
Rumsi menghapus airmatanya ,begitu pula bu Ida dia tidak menyangka jika gafis muda dihadapan nya ini mengalami madalah hidup yang sangat menyedihkan.
"Jika kalian disini siapa yang menjaga ayah mu lalu dia sakit apa?"Tanya Rey yang semakin pensaran.
Rumsi menatap dalam mata Bos nya,dia merasa sangat ragu menceritakan keseluruhan kisah hidupnya apalagi mereka orang asing.
"Emm,Bapak saya mengalami sedikit gangguan sejak ibu saya meninggal!"Akhirnya jawaban itu yang keluar dari mulut Rumsi dia belum sanggup jika harus mengatakan semua nya biarlah waktu yang akan mengungkap segalanya.
"Kamu tinggal dimana?"
"Kami ngekos di jalan xx pak."
"Naik apa kemari?Tempat itu lumayan jauh dari sini?"Tanya Rey lagi.
Damian benar benar geleng kepala melihat bos nya yang sangat perduli dengan karyawan nya yang satu ini sebelumnya melihat ob saja dia sudah mual.
"Emm..Jalan kaki pak!"
"Apa?"Damian yang kini merespon karena terkejut.Dia tahu daerah itu lumayan jauh dan jika berjalan bisa menghabiskan waktu satu jam lebih.Rey melirik Damian yang melotot karena terkejut begitu juga dengan Bu Ida yang tak menyangka jika Rumsi nekad berjalan kaki.
"Kenapa tidak naik kendaraan umum?"
"Saya harus berhemat pak.Saya ingin agar adik saya bisa terus bersekolah dan saya juga membutuhkan uang untuk biaya pengobatan bapak saya!"
Rey termenung,di usia nya yang masih muda karyawan nya ini harus menanggung beban berat di pundak nya sementara dia dengan kekuasaan nya langsung memecat setiap orang yang melakukan kesalahan tanpa mau mendengarkan apa penjelasan orang itu.
"Baiklah,hari ini saya tidak akan memecat siapa pun dan mulaì besok kamu dan adik mu boleh tinggal di rumah kecil di belakang kantor ini tanpa membayar apa pun jadi kamu bisa menyimpan uangmu.Dan saya ingin kamu bekerja dengan benar disini jangan sia siakan kesempatan yang saya berikan!"Rey tidak ingin lagi mendengar kisah sedih Rumsi dia tidak tega sementara Damian kini bingung rumah kecil mana yang di maksud Bosnya.
Rumsi merasa senang sekaligus tidak enak karena dia mendapat tempat tinggal dari Pak Rey.
"Keluarlah,besok kamu tidak perlu datang untuk kerja,bersiap saja besok sore Damian akan menjemput kalian untuk pindah!"
"Tapi pak?"
__ADS_1
"Jangan membantah!"Bentak Rey kembali garang.
Bu Ida menggandeng tangan Rumsi dan permisi keluar sebelum Pak Rey berubah pikiran dan memecat mereka.
"Maaf Tuan,tapi di belakang kantor tidak ada rumah?Mereka mau di tempatkan dimana?"Damian menanyakan apa yang ada dalam pikiran nya.
"Itu urusanmu bagaimana caranya agar besok rumah itu beserta isinya harus sudah ada!"Jawab Rey ringan tanpa beban,tidak seperti Damian yang kepalanya seperti tertimpa puluhan ton batu.
"Hahh?"
"Jangan buang buang waktu Dam!Segera hubungi seseorang agar rumah itu segera jadi!"Rey menggelengkan kepala melihat Damian yang mendadak jadi bodoh.
Damian pun tersadar"Ahh iya maaf bos!"Segera dia keluar dari ruangan Rey untuk menghubungi seseorang yang akan melaksanakan perintah bosnya medirikan rumah dalam satu malam seperti kisah legenda.
Hari ini Damian sangat sangat sibuk dia dengan turun langsung untuk mengawasi rumah yang di buat dadakan untuk Rumsi,entah apa yang spesial dari gadis muda itu sampai bos nya rela melakukan semua itu tapi ya nasib gadis itu memang sangat malang.
