
Sampai akhirnya ada suara yang mengagetkan aku, suara tersebut adalah suara orang tadi yang dinginnya seperti di kutub Utara. Eh terlalu berlebihan ga sih. Yah pokoknya gitu lah.
"Nunggu siapa?" Tanya nya tanpa melihat ke arah ku. Aku pun ga menjawab dan terus memainkan handphone yang berada di genggaman ku, karena merasa itu bukan untuk ku.
"Punya telinga ga sih kamu?" Tanya nya kembali dengan nada jengkel.
"Maaf mas ngomong sama saya?" Tunjuk ku pada diri sendiri.
"Iya lah siapa lagi kan cuma kamu yang ada disini " ujarnya dengan nada sewot, sambil mengibaskan berkas yang berada di genggamannya.
Aku merasa aneh karena ternyata dia bisa juga kesal dan ini merupakan kalimat terpanjang.
"Di tanya malah bengong " ujarnya membawa ku kembali dari pikiran yang menerawang entah kemana.
"Lebih baik kamu masuk karena akan ada badai kencang" ujarnya sambil melangkah masuk kedalam cafe kembali tanpa mendengarkan jawaban ku.
"Ih sok tau mana ada badai paling cuma hujan sebentar aja" ucapku yang hanya di dengar oleh ku, karena hanya aku sendiri yang berada di depan cafe ini.
__ADS_1
Namun lama menunggu hujan belum juga reda dan semakin deras dan bahkan disertai dengan angin yang makin lama makin kencang.
Aku baru teringat akan perkataan manusia dingin tadi
"apa iya akan ada badai? " Tanya ku dalam hati.
Aku pun mulai takut dan masuk kembali ke dalam cafe karena tidak mungkin juga dalam waktu dekat ini aku akan bisa pulang.
Sampai di dalan cafe aku pun langsung menuju ke ruangan musholla karena sebelumnya aku sudah ke tempat wudhu terlebih dahulu.
Sampai disana aku terkejut mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang suaranya memang tidak begitu merdu tapi sangat enak didengar. Ingatan ku langsung kepada mas Hara yang sampai saat ini belum pernah aku dengar bacaan ayat Alqur'an nya. Sudah beberapa kali aku memintanya namun seakan dia sudah mempersiapkan jawab dan kalau tidak dia pasti bisa mengalihkan pembicaraan tersebut sehingga aku lupa dengan sendirinya.
Setelah selesai sholat ternyata hujan belum reda juga, aku pun melanjutkan dengan membaca sedikit ayat Al-qur'an.
Namun sampai saat aku selesai dengan bacaan ku hujan belum juga berhenti dengan rintiknya yang seakan belum puas membasahi bumi.
Guna membunuh waktu aku berniat mengabari bunda bahwa aku akan terlambat pulang dan juga memainkan ponsel sambil menunggu hujan reda, ya menunggu untuk yang kesekian kalinya namun ternyata handphone ku dalam keadaan mati mungkin kehabisan daya.
__ADS_1
Aku takut ayah dan bunda mengkhawatirkan aku karena ga ada kabar dariku. Untuk itu aku segera keluar setelah menggantung mukena dan di letakkan kembali ke tempat semula.
Aku berniat untuk meminjam handphone mbak Rina yang merupakan seorang karyawan yang sudah mengenal aku.
Namun ternyata beliau tidak masuk kerja hari ini karena harus membawa anaknya ke rumah sakit dikarenakan demam.
Dengan wajah lesu aku kembali duduk di tempat yang sebelumnya kami duduki dengan Bulan dan berharap ayah dan bunda tidak mengkhawatirkan aku walaupun tidak ada kabar dariku.
"Belum pulang juga?" suara itu mengagetkan aku dan ternyata manusia dingin tadi dan dia sudah duduk di hadapan ku dan entah ada apa dengan mata ku, aku merasa bahwa dia semakin tampan saja. Ih kenapa sih dengan pikiran ku ini.
"eh belum mas belum, handphone ku ternyata lowbat dan belum sempat mengabari orang rumah" ujar ku kali ini tanpa ada rasa kesal karena aku merasa memiliki teman di tempat yang pada saat ini hanya ada karyawan saja yang sibuk dengan tugas masing-masing
"mau pinjam handphone ku, tapi pulsa nya ganti ya" ujarnya dengan nada bercanda dan aku terpana akan itu karena ternyata ada juga selera humornya.
"emang boleh mas?" tanya ku dengan antusias
aku pun menerima uluran tangan yang berisi handphone tersebut. Dan segera mengetikkan nomor bunda disana.
__ADS_1
"hallo, assalamualaikum bunda...apaa...