
Pak Saiful tidak bisa berbuat banyak melihat Rumsi yang ditarik keluar oleh anak anak bu Retno karena kini wajah istrinya sudah semakin pucat.
Brakk
Dian berlari masuk dengan wajah yang semakin pucat."Pak bu Rahma tidak ada dia sedang pergi keluar kota."Lemas Dian menyampaikan kabar itu.
"Kita bawa ke rumah sakit saja pak.Sepertinya keadaan ibu sudah sangat mengkhawatirkan."Fero memberi usul namun sepertinya pak Saiful masih memikirkan sesuatu.
"Jangan pikirkan biayanya pakai uang Fero yang tidak jadi di pakai untuk membayar bu Retno.Nyawa ibu lebih penting pak!"
Pak Saiful segera membopong istrinya,tidak dihiraukan lagi bajunya yang sudah banyak terkena darah istrinya.
Beberapa warga sudah terlihat berkumpul di halaman rumah pak Saiful mereka semua mendengar suara Rumsi yang meronta ronta karena tidak mau di bawa oleh bu Retno tapi semua orang hanya datang untuk sekedar ingin tahu saja tidak ada yang berniat untuk membantu Rumsi.
" Pak tolong bantu antarkan kami ke rumah sakit!"Teriak pak Saiful
Mereka hanya diam tidak berniat membantu karena takut di bilang ikut campur urusan orang.
"Pak,bu tolong bantu kami!"Pak Saiful mengiba tapi tidak seorang pun yang bergerak.
"Kalian memang manusia manusia tidak berperasaan.Kalian hanya datang menonton tetangga kalian yang membutuhkan pertolongan tanpa mau membantu.Bagaimana jika posisi ini suatu saat nanti terjadi pada kalian dan tidak ada yang membantu?"Fero sangat geram dengan sikap warga sekitar yang tidak punya empati sama sekali.
"Ayo pak.Kita sudah cukup tahu manusia seperti apa mereka."Fero segera mengajak pak Saiful untuk mencari kendaraan umum.
Pak Saiful menangis sedih saat terpuruk seperti ini hanya Fero yang mau membantu mereka,bahkan orang yang pernah di bantu pak Saiful pun sama sekali tidak mau menolongnya.
Tak lama mereka mendapatkan angkutan umum walaupun sedikit alot namun karena pasti banyak darah yang akan bercecer di mobilnya.
__ADS_1
Mereka tiba di rumah sakit pak Saiful berlari membopong istrinya.
"Tolong dok!Tolong istri saya."Teriak pak Saiful.
Para perawat pun berlari membantu setelah memindahkan bu Naila mereka membawanya ke ruang UGD.
Fero segera mengurus administrasi agar bu Naila segera mendapat pertolongan.
Pak Saiful memeluk Dian,mereka menangis menunggu pintu ruang UGD terbuka.
Fero yang menyaksikan kemalangan keluarga Rumsi pun merasa sedih,setiap keluarga punya masalahnya sendiri dan kita tidak bisa menyalahkan sang pencipta karena takdir yang kita terima.Selagi kita mampu maka kita pasti akan terus di uji.
Fero mendekat"Sabar ya pak,Dian.Kita doa kan ibu agar baik baik saja!"
Cinta yang benar akan membuat kita menjadi orang yang paling beruntung dan membuat kita seakan ada di surga dunia tapi cinta yang salah akan menjadi neraka dunia dan orang orang terdekat kita juga akan mendapatkan jilatan api neraka itu.
Pintu ruang UGD Terbuka,wajah sendu seorang dokter terlihat."Bagaimana istri saya dok?"Tanya Pak Saiful tidak sabar dan terdengar sangat khawatir.
Bagai di timpa batu besar pak Saiful langsung luruh ke lantai dia seperti kehilangan tenaganya dan keberanian nya untuk sekedar melihat istrinya ke dalam.
"Ibu.."Dian berteriak histeris mendengar bahwa ibunya sudah meninggal sementara Fero yang menjadi saksi hancurnya sebuah keluarga yang sangat harmonis ini ikut menangis.Sungguh cinta Rumsi membinasakan hidupnya dan seluruh keluarganya.