"Rumsi terimakasih ya!Berkat kamu saya tidak jadi di pecat!"Kata bu Ida setelah mereka kelyar dari ruangan Pak Rey.
"Sudahlah,jangan kita pikirkan lagi yang penting sekarang kedepannya kita harus bekerja sungguh sungguh dan jangan membuat pak Rey marah lagi!Dan Rumsi jika kamu punya madalah dan ingin berbagi cerita kamu bisa bicara dengan saya jangan sungkan ya!"
Rumsi mengangguk dan tersenyum bahagia,dia bersyukur sekarang dia di kelilingi orang orang yang sangat menyayanginya dan perduli dengan nya.
"Iya bu,terima kasih!"
"Sudah sekarang kamu kembali ke belakang ya,saya juga akan kemabali keruangan saya!"
Mereka pun mengakhiri pembicaraan mereka dan kembali ke tempat mereka masig masing.
Rumsi melangkah ke tempat dimana teman teman nya menunggu dengan cemas dan pada saat Rumsi masuk semua mata langsung menuju ke arahnya.
"Bagaimana?"Tanya Rida tidak sabar bahkan dia meyeret tangan Rumsi saking penasarannya.
"Iya Rumsi cepat bicara apa bu Ida di pecat?"Tanya yang lain juga tak sabar.
__ADS_1
"Jangan khawatir tidak ada yang di pecat."Jawab Rumsi seraya tersenyum
"Kamu yakin?"Tanya Rida yang masih tidak percaya.
"Iya yakin.Pak Rey masih mau memberikan kesempatan lagi buat kami!"
"Wahhh."Jawab mereka sermpak.
"Ini gak biasa loh,ada keajaiban apa ini sampai pak Rey gak mecat siapa siapa?"
"Ya ini keajaiban Rumsi lah,setelah dia bicara dengan pak Rey,bi Ida gak jadi di pecat padahal tadi bu Ida udah nangis nangis karena mau di pecat pak Rey."
"Bukan,ini karena pak Rey memang baik."Rumsi merasa malu karena teman nya memujinya berlebihan.
"Ya udah intinya kita harus bersyukur karena kita tetap masih bekerja disini!"Ucap Rida.
Mereka semua setuju dengan apa yang Rida katakan dan kembali pada pekerjaaan masing masing.
Rumsi sedang menyiapkan kopi untuk Pak Rey dengan di bimbing langsung oleh bu Ida agar Rumsi tidak melakukan kesalahan lagi.Mereka semakin dekat karena kejadian pagi tadi.
"Di ingat ya Rum,semua takaran yang sudah ibu kasih tahu tadi agar pak Rey tidak marah dan memecat kita.Pak Rey itu orang nya sebenarnya baik tapi karena sesuatu dia jadi seperti sekarang.Ehh enggak enggak!"Bu Ida menutup mulutnya yang keceplosan.
"Ibu kenapa?"Tanya Rumsi bingung.
"Ahh..Enggak!Sudah sekarang kamu antar kopi itu,ingat yang semua yang ibu katakan tadi jangan sampai kamu kena marah lagi ya!"Bu Ida kembali mengingatkan Rumsi.
"Iya bu,Rumsi akan mengingat semua yang ibu katakan dan akan berusaha sebaik mungkin agar pak Rey tidak marah lagi.Sekarang Rumsi antar kopi nya dulu ya keburu dingin!"Ucap Rumsi pamit pada bu Ida.
"Iya iya.Sudah cepat dan hati hati jangan sampai tumpah!"
Rumsi tersenyum dan melangkah pergi meninggalkan bu Ida yang masih diam di tempatnya melihat Rùmsi yang semakin menjauh.
"Kasihan kamu nak,Diusia mu yang seharusnya masih menikmati indah nya dunia kamu harus menanggung beban berat di bahu mu.Semoga kamu kuat dan tidak menyerah!"Gumam Bu Ida yang tidak sadarada seseorang yang mendengar.
__ADS_1