
Setelah mendapat persetujuan dari Rumsi,hati Heri jadi berbunga bunga.Dengan penuh semangat dia pun segera memacu kendaraan nya ke tempat tongkrongan Heri.
Disana memang sepi ,tempat yang jauh dari keramaian membuat Heri lebih leluasa melakukan niat nya.
"Ternyata gampang banget menarik simpati Rumsi."Batin Heri.
Sementara Rumsi belum menyadari jika hidup bahagia yang selama ini di jalani nya akan berubah seratus delapan puluh derajat.
Tanpa aba aba,Heri yang sudah menahan gairah nya selama beberapa hari itu langsung menyerang Rumsi.
"Ahhh mas."Rumsi mendesah saat tangan Heri sudah masuk kedalam baju seragamnya.
"Hemmm...Kamu nikmati saja sayang biar mas yang melakukan nya!"Kata Heri
"Mas..Taap..Emmhh."Rumsi tidak lagi bisa menyelesaikan ucapan nya karena kini Heri sudah membungkam bibir nya.
Heri tidak perduli lagi dengan apa yang ingin di katakan Rumsi.Dia terus saja menyerang Rumsi tanpa jeda,membuat Rumsi meronta nikmat.
Tiba saat Heri menyerang daerah intinya Rumsi sedikit takut tapi dengan tenang Heri meyakinkan bahwa semua akan nikmat.
Rumsi hanya memejamkan mata nya sesaat saja.Karena ini bukan lagi yang pertama membuat Rumsi tidak merasakan sakit yang terlalu.
Akhirnya setelah mendapatkan pelepasan nya yang kedua Heri menyudahinya.Sedangkan Rumsi merasa tubuh nya sangat lemah tapi hari sudah sore dia harus pulang.
Dengan langkah yang di seret Rumsi segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya.Sementara Heri tersenyum puas.
"Aku bagai dapat double keberuntungan.Dapat anak perawan di tambah dapat Moge."Gumam Heri.
"Mas,anterin Rum pulang ya!Udah sore."Rumsi keluar dari kamar mandi dalam keadaan rapi.Hanya wajah nya terlihat sangat lelah.
"Kamu udah kuat?Kalau masih lemas,kamu istirahat saja dulu!"
"Gak apa apa mas.Ini sudah sore nanti bapak nyariin Rumsi."
Heri mengalah karena tidak ingin berdebat lagi,semakin Rumsi cepat pulang dia juga bisa beristirahat.
Seperti biasa pertigaan adalah tempat pertemuan mereka dan di situ pula Heri menurunkan Rumsi.Setelah Rumsi pamit Heri pun segera melajukan motor nya pulang.Ia juga ingin beristirahat.
"Rum.Kok sampe sore pulang nya?"Tanya bapak Saiful ketika melihat Rumsi membuka pintu.
"Iya pak.Ada pelajaran tambahan jadi Rum telat pulang nya.Mafin Rum ya pak!"Ucap Rumsi
__ADS_1
"Tapi kok hampir setiap hari pulang nya telat,hanya beberapa hari ini saja yang tidak telat.Kamu tidak membohongi ibu dan bapak kan Rum?"Pertanyaan bapak nya membuat Rumsi gemetar,bagaimana pun dia bukan lah pembohong handal.
"Ti..tidak pak.Rum tidak membohongi ibu dan bapak.Rum minta maaf jika beberapa hari ini rum telat pulang!"Rumsi merasa sangat bersalah tapi semua sudah terjadi dan tidak bisa di ubah lagi.
"Ingat Rum,Bapak tidak akan memaafkan jika kamu sudah membohongi ibu dan bapak dan ini juga berlaku untuk kamu Dian."Pak Saiful memeperingati kedua putri nya
Bapak Saiful memang sangat tegas dan disiplin dalam mendidik anak anak nya.
"Iya pak.Tenang saja ,jika Dian membohongi bapak,bapak bisa tendang Dian dari jendela."Suasana yang tadi nya tegang jadi mencair karena ulah Dian.
"Kenapa dari jendela?"tanya bapak Saiful yang sedikit mengangkat sudut bibir nya.
"Kalau dari pintu pasti gampang nendang nya.Tapi kalau dari jendela bapak pasti kesusahan karena tinggi."Semua yang mendengar nya jadi tertawa,sementara Rumsi sedikit merasa tenang karena setidak nya bapak nya tidak akan mengatakan hal lain lagi.