Fero langsung memeluk Dian yang histeris memanggil ibunya."Ibu kak,ibu gak mungkin ninggalin Dian kak.Dokter itu pasti bohong kan kak?"Dian masih belum bisa menerima kepergian ibunya.Fero melihat ke arah pak Saiful yang begitu terpukul dia memukul kepalanya sendiri entah apa yang dia pikirkan sekarang.
"Dian yang sabar ya.Jangan seperti ini kasihan bapak!"Dian langsung melepas pelukan Fero dan berlari memeluk bapak nya tapi pak Saiful tidak meresponnya,pak Saiful terus memukul dadanya yang mungkin terasa sesak karena menangis.
"Bapak..!"Dian memanggil bapaknya tapi pak Saiful hanya diam dan terus menangis.
__ADS_1
Fero menangis melihat semua yang terjadi dia tidak kuat menyaksikan semuanya.
"Sudah ya Dian.Kita lihat ibu ya!Pak ayo pak!"Fero mengajak Dian dan pak Saiful untuk melihat jenajah bu Naila tapi lagi lagi Pak Saiful tidak merespon dia hanya terus menangis sambil sesekali memukul kepala dan juga dadanya bergantian.
Fero bisa merasakan hancurnya hati pak Saiful, keadaan Rumsi yang hamil di luar nikah dan di perlakukan buruk oleh kaluarga Heri serta hutang yang semakin menggunung apalagi sekarang pak Saiful kehilangan wanita yang di cintainya yang menemaninya selama ini bersumber dari masalah yang sama.
"Pak..Bapak harus kuat ya!"Fero memgang lengan pak Saiful berharap pak Saiful mau merespon nya.
Pak Saiful melihat Fero.Fero merasa senang karena pak Saiful mau meresponnya tapi kejadian selanjutnya di luar dugaan.Pak Saiful tertawa keras bahkan sangat keras.
Fero sendiri sangat takut melihatnya sementara Dian semakin menangis melihat keadaan bapaknya yang seperti sudah kehilangan akal sehatnya.
"Bapak,,Hikss jangan seperti ini pak.Dian takut!"Dian memeluk Fero tubuhnya bergetar mungkin benar benar takut dengan keadaan bapaknya.
Pak Saiful diam tidak tertawa tapi kini dia menangis,pilu sekali mungkin ini perasaan nya yang sebenarnya sedih namun tidak bisa di ungkapkan.Tapi tidak berlangsung lama pak Saiful kembali tertawa,Fero merasa ini sudah tidak beres segera berlari mencari bantuan takut jika tiba tiba pak Saiful mengamuk.
Beberapa orang perawat pria datang bersama Fero mereka juga melihat bagaimana pak Saiful tertawa,terkadang juga marah marah.Dian sudah menangis memeluk lututnya dia ketakutan melihat keadaan bapaknya.Gadis itu pasti sangat terpukul entah apa yang akan terjadi pada mentalnya Fero juga tidak tahu.
Salah seorang perawat menyuntikkan sesuatu ketubuh pak Saiful terlihat tubuhnya kian melemah,mereka lalu mambawanya kesebuah ruangan untuk di periksa.
Fero sendiri memeluk Dian dan membimbingnya untuk menemui ibunya."Ibu..bangun bu!Dian takut bu.Jangan tinggalkan Dian bu,bangun Dian mohon bu!"Dian menggoyang goyangkan mayat ibunya dia terus berusaha membangunkan nya tapi itu tidak akan terjadi.
"Dian yang sabar ya!Jangan seperti ini,ibu sudah tenang disana.Dian harus mendoakan ibu,kasihan ibu dia sedih jika Dian seperti ini!"Fero tidak tahu harus berkata apa untuk menenangkan Dian.
"Ini semua salah kak Rumsi.Dian benci kak Rumsi!"
Degkk
__ADS_1
Fero tidak menyangka jika Dian akan berpikir sampai kesana hatinya benar benar hancur sekarang."Jangan bicara seperti itu,kak Rumsi juga tidak mau semua ini terjadi!"
"Tapi semua ini tidak akam terjadi kalau kak Rumsi tidak pacaran dengan Heri!"jawaban Dian membuat Fero tidak bisa berkata apa apa lagi.