidak bisa berbuat apa apa lagi.
Rumsi menyeret kakinya masuk kegudang tanpa banyak bicara,dia mengemasi pakaian nya yang tidak banyak dia menggenggam uang yang pernah Heri berikan rasanya dia ingin meleparkan uang itu kewajah Heri tapi dia membutuhkan uang itu.
__ADS_1
"Cepat pergi dari sini!"Suara berat terdengar di telinga Rumsi.
Pak Bram masuk dan memberikan uang pada Rumsi.Awalmya Rumsi bingung dengan sikap pak Bram dan menolak uang itu.
"Ambillah dan pergi jauh dari sini.Jangan sampai kau bertemu lagi dengan Heri dan mamanya.Aku tidak ingin mereka menyakiti kamu dan cucuku.Hanya ini yang bisa aku beri hati hati dan jaga cucuku baik baik."Setelah mengatakan hal igi dan menyerahkan uang pada Rumsi pak Bram segera keluar karena akan sangat bahaya jika dia berlama lama di sana.
Rumsi terisak,awalnya dia merasa pak Bram orang yang sama seperti Heri dan mamanya ternyata dia berbeda setelah tahu jika dia hamil oleh anak lelakinya.
"Hati hati.Maafkan kami semua kak!"Kali ini suara Prida yang terdengar dia juga sedang terisak.
Prida mendekat"Pakai uang ini untuk pegangan kakak ya.Prida tidak punya uang banyak dan pergilah yang jauh dari sini karena Prida yakin mama akan mencari kakak jika sudah sembuh nanti."Prida menyerahkan uang ke tangan Rumsi tapi sepertinya Rumsi masih ragu ragu.
"Ambil kak sebelum ada yang melihat!Prida sama papa tidak bisa membantu kakak selain mengusir kakak dari sini.Jika kakak tetap di sini maka kakak akan terus di siksa mama!"
Rumsi terharu dengan apa yang di lakukan pak Bram dan Prida,ternyata mereka sengaja mengusirnya agar bisa keluar dari rumah neraka ini.
"Terima kasih!"Rumsi menerima uang yang di ulurkan Prida dan segera memasukkan nya ke dalam tasnya.
"Cepat,beresin baju kamu dan pergi dari sini!"Suara Prida melengking bersamaan dengan Heri yang sudah berada di ambang pintu.Rumsi awalmya terkejut dengan ucapan Prida yang tiba tiba berubah khawatir jika dia berbohong dan justru berteriak maling.
"Lama banget,cepat kamu pergi sebelum aku berubah pikiran dan menghajar kamu habis habisan!"Teriak Heri.Rumsi melihat Heri dengan mata menyala.
"Aku akan pergi,tapi ingat apa yang kamu tanam maka itu yang akan kamu tuai!"Rumsi pergi dengan airmata yang berlinang,bukan karena sedih di usir dari rumah suaminya tapi Rumsi takut menghadapi kenyataan yang ada di luar sana.
Bi Jumilah masih terlihat mengusap airmatanya,dia tidak tega melibat gadis muda ini di siksa seperti itu.
Rumsi pun meninggalkan rumah Heri dengan sejuta kemarahan dan dendam dalam hatinya dia bersumpah akan membalas setiap airmata yang pernah jatuh dari ny dan keluarga nya.
__ADS_1