
Tanpa memperdulikan teriakan Clara yang menggila Rey segera berlari mengejar Damian yang sedang membawa membawa Rumsi,Bu Ida yang panik juga tidak sadar jika dia ikut dengan Damian karena takut terjadi sesuatu pada Rumsi.
Rey menghadang mobil yang di kendarai Damian,untung saja Damian bisa menghentikan nya tepat waktu jika tidak entah apa yang akan terjadi dan tanpa menunggu lama lagi Rey segera membuka pintu dan masuk ikut mengantar Rumsi ke rumah sakit.
"Kenapa dia bisa seperti ini,apa yang terjadi?"Tanya Rey pada Damian dan bu Ida.
"Saya tidak tahu tuan,tapi darah nya tidak berhenti."Jawab Damian.
"Emmm maaf tuan,tapi biasa nya jika terjadi pendarahan seperti ini itu artinya dia sedang hamil tap..."
"Apa?"Kaget Damian dan Rey bersamaan.
Bu ida kaget mendengar teriakan Rey dan Damian yang juga kaget mendengar ucapannya.
"Apa maksudmu?"Tanya Rey
Bu Ida terlihat ragu ragu dan takut"Emm itu hanya dugaan saya saja Tuan."Jawab Bu Ida gemetar
"Sudah lah,ayo cepat Damian aku tidak mau dia sampai kehabisan darah!"
Damian menambah kecepatan laju mobilnya dan mereka pun sampai di rumah sakit terdekat.
Para perawat tampak membantu,Rey dan Bu Ida terus mengikuti kemana para perawat itu membawa Rumsi.
Mereka menunggu di luar ruangan UGD dengan cemas.
"Aku tidak akan melepaskan wanita itu jika terjadi sesuatu pada Rumsi!"Geram Rey.
Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya Rumsi di bawa keluar dan di pindahkan ke ruang rawat.Dokter yang menangani Rumsi pun memanggil Rey untuk menjelaskan keadaan Rumsi.
"Bagaimana kondisinya dok?"
"Kondisinya baik baik sajauntung saja dia cepat dibawa kesini hingga kami masih bisa menyelamatkan bayi yang ada di falam kandungan nya.Tapi sepertinya kandungan nya kurang mendapat asupan vitamin,jadi kondisi janinnya agak lemah tapi semua aman tidak ada yang perlu di khawatirkan."Ucap Dokter itu.
Setelah mendengar oenjelasan dari Dokter yang menangani Rumsi ,Rey hanya diam tanpa mengatakan apa apa.Dia merasa kecewa pada Rumsi yang ternyata sednag hamil dan tidak ada suami di samping nya,Rey berpikir jika Rumsi adalah wanita yang tidak baik terbersit penyesalan di hatinya karena telah membantu Rumsi.
Damian dan Bu Ida mereka juga hanya diam setelah mendengar apa yang dokter itu jelaskan.Mereka berpikir dengan asumsi mereka sendiri.
"Antar aku pulang Dam!"Kata Rey yang membuat Damian heran.
"Dam,kau tidak dengar?"Ulang Rey.
__ADS_1
"Maaf tuan,apa kita tidak menunggu sampai Rumsi sadar?"Tanya Damian memberanikan diri.
"Tidak perlu,biar dia disini menunggunya!"Tanpa menoleh melihat wajah Rumsi Tuan Rey pun keluar dari ruangan Rumsi tampak jelas jika dia sangat kecewa.
Dalam perjalanan Rey tetap tenggelam dalam pikiran nya sendiri.Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya dan entah apa yang membuat nya sangat kecewa seperti itu padahal dia dan Rumsi baru mengenal beberapa hari.
"Apa kita perlu memberitahukan ini pada adiknya Tuan?"Tanya Damian.
"Terserah kamu saja!"Jawab Damian dingin.
Damian bisa merasakan kekecewaan yang dalam pada Tuan nya,dia juga merasakan nya tapi dia tidak bisa mengatakan apa apa karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi siapa suami Rumsi atau kenapa bisa Rumsi hamil tanpa suami?
