
Mata bu Ida semakin sayu dia tidak menyangka jika anak baru ini rela mengakui kesalahan nya agar dirinya tidak di pecat,hatinya merasa tersentuh dengan sikap Rumsi dalam hatinya berjanji jika dia akan membantu Rumsi jika saja dirinya tidak jadi di pecat pak Rey.
"Jadi jika ini memang kesalahan mu maka kamu yang akan aku pecat!"Rey terua mengamati respon yang di tunjukkan Rumsi,awalnya dia menatap Rey karena terkejut dia yang akhirny di pecat tapi Rumsi kembali menundukkan kepalanya karena menyadari.itu adalah kesalahan nya.
"Bagaimana?"Tanya Rey pada Rumsi.
Rumsi meremas ujung bajunya,dia sebenarnya tidak ingin kehilangan pekerjaan yang susah payah dia dapatkan apalagi ini hari pertamanya bekerja di perusahaan ini.Terbayang wajah Dian yang kecewa saat tahu jika dia di pecat.
"Jika saya boleh tahu apa alasan bapak memecat saya?"Tanya Rumsi.
Rey menyipitkan mata nya dia bukan nya marah tapi kagum dengan keberanian Rumsi yang masih ingin tahu dimana letak kesalahan nya.
"Kamu lihat tempat pena ini?Dia tidak berada di tempat yang semestinya dan saya tidak suka dengan hal itu!"Rey menunjukkan dimana letak kesalahan nya,sementara Rumsi masih tidak melihat kesalahan yang mencolok dengan tempat pena itu.
"Maaf pak.Bokeh saya mengatakan sesuatu?"Rumsi mulai berani mengatakan apa yang ada dalam pikiran nya dia tidak ingin lagi terus di injak injak seperti dulu apalagi sekarang dia juga akan di pecat jadi dia ingin belajar berani menyampaikan apa yang ada dalam benaknya agar orang lain tahu jika dia juga punya perasaan.
Bu Ida merasa khawatir dengan Rumsi,selama ini tidak ada seorang pun yang berani bicara banyak pada Rey gardana tapi Rumsi begitu berani.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"Rey sebenarnya tidak terlalu suka meladeni orang yang tidak penting tapi pada Rumsi dia pengecualian,selain karena Rumsi berani fia juga penasaran dengan usia Rumsi karena jelas terlihat jika Rumsi masih sangat muda tapi wajahnya terlihat menyimpan begitu banyak beban.
"Apa perubahan yang nyaris tidak terlihat itu begitu berpengaruh dalam hidup bapak?Apa bapak tidak tahu jika terkadang ada takdir yang lebih besar terjadi pada diri kita yang kita tidak pernah inginkan ataupun membayangkan nya bahkan akan berpengaruh dalam seumur hidup kita dan kita tidak bisa mengubahnya lagi !Kita hanya bisa menerima tanpa bisa mengeluh walau kita sangat tidak menyukainya.Jika perubahan itu baik maka kita akan bahagaia tapi bagaimana jika perubahan itu membuat kita dan orang disekitar kita menderita?
Saya tahu jika bapak adalah orang yang sangat disiplin tapi apakah bapak tidak bisa memaafkan kesalahan yang tidak di sengaja itu.Bagi bapak mungkin mudah mencari pengganti saya atau bu Ida tapi jika sikap bapak seperti ini maka tidak akan ada yang pas dengan bapak.Kita semua pernah melakukan kesalahan tapi kita juga harus belajar dari kesalahan itu.Manusia tidak ada yang sempurna pak!Saya yakin bapak juga tahu itu.Maaf jika saya lancang!"Rumsi melepaskan semua unek unek nya rasanya beban didadanya terlepas namun kini dia jadi mengingat keluarganya yang hancur karena kesalahan nya dan dia hanya bisa menyesalinya.
