Mencintai Pembunuh Suamiku.

Mencintai Pembunuh Suamiku.
Bab 66.Memarahi Rumsi.


__ADS_3

Matahari berainar sangat cerah pagi ini kicau burung menambah ramai suasana pagi tapi tidak ada keceriaan di wajah Rumsi.Sudah seminggu sejak kejadian itu tapi Rumsi masih saja murung dan lebih banyak diam.


Rey dan yang lain nya sudah berusaha untuk mengajak nya bicara dan bersenda gurau tapi trauma yang di alami Rumsi sangat membekas dihatinya.Sementara kondisi Pak Saiful juga tidak baik baik saja apalagi dengan keadaan Rumsi saat ini justru membuatnya banyak pikiran hingga membuat kondisi nya semakin memburuk.


''Rumsi..!!Panggil Fero dengan suara pelan.Tapi Rumsi tetap diam dan melamun menatap keluar jendela.


''Rum..Jangan seperti ini!Aku tahu kamu wanita yang kuat,semua sudah berlalu lihat lah bagaimana keadaan orang orang yang menyayangi kamu.Kami semua sedih melihat kondisi mu yang seperti ini!''Ucap Fero dengan sangat hati hati.


Rumsi masih tidak bergeming dia seperti tidak mendengar apa yang dikatakan Fero barusan.Fero yang melihat Rumsi tidak memberikan Respon pun hanya mengehela nafasnya pelan lalu pergi meninggalkan Rumsi seorang diri dalam kamar nya.


''Bagaimana?''Tanya Rey setelah Fero keluara dari kamar Rumsi.Fero hanya menggeleng dan itu sudah memberi Rey jawaban atas pertanyaan nya.


Rey memijit pelipisnya dia harus mencari akal agar Rumsi mau bicara dan kembali seperti dulu lagi.


Entah apa yang ad adalam pikiran Rey,tiba tiba saja dia membuka pintu kamar Rumsi dan menutupnya kembali dengan sangat keras membuat Fero yang ada di depan kamar Rumsi terjengkit kaget.


''Astaga tuan.Bukan Rumsi yang sadar tapi justru saya jadi pingsan''Gumam Fero seraya mengelus dada nya yang berdetak kencang.Fero pun segera meninggalkan pintu kamar yang tertutup itu .


Didalam kamar Rumsi sama sekali tidak memberikan reaksi apa apa dengan suara pintu yang menggelagar tadi.Rey sengaja melakukan itu agar Rumsi terbangun dari lamunan nya tapi hasilnya nihil.


''Ini sudah cukup Rumsi !Kau sudah membuatku sangat marah.Kau pikir kau siapa hah?Seenaknya saja kau membiarkan aku mengurus semua nya sendiri,mereka keluarga mu dan kau hanya duduk duduk santai seperti ini.Apa kau pikir siapa yang bekerja dan memberi uang untuk bapak dan Dian makan hah?Lalu siapa yang akan membayar semua biaya pengobatan bapak?Coba kau pikir itu.!''Rey menghentikan ucapan nya dan menatap Rumsi ingin melihat bagaimana reaksinya setelah mendengar apa yang Rey sampaikan.


Rumsi menitikkan air mata nya ya rencana Rey berhasil walau dia sendiri tidak tega mengatakan nya tapi dia harus melakukan nya agar Rumsi kembali menjadi Rumsi yang dulu.


''Jawab aku Rumsi jangan diam saja.Siapa yang akan merawat pak Saiful dan membiayai semua pengobatan nya jika kau sendiri seperti ini?''Bentak Rey.

__ADS_1


Hikss...Hiksss..


Rumsi menangis sesenggukan air mata nya mulai membasahi pipinya itu artinya jika sebenarnya Rumsi mendengar tapi dia tidak punya semangat untuk menjadi dirinya sendiri seperti yang dulu.


''Jika kau ingin menangis maka menangis saja bahkan kau boleh berteriak jika itu memang perlu tapi setelah itu kau harus bngkit lagi perjalanan hidupmu masih panjang.Jangan kau sia siakan hidupmu dan menyesali semua .!!''Rey mulai mengecilkan intonasi suaranya melihat Rumsi yang sudah banjir air mata,dia sangat sedih melihat Rumsi seperti ini.


