
Semua orang tampak gelisah terutama Rumsi dan Rey bahkan kini mata Rumsi sudah tampak membengkak dalam pelukan Fero.
Rey sedari tadi terlihat gelisah dia terus mondar mandir di depan pintu ruang oprasi entah kenapa melihat Dian dalam keadaan seperti ini membuat nya sangat takut kejadian belasan tahun lalu kembali terbentang dalam ingatan nya.
''Tenanglah bos Dian pasti baik baik saja!''Ucap Damian akhirnya yang tidak tega melihat bos nya yang terus gelisah walau dia sendiri bingung entah apa alasan nya hingga bos nya bisa sepanik ini.
''Bagaimana aku bisa tenang jika difalam sana Dian sedang dalam bahaya hah?Katakan bagaimana?''Rey tampak sangat marah sekarang bahkan dia sampai menarik kerah baju Damian.
''Kasihan Rumsi Tuan.Jangan bersikap seperti ini.''
Rey melemah dia melihat Rumsi yang masih terus menangis wajah nya pucat mata nya sembab Rey tidak tega dia mendekat.
''Rum..''
Rumsi yang berada dalam pelukan Fero pun melepaskan pelukan nya.
''Tuan..Hiksss..''
Rey membawa Rumsi dalam pelukan nya menenangkan hatinya walau dia sendiri sedang tidak baik baik saja sementara Rumsi hanya pasrah entah kenapa pelukan Rey bisa memberikan ketenangan untuk nya.
Damian dan Fero hanya saling pandang mereka tidak mengatakan apapun karena bukan saat yang tepat untuk bicara di tengah suasana kalut seperti ini.
Mata semua orang tertuju pada satu objek yaitu pintu ruang oprasi yang terbuka Rey langsung melepaskan pelukan nya dan menemui perawat yang keluar dari sana dengan wajah yang sangat tegang.
''Ada apa sus,bagaimana keadaan Dian?''Tanya Rey buru buru bahkan Rumsi belum sempat mengatakan apapun.
''Kami membutuhkan golongan darah AB positif pasien kehilangan banyak darah apakah ada anggota keluarga yang mempunyai golongan darah yang sama?''
''Saya kakak nya sus,tolong cek saya!''Jawab Rumsi menyela.Lagi pula saat ini tidak mungkin pak Saiful yang mendonorkan darah melihat kondisi nya saat ini yang juga sedang di rawat.
''Baiklah ibu bisa ikut saya!''
__ADS_1
Rumsi mengikuti suster itu begitu juga dengan Rey dia juga ingin mendonorkan darah nya jika saja darah yang di donorkan Rumsi belum cukup karena golongan darahnya juga AB positif.
Setelah melalui beberapa tes ternyata golongan darah Rumsi tidak cocok dengan golongan darah Dian.
'' Sus golongan darah saya sama dengan pasien biar saya yang mendonorkan darah tapi cepat selamat dia!''
Tanpa banyak bertanya lagi semua proses segera di jalan kan dan hasil pemeriksaan memang benar golongan darah Rey sama dengan Dian dan kondisi Rey juga sehat hingga bisa mendonorkan darah nya untuk Dian.
Semua orang masih merasa khawatir pasalnya mereka belum mengetahui kabar apapun tentang Dian.Rumsi sendiri mondar mandir ke ruangan pak Saiful dan Dian bergantian.Bahkan mereka lupa jika mereka belum makan karena Tuan Carlos yang datang sebelum acara makan di mulai .
''Rumsi istirahatlah jangan sampai kau juga sakit.Mereka membutuhkan mu lagi pula kondisi mu juga belum stabil benar.''Damian mengingatkan Rumsi karena merasa kasihan gadis itu masih terlalu muda untuk merasakan semua beban hidup yang keras ini.
''Tapi pak.''Sanggah nya masih tidak rela bagaimana dia bisa istirahat jika kedua orang terkasih yang dia miliki sedang berada dalam bahaya.
