
Pagi sekali Rumsi sudah bersiap untyk bekerja walau jarak rumah dan tempat nya bekerja dekat tapi sudah menjadi kebiasaan Rumsi untuk bangun pagi dan pagi ini dia sangat bersemangat karena semalam dia sudah berfikir jika dia akan memindahkan bapaknya ke rumah sakit yang tidak jauh dari tempatnya sekarang dan masalah biaya Fero bersedia membantu.
Rumsi juga sudah menghitung semuanya dan berjanji akan mengembalikan semua uang yang sudah dia dan keluarga nya gunakan selama ini walau Fero menolak nya.
"Kak tadi malam seperti nya hujan sangat deras?tapi kita tidak mendengarnya karena rumah ini tidak seperti rumah kita di kampung."Kekeh Dian
"Kamu,ada ada saja.Sudah sana mandi mulai sekarang kita harus membersihkan rumah ini agar tetap terlihat bersih agar Tuan Rey tidak kecewa pada kita!"Perintah Rumsi pada adiknya.
"Iya kak.Dian mengerti tapi kak,selama ini kakak tidak pernah memeriksakan kandungan kakak apa tidak apa apa?"Tanya Dian yang prihatin pada kakak nya,selama ini Rumsi hanya memikirkan dirinya saja bahkan mungkin lupa jika dia sedang hamil.
Rumsi menatap perutnya yang mulai terlihat membuncit hanya tidak ada yang memperhatikan nya sehingga tidak ada yang menanyakan nya.
"Sebenarnya kakak ingin, bagaimanapun anak ini tidak bersalah.Kakak ingin memberikan nya yang terbaik tapi kamu tahu sendiri keadaan kita bagaimana?Saat ini kakak sedang ingin memindahkan bapak ke rumah sakit disini agar kita bisa menjaganya bersama!"Kata Rumsi dengan wajah yang sendu.
"Iya kakak benar.Jika bapak sudah disini dan kakak masih punya uang maka cobalah periksakan kak.Kasihan dia,selama ini dia tidak rewel sama sekali kan?Dia anak yang baik."Kata Dian
"Iya kamu benar,baiklah sekarang kamu yang bersihin rumah kakak buat sarapan dulu ya!Hal itu kita pikirkan nanti.Oh ya Dian,kakak hampir lupa."
Dian menghentikan langkahnya"Ada apa kak?"Tanya Dian.
"Kita harus hati hati mulai sekarang karena kata kak Fero,mas Heri sedang mencari kita kekota ini jadi kamu jangan keluar sendirian ya!"Kata Rumsi memperingatkan adiknya.
"Iya kak.Kakak juga hati hati ,Dian tidak mau kita bertemu dengan nya lagi Dian takut!"Terlihat jelas ketakutan di wajah Dian tapi Rumsi harus memperingatkan dia agar Dian juga bisa waspada.
"Iya kita harus waspada,jangan keluar jika tidak penting!"
"Iya kak.Dian tidak akan keluar dari rumah ini apalagi semua sudah tersedia di sini.Kakak yang harus waspada sekali ya.Jangan sampai dia melihat kakak!"
"Iya.Baiklah ayo kita mulai hari ini kita harus hati hati dan tetap semangat!"
Dian dan Rumsi tersenyum bahagia,mereka harus yakin jika mereka akan baik baik saja tapi tidak boleh lengah sedikitpun.
Rey sengaja pergi ke kantor lebih awal agar bisa mampir dan melihat apa saja yang di kerjakan Rumsi pagi pagi begini.Jadi lah sekarang dia sudah berada tepat di depan pintu rumah Rumsi dan walau rumah itu milik Rey tetap saja dia mengetuk pintu karena bagaimanapun dia adalah tamu.
Tokk...Tok....
Sudah kesekian kalinya Rey mengetuk dan tangan nya sudah ada ruam merah tapi Rumsi belum juga membuka pintu untyk Rey yang sudah mulai kesal.
__ADS_1
"Dasar,apa mereka masih tidur hingga mereka tidak mendengar ketukan pintu?"Gumam Rey kesal.
"Biar saya coba Tuan!"Kata Damian.Sebenarnya sudah sedari tadi Damian menawarkan diri tapi Rey keras kepala dan tidak mengijinkannya tapi kali ini karena tangannya sudah memerah barulah Rey mengijinkan nya.