"Biar makin susah sekalian dari atap rumah aja!"Usul ibu Naila.
Ha..haha...haha....Gelak tawa terdengar dari rumah kecil Bapak Faisal.
"Ya sudah Rum,sekarang ganti baju dan makan.Ini sudah sore jangan sampai kamu sakit!"Kata pak Saiful
Waktu terus berjalan,semua berlalu seperti biasa.Rumsi juga sudah tidak pernah pulang terlambat lagi dan Heri jarang menemui Rumsi karena Rumsi sering menghindar saat Heri mengajak nya jalan.
Hoekk...
Rumsi merasa tubuh nya lemas dan wajah nya juga terlihat pucat.
"Kakak kenapa?Apa masuk angin?"Tanya Dian
Hoekk..
"Bu..Kakak sakit bu."Dian memanggil ibu nya yang ada di belakang bersama pak Saiful yang hari ini kebetulan juga tidak bekerja.
"Dian kenapa?"Tanya ibu Naila
"Kakak sakit bu,dia muntah muntah terus"
Bapak Saiful dan ibu Naila saling lirik dan segera beranjak menemui Rumsi yang ternyata masih muntah muntah.
"Rum,kamu kenapa?Masuk angin ya?"Tanya ibu Naila
"Sudah bawa kekamar dulu bu.Terus di pijat pakai minyak angin,biar bapak buatkan teh anget dulu."kali ini bapak Saiful yang bicara.
__ADS_1
Bu Naila pun membimbing Rumsi ke kamar,sebelumnya dia sudah meminta Dian mengambil minyak angin yang biasa di gunakan pak Saiful di kamar mereka.
Setelah mengantarkan teh hangat ke kamar Rumsi ,bapak Saiful meninggalkan kamar dan kembali duduk di belakang.
"Kamu sering begadang ya?"Tanya bu Naila sambil memijit punggung Rumsi.
"Enggak kok bu.Rumsi gak pernah bergadang."Elak Rumsi
Hoekkk
Lagi lagi Rumsi mual,di tambah bau minyak yang menyengat membuat nya ingin mengeluarkan semua isi perutnya yang belum terisi.
"Kita panggil bu bidan saja ya.Seperti nya mual kamu gak hilang hilang ibu takut makin parah!"Bujuk ibu
Rumsi hanya mengangguk saja dengan usul ibu nya.
"Ya sudah,ibu bilang sama bapak dulu!"Ibu meninggalkan Rumsi dan Dian di kamar
"Pak,tolong panggilkan bu bidan ya!Kayak nya Rumsi masuk angin nya parah."
"Sudah di pijat pakai minyak angin?"
"Sudah pak.Tapi dia masih mual mau muntah terus."
"Ya sudah ,biar bapak panggil dulu."Akhir nya bapak Saiful pun bergegas menjemput bu bidan.
Selang beberapa waktu Bapak sudah pulang di ikuti seorang wanita di belakang nya dia adalah bidan Rahma.
"Sering telat makan ya?"tanya bidan Rahma sambil mengeluarkan peralatan nya."Sebentar ya ibu periksa dulu!"Bidan Rahma melakukan pemeriksaan di temani semua anggota keluarga termasuk pak Saiful.
Bidan Rahma mengerutkan alis nya saat menyentuh bagian perut Rumsi."Kapan terakhir datang bulan?"Tanya Bidan Rahma sedikit ragu karena dia tahu Rumsi masih sekolah dan anak nya yang tertutup.
Ibu Naila dan pak Saiful saling lirik,jantung mereka berdetak kuat.Pertanyaan bidan Rahma seperti membawa pertanda kaburukan bagi keluarga mereka.Dian tidak mengerti apa pun sementara Rumsi mengingat kembali jadwal rutin nya.
"Sebaik nya kita tes saja ya.Biar jangan asal duga saja!"Bidan Rahma pun memberikan solusi dan berharap pemeriksaan nya kali ini salah.
Dengan di bantu Dian.Rumsi pergi kemar mandi dan melakukan tes seperti apa yang di ajarkan bidan Rahma.Jangan di tanya seperti apa detak jantung Rumsi,dia tahu alat apa itu dan apa yang akan terjadi jika alat itu menunjukkan dua garis.
Setelah selesai Rumsi keluar dengan menggenggam erat alat di tangan nya ,keringat nya sudah bercucuran.
Bidan Rahma meminta alat tes itu dan melihat bagaimana hasil nya dan ternyata...
__ADS_1