Mencintai Pembunuh Suamiku.

Mencintai Pembunuh Suamiku.
Bab 14.Bertemu Calon istri Heri.


__ADS_3

Ruang keluarga Heri terasa sangat riuh.Canda tawa dari tuan rumah dan tamunya terasa sangat hangat.Raut bahagia juga terpancar dari wajah Heri dan juga seorang wanita yang sangat cantik.Tapi kebahagian itu tidak bisa di rasakan oleh seorang wanita yang kini sedang menangis di pojok dapur rumah tersebut.Bagaimana mungkin dia bisa bahagia jika mertuanya sedang menjodohkan suaminya sendiri dengan wanita lain.


Sendiri Rumsi meratapi nasibnya yang sangat malang."Ibu,,Hiksss...Sakit bu.Hati Rumsi sangat sakit!"Lirih Rumsi meremas baju di bagian dadanya.


"Rumsi!"


Rumsi yang mendengar suara ibu mertuanya segera menghapus airmatanya.Dia tidak mau jika keluarga Heri tahu jika dia baru saja menangis.


"A..Ada apa bu?"Tanya Rumsi gugup,mata nya melirik ke arah wanita yang bergelayut manja di tangan suaminya Heri.


Jantung Rumsi berdetak sakit menembus sampai ke uluhatinya.Expresi Heri justru terlihat sangat menikmati dan sangat bahagia tanpa paksaan.


"Jangan banyak melamun.Kamu apa gak tahu kalau di rumah ada tamu?"Retno sangat kesal dengan sikap Rumsi yang cuma diam saja.


"Eh..Maaf bu."Rumsi menunduk.


"Cepat buatin minum!Gitu aja mesti di suruh."


Rumsi segera meninggalkan ruangan yang membuat nafasnya sesak.Dia terus berusaha menahan airmatanya agar tidak tumpah.Tapi dia tidak kuat,begitu kakinya sampai di lantai dapur dia benar benar tidak bisa menahannya lagi.


Entah apa yang mereka bicarakan sampai sampai mereka melupakan Rumsi yang sedang meratapi nasibnya.Suara tawa terdengar menggema hingga ke jantung Rumsi.


"Nak,kita pasti kuat.Ibu akan menjaga kamu dan melindungi kamu dari semua hal menyakitkan!"Rumsi menguatkan dirinya sendiri dengan cara mengelus perut ratanya.


Setelah makan malam,tamu yang notabenenya adalah calon istri Heri dan keluarga nya pulang.Rumsi mengamati lekat wajah calon madunya,tapi Rumsi tidak yakin dia calon madu atau calon Nyonya baru di rumah itu,karena dia sendiri hanya dianggap sebagai pemabantu saja.


"Mas."Rumsi mengetuk pintu kamar Heri.

__ADS_1


"Masuk!"Setelah mendengar perintah dari Heri,Rumsi pun membuka pelan daun pintu kamar Heri.


"Mas."Panggil Rumsi lagi saat melihat Heri yang tengah pokus pada ponselnya tanpa melihat ke arahnya sedikit pun.


"Ada apa?"Heri masih tidak meliriknya juga.


"A..Apa be..benar mas mau ni nikah lagi?"Rasanya Rumsi tidak sanggup untuk menanyakan nya.


Heri melirik sedikit ke arah Rumsi"Iya."Jawaban singkat Heri justru seperti batu besar yang menghantam hatinya.


"Ta.Tapi mas sudah menikah dan aku juga sedang hamil.Sebaiknya mas menolak perjodohan ini!"Rumsi menangis tapi Heri sama sekali tidak peduli dengan airmata Rumsi.


"Menolak?"Tanya Heri yang mendapatkan anggukan Rumsi."Bagaimana aku bisa menolak wanita secantik Sella?Lagi pula keluarga Sella itu sangat kaya tidak seperti keluarga kamu yang buat biaya sekolah saja harus minjem ke papa ku.Itu juga kalau sama papa aku aja,pasti ada juga sama orang lainkan?"Bahu Rumsi bergetar air matanya sudah jatuh membasahi bajunya.


"Jangan hina orang tuaku mas!"Lirih Rumsi.