Dorrrr...Dorrrr
"Astaga."Rey terkejut melihat Damian yang menggedor pintu itu dan bukan nya mengetuk.
"Apa yang kamu lakukan Dam?"Tanya Rey yang terkejut.
"Saya hanya mencoba agar penghuni yang ada di dalam sana bisa mendengar jika ada tamu yang datang.Semoga saja mereka mendengarnya!"Jawab Damian.
Dorr...Dorr....
"Iya sebentar!"Terdengar suara Rumsi menjawab dari dalam.
"Benarkan Tuan.Anda mengetuk pintu itu terlalu lembut jadi mereka tidak mendengarnya!"Kata Damian sedikit sombong.
"Lembut darimana,apa kau tidak melihat tanganku yang sudah memerah?Dasar mereka saja yang tuli."Sungut Rey.
Damian hanya tersenyum melihat Rey yang bersungt sungut.
"Kenapa kau lama,kau juga tidak mendengar aku mengetuk pintu?"Oceh Rey yang langsung nyelonong masuk dan sedikit menyenggol bahu Rumsi.
"Maaf Tuan.Tadi saya dan Dian sedang di belakang membuat sarapan jadi tidak mendengar jika ada yang mengetuk pintu."Jawab Rumsi tidak enak hati.
"Alasan,mana sarapan nya?"
"Hah.."
"Jangan bengong,aku mau sarapan sebelum ke kantor!"
"Ah iya.Sebentar akan saya siapkan!"Rumsi segera berlari ke dapur untuk menyiapkan sarapan yang dia buat tadi,hanya nasi goreng biasa dan tidak ada istimewanya sama sekali karena Rumsi memang tidak bisa memasak masakan yang mewah.
"Ada apa kak?"
"Tuan Rey dan Tuan Damian ada di depan mereka mau sarapan disini.Kakak jadi bingung apa mungkin kita siapkan nasi goreng yang seperti ini?"Kata Rumsi sambil menunjukkan penampakan nasi goreng nya.
__ADS_1
"Iya kakak benar,Dian juga khawatir jika Tuan Rey sakit perut setelah memakan ini."
"Duh kamu malah bikin kakak semakin takut saja.Sekarang bagaimana ini mereka sudah menunggu?"Tanya Rumsi.
Dian melihat nasi goreng kakaknya yang biasa saja walau Dian yakin rasanya pasti enak."Kak di kulkas ada sosis kan?"Tanya Dian.
Rumsi pun mengangguk.
"Kakak goreng saja sosisnya lalu campurkan dengan nasi goreng ini.Dian akan potong tomat atau timun agar tampilan nasi goreng kakak semakin menarik!"
"Iya kamu benar.Baik ayo cepat!"Rumsi menjadi bersemangat setelah mendengar ide Dian.Setidak nya hasilnya nanti tidak akan separah sekarang.
Rumsi sibuk menggoreng sosis sementara Dian sibuk dengan pisau dan aneka pelengkap nasi goreng mereka.
"Ahh selesai.Akhirnya jika begini nasi goreng kakak semakin cantik."Puji Dian.
"Kenapa lama sekali?Apa kau tidak tahu jika sebentar lagi jam masuk kantor?"Tanya Rey yang uring uringan sejak kejadian ketuk pintu tadi.
"Maaf Tuan,ini sudah selesai!"
Rey melihat tampilan nasi goreng Rumsi yang sudah tersusun di piring masing masing.
"Ini nasi goreng atau taman?Hahaha.."Tanya Rey yang melihat nasi goreng buatan Rumsi penuh dengan warna.
Dian dan Rumsi saling lirik bagi mereka nasi goreng itu terlihat cantik tapi kenapa tuan Rey malah mentertawakan nya.Sementara Damian hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Tapi ini cantik tuan."Jawab Rumsi memberanikan diri.
"Norak!"Oceh Rey seraya menarik kursi untuk mulai sarapan.Melihat Rey yang mulai menyuapkan nasi goreng itu Rumsi segera menuangkan air dan meletakkan nya di sebelah Rey.
Suapan pertama Rey memelototkan matanya membuat semua yang ada disana menjadi takut..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung...
Terimakasih untuk pembaca setia Mencintai Pembunih Suamiku
__ADS_1
Jangan lupa like,komen dan Vote nya ya.Dukung author agar semakin semangat up date.
Salam sayang💙💙💙