''Ma..Maafkan aku pak!''Lirih Rumsi.


Rey yang mendengar ucapan Rumsi pun merasa senang dengan perlahan mendekati Rumsi lalu memeluknya dan tanpa sadar Rumsi juga membalas pelukan Rey dengan sangat erat membuat jantung Rey berdetak kencang dan darahnya berdesir.


''Kalau kau ingin aku memaafkan mu maka sekarang berhenti membuat kami semua khawatir.!Keluarlah dan temui bapak dia sangat mengkhawatirkan mu bahkan kondisinya terus memburuk karena memikirkan mu!''Ucap Rey seraya melepaskan pelukan nya karena jantung nya sudah mulai tidak aman lagi.


Rumsi pun melepaskan pelukan nya tanpa memperhatikan Rey yang salah tingkah.


''Ba..Baik pak.''Rumsi mengangguk dan mengusap airmatanya walau masih terus mengalir dengan langkah pelan dia mengikuti Rey yang berjalan di depan nya.


''Pak...!!''Lirih Rumsi pelan tapi masih bisa di dengar Rey.


Rey hanya menganggukkan pelan kepalanya tanpa mengatakan apapun tapi Fero paham jika saat ini dia tidak boleh bertanya apapun.


''Dimana tuan .....''Tiba tiba Damian masuk tapi dia mengehentikan ucapan nya karena merasa senang melihat Rumsi keluar sama seperti Feri Damian juga tidak percaya setelah satu minggu lama nya Rumsi.tidak keluar kamar tapi hari ini dia mau keluar juga.


''Hei...Rumsi sudah mau kekuar kamar?''Tanya Damian seraya menghampiri Fero.


''Iya baru saja.Apa kau tidak melihat nya?''Tanya Fero yang selalu saja kesal jika bertemu dengan Damian.

__ADS_1


''Tentu saja aku melihat nya apa kau pikir aku buta ?Dasar wanita aneh kerja nya selalu marah marah seperti tidak punya pekerjaan lain saja.Ohh..ya kau memang tidak punya pekerjaan.''Ejek Damian yang semakin membuat Fero merasa kesal.


''Kau ini selalu membuatku kesal.Entah kenapa Tuhan menciptakan pria bermulut wanita sepertimu.''Ucap Fero tak kalah sinis.


''Hei jaga bicara mu ya.Jangan bicara sesuka perutmu saja!''


Fero tidak memperdulikan ocehan Damian,dia berjalan cepat menyusul Rey dan Rumsi yang sepertinya akan menemui pak Saiful.Damian yang merasa di abaikan juga ikut menyusul Fero ke kamar pak Saiful.


Rey mengangguk saat Rumsi menatapnya dengan mata yang basah dan setelah mendapat anggukan dari Rey,Rumsi pun berjalan mendekat ke ranjang bapak nya.


''Bapak..!!''Panggil Rumsi pelan.


Pak Saiful yang mendengar suara Rumsi pun membuka matanya seakan tidak percaya jika Rumsi ada di kamar nya sekarang.


''Rumm..Rumsi..Itu kamu nak?''Tanya pakSaiful.


''Hiks..iya pak.Maafkan Rumsi pak!''Rumsi mendekati pak Saiful dan memelukmya erat sementara pak Saiful hanya bisa berbaring dan menangis bahagia karena Rumsi.sudah mau keluar dari kamarnya.


''Jangan seperti kemarin lagi nak.Bapak sangat takut,bapak.tidak ingin kehilangan kalian!''Ucap pak Saiful sambil menangis.


Air mata Rumsi semakin membanjir dia tidak menyangka jika apa yang dia lakukan kemarin membuat bapak nya sangat sedih lagi dan lagi Rumsi merasa berdosa karena telah membuat orang tuanya menderita.


''Hiksss..Maafkan Rumsi pak.Rumsi janji tidak akan melakukan kesalahan seperti itu lagi.Maafkan Rumsi Hiks....''


Suasana haru seperti itu membuat semua orang yang ada di kamar pak Saiful ikut terbawa suasana jangan kan Fero ,Rey dan Damian juga menghapus sudut matanya yang basah.

__ADS_1


''Ada apa ini?''Tiba tiba..


__ADS_2