Mencintai Pembunuh Suamiku.

Mencintai Pembunuh Suamiku.
Bab 54.Suasana kacau Rumsi dan Dian.


__ADS_3

Akhhhhhhh


Teriakan Dian membuat Rey dan Damian semakin panik terutama Rey dia sudah menganggap Dian sebagai adiknya dan kini teriakan nya sangat memilukan.


"Damian cepat kembali!"Perintah Rey pada Damian,pertemuan mereka dengan klien akhirnya mereka batalkan begitu saja karena panggilan Dian.


"Apa yang terjadi kenapa dia berteriak seperti itu?Ayolah Dam cepat aku sangat khawatir dan kenapa mereka selalu saja menghubungi kamu bukan aku?"Oceh Rey di tengah kepanikan nya.


Damian tidak menjawab ocehan bosnya yang melantur saat ini yang paling penting adalah segera sampai di rumah Rumsi.


Dian yang sedang meminta bantuan pada Damian tidak menyadari jika Heri sudah masuk ke kamar nya lalu menarik rambut Dian untuk yang kedua kalinya.


"Dasar kamu tidak bisa di beritahu dengan kata kata rupanya!"


Plaaaakkkk


"Akkhhhh..Kakak....Tolonggggg!"Teriak Dian.


"Dian,siapa disana?"Rey yang mendengar suara tamparan dan teriakan Dian menjadi sangat murka darahnya mendidih matanya merah menahan marah.


Heri menoleh kearah ponsel Fian yang ternyata belum mati"Akkhhh sial,pasti orang itu sedang menuju ke rumah ini.Aku harus pergi sebekum mereka menangkapku!"Gumam Heri.


Heri meninggalkan Dian yang metintih kesakitan di lantai baginya dia harus menyelamatkan dirinya terlebih dahulu sebelum orang yang dimintai toling Dian datang.


"Huhuhu..Kakak...!"Lirih Dian seraya bangkit dari posisinya tapi kakinya tidak sanggup berdiri hingga dia kembali terjatuh ke lantai.


Di kamarnya Rumsi sudah tidak sadarkan diri lagi kondisi nya juga tidak lebih baik dari Dian.Wajahnya memar dari sudut bibirnya mengeluarkan darah sementara rambutnya juga acak acakan dan yang lebih parah lagi entah apa yang di perbuat Heri hingga kini darah berceceran dari ************ Rumsi.


"Kakak...Hiksss...Tolonggggg...!"Lagi lagi Dian kembali memanggil kakak nya tapi Rumsi juga tidak menyahut dia menjadi kahawatir dengan keadaan kakaknya itu.


Sekali lagi Dian berusaha untuk bangun dari lantai dengan berpegangan ujung ranjang,perlahan dia mulai berdiri tapi kaki nya masih terasa lemah dan gemetar kejadian berusan membuatnya sangat syok.


"Tuan Rey...tolong kami hikss...Hiksss...!"Lirih Dian.


Brakkkk


Dian terperanjat kaget karena tiba tiba pintu kamarnya kembali terbuka dengan keras.

__ADS_1


"Pergi jangan ganggu kami!"Teriak Dian seraya menutup wajahnya.


"Astaga Dian apa yang terjadi?"Rey sangat terkejut melihat kondisi Dian yang berantakan begitu juga Damian dia sangat marah melihat Dian dalam keadaan seperti itu.


Dian membuka tangan nya mendengar suara Rey"Tuan..Tolong kakak...Di..Dia datang ...Di..Dia menyakiti ka..kami!"Ucap Dian terbata bata.


Rey memeluk Dian tubuhnya masih gemetar airmatanya juga masih mengalir deras bahkan Rey bisa mendengar degup jantung Dian yang menandakan kejadian yang mereka alami pasti sangat mengerikan.


"Sudah tenanglah,Dam bawa dia kedepan aku akan melihat Rumsi!"Rey menyerahkan Dian pada Damian sementara dia langsung berlari ke kamar Rumsi jika keadaan Dian saja seperti ini bisa jadi Rumsi srmakin parah kondisinya pikir Rey.


"Rum...Rumsi.....!Panggil Rey tapi tidak ada sahutan.


"Rum..Aku akan buka pintunya jika kau tidak menyahut!"Ucap Rey


"Rumm..Rumsii...!"Rey sudah memanggil namanya berkali kali namun sama sekali tidak ada balasan dari Rumsi akhirnya Rey memutuskan untuk membuka pintu kamar Rumsi.