''Menurutlah atau kau ingin menambah beban pikiran kami jika kau sampai pingsan lagi?''Jawab Rey yang tahu jika Rumsi tidak akan menurut jika hanya di berikan kata kata lembut.
Rumsi terhenyak mendengar perkataan Rey tapi apa yang dia katakan itu memang benar jika dia tidak istirahat lalu sakit maka Fero,Damian dan Rey akan semakin bingung.
''Baiklah maafkan saya tuan.Saya akan beristirahat di ruangan bapak.''Ucap Rumsi pada akhirnya.
Fero menggenggam tangan Rumsi membawanya mengikuti langkah Damian yang sudah lebih dulu berjalan.Pikiran nya bercabang tak menentu bahkan hampir meledakkan kepalanya,semua masalah yang terjadi hingga kini adalah akibat cinta buta nya pada Heri.
''Kita sudah sampai,istirahatlah.Kau...''Tunjuk Damian pada Fero.''Pastikan Rumsi istirahat dengan benar atau kau akan mendapat masalah!'Ancam Damian yang madih kesal pada Fero karena kejadian siang tadi.
'' Hoammm....Pergilah aku lelah dan malas bertengkar dengan mu!''Usir Fero seraya mengibaskan tangan nya membuat Rumsi menggelengkan kepalanya.
''Awas kau!''Damian melotot pada Fero sebelum meninggalkan mereka berdua untuk beristirahat.
Rey terduduk dengan wajah lesu entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang tapi hati nya begitu takut jika Dian tidak selamat dan entah apa yang di lakukan para Dokter di dalam sana karena sampai saat ini dia belum mendapat kabar apapun.
''Tuan.''Damian menyodorkan segelad kopi yang dia beli sebelum kembali menemui Rey.
__ADS_1
''Apa sudah ada kabar?''
''Ini memang ulah tuan Carlos,anak buah kita berhasil meringkus mereka sebelum mereka bersembunyi!''
''Bawa mereka ke markas,aku ingin melihat siapa yang sudah berani melukai Dian hinggga membuat nya seperti ini!''Titah Rey sambil menyeruput kopinya tapi mata nya menyala marah.
''Maaf boleh saya bertanya?''Damian tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menanyakan mengapa dia sangat mengkhawatirkan Dian.
''Apa?''
''Apa yang Tuan rasakan sekarang?Tidak mungkin kan anda menyukai gadis kecil itu?''Tanya Damian sedikit takut.
Rey menatap Damian dengan tatapan yang tajam membuat Damian merasa ngeri''Kau pikir aku pedofil?Tapi aku sendiri juga tidak tahu mengapa aku sangat menyayanginya entah karena usia nya yang mungkin sama dengan adikku.Aku tidak paham tapi aku takut kehilangan dia.''Lirih Rey di akhir kaliamat nya.
Damian terdiam kenangan Rey tentang keluarga nya sangat membekas di hatinya.
Pintu ruangan operasi terbuka membuat pembicaraan Rey dan Damian berhenti.
''Bagaimana Dok?''
''Semua berjalan lancar walau ada sedikit masalah tadi tapi semua sudah terlewati.Sekarang hanya tinggal menunggu pasien sadar dari pengaruh obat saja.''
Rey menghembuskan nafas nya lega begitu juga dengan Damian.
''Apa saya sudah boleh menemuinya?''
''Tentu tapi setelah pasien di pindahkan.''
''Terimakasih Dok.''
Rey tidak bisa menutupi kebahagian nya mendengar kabar oprasi Dian berhasil.
__ADS_1
''Aku akan melihat nya Dam.''
Damian mengangguk,entah lah melihat bos nya seperti ini dia merasa senang sekaligus sedih karena bos nya masih di bayangi masa lalu nya dan yang membuat Damian khawatir jika Rey akan bersikap berlebihan dalam menjaga Dian.