Rey mengikuti Damian yang turun di depan Rumah Rumsi,dia menatap nanar rumah yang dia bangun mendadak untuk karyawan barunya yang masih kecil itu.
"Tu..Tuan..!"Sapa Dian gagap karena kaget melihat Rey dan Damian ada di depan pintu.Sementara mata nya celingak celinguk mencari keberadaan kakak nya.
"Kak Rumsi kemana?"Tanya nya heran.
"Masuklah!Ada yang ingin kami sampaikan."Kata Damian.
Walau ragu ragu dan khawatir Dian tetap mwnurut dia masuk dan ikut duduk bersama dengan Rey dan Damian.
Sementara Rey hanya diam dan mengamati saja,dia sudah kecewa maka untuk bicara pun dia sudah malas.
"Apa,bagaimana dengan kandungan nya?"Tanya Dian panik.Benar saja Dian tahu dugaan Damian tidak meleset.
"Dimana suaminya?"Kali ini Rey yang bertanya.
Dian merasa kaget dengan pertanyaan Rey,secepat inikah mereka harus tahu tentang Rumsi.
"Katakan saja sejujurnya!"
Dian mengusap matanya yang sudah basah,tangis nya bukan nya berhenti tapi malah semakin deras.
"Kami lari dari mereka,mereka semua jahat hikss!"
Rey dan Damian mengerutkan alisnya saling pandang.
"Mereka ,siapa?"
"Suami kak Rumsi dan orang tuanya.Mereka menyiksa kak Rumsi.Suaminya juga sudah membohongi kakak hingga kakak mau menikah dengan nya tapi bukan nya di sayang kakak justru di perlakukan seperti hewan.
__ADS_1
Mereka menyiksa kakak,bahkan mereka yang menyebab kan ibu meninggal dan bapak masuk kerumah sakit karena tidak bisa menerima kenyataan ini semua."Jelas Dian.
Rey semakin dilema,entah apa yang dia rasakan kini.Melihat Dian menangis membuat nya ingat dengan adiknya.
"Lalu bagaimana kalian bisa sampai kesini?"
"Teman kak Rumsi membantu kami,dan disana dia yang menjaga bapak tapi kemarin dia bilang jika teman teman suami kak Rumsi juga menyakitinya jadi rencana nya bapak akan kami pindahkan kemari."
"Baiklah,sekarang apa kau mau melihat kakak mu?"Tanya Rey.
"Heemm..Iya saya mau Tuan.!
"Ayo!"
"Tuan.."
"Ada apa?"
"Bisakah saya minta bantuan Tuan?"
"Katakan?"
"Saat ini suami kak Rumsi juga ada di kota ini,dia mencari kami dan pasti bukan untuk tujuan baik.Kami takut jika dia sampai menemukan kami Tuan"
Rey dan Damian kaget mendengarnya jika apa yang dikatakan Dian benar maka bisa di pastikan jika mereka dalam bahaya sekarang.
"Baiklah,jangan khawatir saya akan pikirkan cara untuk melindungi kalian dan lelaki itu tidak bisa menemukan kalian.Sekarang ayo kita temui kakak mu!"Ajak Rey.
Dian mengikuti kedua pria di depan nya,air.atanya masih terus mengalir membasahi pipinya.Antara takut jika terjadi sesuatu pada kakak nya tapi dia sedikit tenang karena Rey tidak marah setelah taju kalau kakak nya sednag hamil.
"Masuklah,jangan khawatir kakakmu baik baik saja begitu juga dengan kandungannya!"Kata Damian menjelaskan agar Dian sedikit tenang.
Awalnya Rey tidak ingin lagi melihat Rumsi tapi setelah mendengar apa yang dikatakan Dian,Rey menjadi kasihan dan memutuskan akan membantu mereka walau belum tahu cerita lengkapnya dan akan menanyakan nya pada Rumsi nanti.
Mereka tiba di rumah sakit dan segera membawa Dian keruangan Rumsi.
"Kakak..!"Teriak Dian saat pintu terbuka.
Rumsi yang sudah sadar tersenyum melihat adiknya tapi senyum itu pudar setelah melihat Rey dan Damian.
"Tuan...!"
__ADS_1