Ceklek..


"Astaga Rumsi..!"Rey panik melihat kondisi Rumsi yang jauh lebih parah dari Dian entah apa yang di lakukan penjahat itu pada Rumsi.


"Dammm..!"Teriak Rey memanggil Damian meminta bantuan.


"Ada apa tuan?"Tanya Damian yang belum paham.


"Cepat panggil ambulan!"Teriak Rey kalut.


Dengan segera Damian mengeluatkan ponsel nya dan menghubungi ambulan.


"Astaga apa yang terjadi dengan mereka?"Lirih Damian yang tidak tega melihat kondisi Rumsi yang parah.


"Bajingan itu sudha tahu rumah ini,kita kecolongan Dam.!"Geram Rey


"Benar tuan."


"Kakak..."Panggil Dian yang kini sudah berdiri di ambang pintu.


Rey melihay Dian yang tertatih sepertinya dia masih syok.Rey menghampiri Dian "Tenanglah kakakmu pasti baik baik saja!"Rey kembali memeluk Dian rasanya dia benar benar tidak tega melihat Dian yang terus menangis.

__ADS_1


"Hiksss...Kakak....!"Lirih Dian."Dia jahat...Aku takut hikss...hiks...!"


"Jangan menangis lagi,sekarang ada kami disini dia tidak akan berani lagi datang!"Ucap Rwy menenangkan Dian.


Tak lama terdengar suara deru mobil yang mendekat Rey yakin itu adalah ambulan yang di hubungi Damian tadi


"Cepat bantu kami!"Teriak Damian dari dalam.


Mereka segera membawa Rumsi yqng sedari tadi belum sadarkan diri dan wajahnya juga semakin memucat.


Rey dan Dian ikut dengan ambulan yang membawa Rumsi sementara Damian pergi dengan membawa mobil Rey.


Di ujung jalan seorang pria yang sedang mengamati keadaan rumah Rumsi tersenyum menyeringai.Di wajahnya tampak kepuasan melihat keadaan Rumsi dan Dian yang seperti itu walau sesungguhnya dia belum merasa dendam nya terbalas sepenuhnya tapi melihat kondisi mereka yang seperti ini dia bahagia.


"Ini masih permulaan Rum.Apa yang menimpaku sekarang ini adalah karena mu jadi aku akan membalasnya berkali kali lipat padamu dan juga keluargamu!"Gumam Heri.


Dia kemudian meninggalkan daerah itu agar keberadaan nya tidak di ketahui oleh kedua orang teman Rumsi itu karena seperti nya mereka sangat peduli pada kakak beradik itu.


"Untuk sementara aku akan bersembunyi dulu.Biarkan dia merawat luka luka nya dahulu karena bermain dengan orang yang lemah sungguh tidak menyenangkan!"


Di rumah sakit Rumsi segera mendapatkan pertolomgan begitu juga dengan Dianmereka segera mendapatkan perawatan.


Rey merasa sangat marah saat ini,dirinya tidak tenang sebelum bisa mendapatkan dan menghajar suami Rumsi itu.


"Apa kita harus mencari pria itu tuan?"Tanya Damian.


"Tentu saja tapi untuk saat ini biarkan saja dia kita fokus pada mereka berdua dulu lagi pula kita tidak perlu mencari nya karena dia akan datang sendiri nanti."Mata Rey menerawang jauh seakan membaca masa yang akan datang.


Damian tidak mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran Rey tapi dia hanya diam tanpa mengucapkan apapun Damian yakin apapun yang dipikirkan Rey pasti yang terbaik untuk kakak beradik ini.


Seorang dokter yang menangani Dian kekuar dari ruang perawatan nya"Bagaimana dok?"Tanya Rey tidak sabar.


"Luka yang di alami nona Dian tidak terlalu parah hanya saja dia seperti nya sangat syok dan trauma.Dia sempat menolak dan mengusir kami dia sangat ketakutan.Sebaiknya jangan tinggalkan dia sendiri apalagi saat bertemu dengan orang asing karena itu akan membuat trauma nya kembali dan saya sarankan sebaiknya nona Dian melakukan terapi."


"Lalu kakaknya bagaimana?"


Dokter itu menghela nafasnya..

__ADS_1


"Maaf...!"


Bersambung...


__ADS_2