Rumsi yang melihat Heri kembali pokus pada ponselnya segera berbalik.Hati nya sakit,sangat sakit bahkan hancur mendengar Heri yang dicintainya selama ini bicara sedemikian kasar padanya tanpa memikirkan perasaannya sedikitpun.


Rumsi menutup pintu gudang yang kini menjelma menjadi kamarnya.Dia luruh kelantai dengan tubuh yang sangat lemah."Akhhhhh ..."Rumsi menyumpal mulutnya sendiri dengan baju yang dia gunakan."Ibu,,Bapak..Akhahhhh..Ampuni Rumsi..Huhuhuhuhu...Rumsi memukul mukul dadanya yang terasa sesak dan sakit.Baru beberapa hari Rumsi ada di rumah Heri tapi sepertinya airmatanya tidak pernah berhenti keluar.


Gadis belia yang harusnya mempunyai masa depan yang lebih baik kini hancur karena cinta pertama yang salah.Bahkan penyesalan nya tidak bisa mengembalikan semuanya seperti semula.


Setelah lelah Rumsi bangkit berdiri.Ia memejamkan matanya agar bisa melupakan kenyataan pahit yang dia alami.Rumsi meringkuk memeluk perutnya memberi kehangatan bagi calon bayi yang ada dalam rahimnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah kecil bapak Saiful.

__ADS_1


"Bu,makanlah!Jangan sampai ibu sakit,Kita masih ada Dian yang harus kita urus bu!"Pak Saiful membujuk istrinya yang sejak kemarin sangat susah jika di suruh makan.


"Hiks..Bagaimana ibu bisa makan pak?Sementara di sana Rumsi di jadikan pembantu oleh mereka sementara saat di rumah ini saja Rumsi sama sekali tidak pernah ibu suruh mengerjakan pekerjaan rumah pak!"


Bu Naila memang tidak melihat secara langsung jika Rumsi di jadikan pembantu oleh keluarga Bram.Tapi kemarin saat tetangganya bertemu dengan bu Retno dan Rumsi.Saat itu bu Retno mengatakan pada orang lain disana jika Rumsi adalah pembantunya"Apa benar Rumsi bekerja disana bu?"Tanya tetangganya bu Naila.


Hati orang tua mana yang tidak hancur,jika anak yang dia besarkan seperti berlian tidak di hargai sama sekali oleh orang lain dan orang lain itu adalah mertuanya sendiri.


Pak Saiful tidak menangis seperti bu Naila.Tapi dia juga tidak rela anaknya di perlakukan seperti itu.


"Bapak akan kesana bu!"Walaupun kemarin pak Saiful mengusirnya.Namun bagaimanapun Rumsi tetaplah anaknya,hatinya tidak sekeras batu hingga membiarkan anaknya di perlakukan tidak baik.


Bu Naila menatap suaminya masih menggenang airmata dimatanya."Bapak Yakin?"Tanya bu Naila seakan tidak percaya dengan keputusan suaminya.


"Iya bu.Bapak tidak tega,jika benar benar dia perlakukan sebagai pembantu apalagi dia sedang hamil."Terlihat gurat lelah,kecewa dan juga rasa bersalah karena mengusir Rumsi dari rumahnya itu semata mata karena rasa kecewa yang teramat sangat.


"Bapak mau bilang apa ke mereka?"


Pak Saiful menggelengkan kepalanya"Entahlah bu.Bapak sendiri belum tahu."Pak Saiful menerawang jauh,entah apa yang ada dalam pikiran nya.


"Ibu ikut pak.Ibu pingin melihat Rumsi secara langsung!"


"Ya sudah,besok pagi kita kesana sama sama setelah Dian pergi sekolah biar dia enggak sibuk mau ikut juga!"


Bu Naila sedikit tenang karena akan melihat keadaan Rumsi secara langsung dalam hatinya berharap jika apa yang di katakan tetangganya itu tidaklah benar.


"Semoga dia baik baik saja ya pak.Kalau benar disana dia dijadikan pembantu lebih baik kita bawa pulang saja pak!"Pinta bu Naila.

__ADS_1


"Kita lihat besok ya bu."Entah pak Saiful memikirkan apa,dia tahu benar sifat keluarga itu yang sangat sombong.Itu sebabnya pak Saiful melarang anak anaknya dekat Heri.Tapi takdir sudah menggariskan semuanya maka hanya harus dijalani.


__ADS_2