Mencintai Pembunuh Suamiku.

Mencintai Pembunuh Suamiku.
Bab 45. Penasaran


__ADS_3

"Tuan.."Kata Rumsi saat melihat Rey dan Damian juga datang.


"Sudah diamlah,Ida kamu kembali ke kantor dan saya tidak mau jika sampai ada gosip apapun"Kata Rey mengalihkan pandangannya pada Ida.


"Baik pak.Emm Rumsi saya pamit kembali ke kantor dulu ya nanti saya akan datang lagi jenguk kamu!"Pamit bu Ida pada Rumsi.


"Iya bu,terima kasih!"Jawab Rumsi.


Setelah kepergian Ida suasana ruangan Rumsi menjadi hening.Kecanggungan sangat terasa Rumsi merasa malu karena akhirnya dia ketahuan jika sedang mengandung tapi walau begitu dia tetap punya suami bukan seperti wanita nakal di luar sana.


"Kakak,bagaimana keadaan kakak?"Tanya Dian masih menangis.


"Kakak tidak apa apa,jangan khawatir!"Rumsi hanya bisa tersenyum melihat Dian yang khawatir walau sebenarnya dia juga sedang khawatir takut jika Rey akan memecatnya dan mengusirnya dari rumah yang baru satu hari mereka tempati itu.


"Kamu istirahat saja dulu disini selama dokter belum mengijinkan kamu pulang!"Kata Rey sementara Damian hanya mengamati saja apa yang di katakan Bos nya.


"Tapi pak,saya harus bekerja!Saya orang baru tapi sudah banyak menyusahkan dan tidak masuk."


"Itu kamu sadar,makanya sekarang kamu istirahat sampai kamu pulih biar kamu beaok besok bisa bekerja dengan baik!"Ucap Rey seakan kesal.


Rumsi hanya menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Tuan,boleh saya menggantikan kakak saya bekerja?"


Rey mengamati wajah Dian yang polos dan masih berurai air mata.


"Untuk apa?"Tanya Rey dingin.


"Emm agar kakak saya tidak di pecat."


"Sudahlah jangan terlalu banyak berpikir,kamu bersiap saja besok untuk sekolah.Saya sudah mendaftarkan mu dan besok Damian akan mengantar kan mu kesekolah baru!"


Mata Dian berbinar dia dengan cepat menghapus air matanya dan wajahnya kini berubah bahagia.


"Benarkah Tuan?Besok saya sekolah Tuan tidak berbohongkan?"Tanya Dian nyerocos sampai lupa kalau kakak nya sedang sakit.


Rey melihat tingkah Dian yang lucu membuatnya tersenyum,seakan dia melihat adik nya yang sudah tiada.


"Iya saya tidak mungkin berbohong."


"Asyikk..Besok Dian sekolah."Teriak Dian girang.


"Syuuuttt..Jangan berisik kakak kamu sedang sakit!"Kata Damian.


"Ehehehe..Dian lupa.Maaf ya kak."

__ADS_1


"Dasar,kalau sudah senang lupa semua nya."


Dian hanya nyengir mendengar apa yang di katakan kakak nya.


"Emmm..Tuan,bisa kita bicara?"Tanya Rumsi takut takut.


"Istirahat saja,kita bisa bicara lain waktu saya juga punya banyak pertanyaan untuk kamu!"Rey tahu jika Rumsi ingin menjelaskan tentang kehamilan nya agar dia tidak salah paham. tapi saat ini Rumsi harus pulih dahulu.


"Baik Tuan!"


"Kita kembali ke kantor Dam!Dian kamu ingin disini atau kembali saja?"


"Dian disini saja Tuan menemani kak Rumsi!"


"Ya sudah nanti saya akan datang lagi menjemput kamu pulang,karena kamu harus sekolah besok!"


"Baik Tuan."


"Rumsi kamu istirahat!Ayo Dam."


Damian mengangguk dan membukakan pintu untuk Rey,sementara Dian mendekat pada kakak nya.


"Kenapa sampai begini kak?Apa kakak terjatuh?"Tanya Dian.


"Iya,kakak ceroboh tadi makanya kakak jadi seperti ini.Maaf ya sudah membuat kamu khawatir."Rumsi sengaja berbohong pada adiknya karena tidak ingin membuat adiknya merasa takut dan trauma.


"Iya.Lain kali kakak hati hati!"Jawab Rumsi.