Kata kata Rumsi sangat mengena di hati Rey dia tahu jika tidak ada yang sempurna di dunia ini,dia hanya ingin menutupi kekurangan nya dengan mencari kekurangan orang lain.
Bu Ida dan Damian sangat terkejut dengan apa yang Rumsi katakan keberanian nya membuat mereka khawatir jika Rey akan mengamuk tapi mereka melihat Rey yang tenang tenang saja.
"Berapa usiamu?"
Mereka terkejut mendengar usia Rumsi.Terutama bu Ida karena Rumsi masuk tanpa data data lengkap jadi dia tidak tahu jika Rumsi masih begitu muda tapi keberanian nya patut di acungi jempol.
"Bukan kah harusnya kamu masih sekolah?Kenapa kamu bekerja?Dimana orang tuamu,Kanapa membiarkan mu bekerja dan siapa yang menerima kamu di kantor ini?"Tanya Rey bertubi tubi,dia merasa jika Rumsi memang harus nya masih sekolah tapi ini dia malah bekerja di kantornya.
Jantung Rumsi berdetak sangat kencang,Jika sampai pak Rey marah maka bisa jadi Pak Satrio juga di pecat.
__ADS_1
"Maaf pak.Tolong jangan pecat mereka yang sudah membantu saya!Mereka orang orang baik jika saya memang tidak bisa bekerja disini maka tidak apa apa bapak memecat saya tapi tolong jangan pecat mereka!"Rumsi tidak lagi bisa membendung airmatanya kini dia menangis,menangisi nasib nya yang sial dan terus berdampak pada orang orang di sekitarnya.
"Baiklah akan saya pertimbangkan,asal kamu mau berkata jujur dengan saya!Saya tidak suka bertanya dua kali dan hari ini saya akan khusus mendengarkan ceritamu karena saya tidak ingin ada masalah lagi di kemudian hari jika saya berubah pikiran dan tidak memecat siapa pun hari ini!"Rey merasa sangat penasaran dengan kisah Rumsi yang di anggapnya menarik.Berbeda dengan Rumsi yang mulai gelisah,bagaimana jika bos nya tahu jika saat ini dia sedang hamil apakah dia tetap di ijinkan bekerja disini?
"Apa kamu memilih keluar dari kantor ini?Atau menceritakan yang sebenarnya?"Tanya Rey lagi.
Damian merasa bos nya sangat aneh hari ini,atau mungkin bos nya salah minum obat pagi ini.Biasanya dia tidak ingin mendengar apapun alasan dari bawahannya tapi kali ini dia malah ingin mendengarkan kisah hidup Office Girl yang baru satu hari bekerja.
Rumsi merasa ragu untuk menceritakan tentang dirinya apalagi saat ini didalam ruangan itu ada bu Ida dan asisten pak Rey.Dengan ragu Rumsi memandang satu persatu wajah mereka semua dan menarik nafasnya perlahan seraya menghapus sisa sisa air matanya.
"S..Sa.Saya..Emmm."
"Bicaralah yang benar atau keluar sekarang juga!"Bentak Rey dia sangat tidak suka dengan orang yang jika bicara bertele tele seperti itu.
Rumsi yang gugup pun tersentak karena Rey membentaknya."Maaf pak."Rumsi menundukkan kepalanya semakin kuat meremas ujung bajunya,jantunnya berdebar sangat kencang antara takut dan juga malu untuk menceritakan tentang dirinya.
"Saya dan adik saya berasal dari sebuah desa yang lumayan jauh dari kota ini,Kami hanya berdua di kota ini dan saya juga baru beberapa hari disini."Rumsi menjeda ucapannya melihat reaksi Rey yang terlihat masih fokus mendengarkan.
__ADS_1
"Ibu saya sudah tiada dan bapak saya sekarang sedang sakit dan sedang di rawat di rumah sakit!"Rumsi menghapus air matanya karena mengenang kembali masa pahit dalam hidupnya.