......................


Rey duduk termenung di kursinya,pikiran nya menjadi tidak karuan setelah tahu jika Rumsi tengan berbadan dua.Entah apa yang membuat nya begitu memikirkan keadaan Rumsi dan juga Dian,kedua wanita ini begitu mencuri perhatian nya sejak pertama kali mereka bertemu.


"Apa kita perlu mencari tahu tentang mereka Tuan?"Tanya Damian dengan hati hati.


"Entah lah,aku memang penasaran dengan mereka tapi masih ada yang lebih penting dari itu yaitu mencari tahu siapa yang telah menyebabkan keluargaku meninggal!"Jawab Rey dengan pandangan yang menerawang.


"Baik Tuan."


"Damian,apa memang orang kita belum menemukan siapa pelakunya?Kenapa lama sekali rasanya aku sudah ingin mencincang orang itu."


"Belum tuan,sepertinya orang itu sudah pergi jauh Tuan.Data data orang itu juga hilang seperti di lindungi oleh seseorang hingga kita kesulitan untuk melacaknya."Kata Damian menjelaskan.


Rey menghembuskan nafasnya kasar.Sudah sekian lama tapi siapa yang menjadi penyebab kematian orang tua dan adik nya belum juga di ketahui.


"Tentang Rumsi kita harus menjaganya,aku khawatir jika apa yang Dian katakan tentang suami Rumsi benar maka pasti mereka dalam bahaya."

__ADS_1


"Baik Tuan."


Damian keluar untuk melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda karena kejadian tadi ,di luar dia mendengar kasak kusuk para karyawan yang sedang membicarakan tentang Rumsi yang pendarahan.


"Apa kalian di gaji untuk bergosip?"Tanya Damian dengan nada dingin.


Mereka terkejut mendengar suara Damian yang sudah ada di belakang mereka.


"Maaf Tuan..!"Mereka bubar satu persatu.


"Ingat jika kalian masih membahas tentang dia maka kalian akan mendapat sanksi!"Ancam Damian sebrlum mereka benar benar bubar.


Para karyawan itu hanya mengangguk sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Damian yang dingin.


"Dasar..Suka sekali membicarakan orang lain padahal diri sendiri belum tentu benar!"Omel Damian sembari melanjutkan langkah nya menuju ke ruangan nya.


"Bu Ida,Itu karyawan baru kenapa bisa sampai pendarahan gitu apa dia sedang hamil?"Tasaya karyawan yang terkenal suka kepo pun langsung mendatangi bu Ida untuk mengetahui tentang Rumsi.


"Saya tidak tahu,jadi jangan tanya saya!"Jawab bu Ida yang sudah di minta pak Rey untuk tidak menyebar gosip.


"Alah bohong,ibu pasti tahukan?Ibu kan juga ikut mengantar dia kerumah sakit masa ibu tidak tahu?"Kukuh Tasya.


"kamu penasaran sekali?"Tanya Bu Ida ,ini kesempatan nya untuk mengerjai Tasya si biang gosip.


"Iya bu Iya,saya penasaran sekali!"Jawab Tasya tidak sabar.


"Pak Damian!"Panggil Bu Ida yang kebetulan melihat Damian lewat.


"Ada apa?"Tanya Damian dingin tanpa ekspresi.


"Maaf pak.Ini Tasya penasaran dengan keadaan Rumsi padahal saya sudah bilang sama dia kalau saya tidak tahu.Tapi dia tetap kukuh dan bilang kalau saya ikut ke rumah sakut masa tidak tahu.Jadi tadi bapak kan ikut kerumah sakit biar Tasya tanya langsung ke bapak."Kara Bu Ida membuat Tasya ketakutan,apalagi dia sudah perna mendapat peringatan.


"Apa kamu membayar biaya rumah sakit nya?"Tanya Damian menatap Tasya.


Tasya merasa terpojok."Dasar wanita sundel,dia ngerjain aku kalau gini."Omel Tasya dalam hati.


"Ahh,tidak pak.Maaf saya cuma ingin tahu keadaan nya saja!"Elak Tasya.


"Dengar jika kalian masih suka bergosip maka kalian akan di pecat.Paham?"Tegas Damian.


Tasya melotot .."Ahh tidak,aku tidak mai di pecat!"batin Tasya.


"Apa kamu dengar?"Ulang Famian.


"Iya tuan,saya dengar."Jawab Tasya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2