Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Bulan naksir


__ADS_3

Betapa semua rencana yang sudah kami susun hanya akan jadi wacana semata dan tidak akan pernah menjadi nyata.


Dan apa yang akan aku katakan pada ayah dan bunda. bagaimana aku harus memulainya pembicaraan nanti. Mereka sudah begitu ingin melihat aku segera menikah. Tanpa ku sadari air mata ku sudah turun dan membasahi pipi.


Ada sebuah sapu tangan yang melambai di depan wajah ku dan itu berasal dari laki-laki dingin yang kehadirannya sempat aku lupakan tadi. Betapa malunya aku menangis di depannya begini.


"kenapa?" tanya nya yang memang tidak ada simpati nya sama sekali.


"aku aku tidak kenapa napa, mata ku tiba-tiba kelilipan " jawab ku judes sekaligus menutupi rasa malu.


"Yok Ra, kita pulang ini sudah terlalu larut malam" ujar Bulan yang ternyata sudah nongol. Aku hanya membalas dengan mengangguk kepala pertanda setuju.


"Ya udah ya mas, kita duluan. Makasih mas udah mau menemani Rara tadi disini selama saya ke kamar mandi " ucap Bulan ke mas dingin itu. Eh tunggu apa dia bilang tadi menemani aku disini, ooo jadi dia belum pulang karena menunggu Bulan siap dari kamar mandinya. Ih tau gitu mending dia pergi dari tadi.


"Hey Ra kok malah bengong ayok. Biar mas nya juga pulang " ucap Bulan menyadarkan aku yang ternyata sedang melamun.


"Ya udah Kenapa juga ga langsung pulang pake acara nunggu nunggu segala " ujar ku sewot karena ga tau kenapa kalau dekat dia tu bawaannya ilfeel terus dan aku langsung berjalan ke arah mobil Bulan terpakir tadi tanpa menunggu Bulan.


Dan tanpa Rara lihat ternyata ada yang menyunggingkan senyum yang sangat samar bahkan Bulan saja tak menyadari itu.


"Maaf ya mas, Rara emang kek gitu apalagi sekarang dia lagi ada masalah gitu. Jadi agak labil emosi nya" ucap Bulan tak enak hati.

__ADS_1


"Em...


"Woy Lan, cepat lah" teriak Rara yang memang ga ada anggun anggun nya kalau lagi marah atau kesal.


"Ndeh... maaf ya mas, kalau gitu kami duluan " pamit Rara. Dan di balas anggukan dan sedikit senyum samar oleh Hendra.


"Lama banget sih Lan " semprot Rara ketika Bulan sudah sampai di depan nya.


"Kamu tu yang ga ada kesabaran, orang masih mau ngobrol juga. Eh kamu nya malah teriak-teriak " jawab Bulan dengan memutar bola matanya.


Selama di perjalanan kami hanya saling diam dan ketika aku menoleh ke samping Bulan sedang senyum senyum sendiri. Memang ga bisa di biarin ni anak.


Pletak


"Ih kamu kenapa sih Ra?" Tanya nya dengan bibir monyong.


"Kamu tu yang kenapa. Kenapa juga Kamu senyum senyum sendiri?" Ujar ku kembali sewot.


" Kamu emang ga bisa ya biarin aku senang dikit kek. Aku lagi memutar ingatan ku kepada mas mas yang tadi. Cool aja dia sangat berkharisma apalagi sempat senyum beeehhh meleleh hati adek bg" ucap nya yang membuat seolah dagu ku di jatuhkan saking terkejutnya dengan apa yang di sampaikan nya.


"Astaga Lan, jangan bilang kamu tergoda dengan laki-laki dingin itu" ucap ku dengan menggeleng

__ADS_1


"Ihhh emang kenapa dia tu bukan dingin tapi cool dan juga dewasa " ucap nya dengan mata yang berbinar.


"Udah deh Lan, nanti ada kasmaran nya. Sekarang fokus aja dulu nyetir biar kita sampai dengan selamat "


"Iya bawel iya."


Dan akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan ke rumah Bulan.


Setelah dari kamar mandi tampak Bulan sudah terlelap. Memang tadi dia lebih dulu mandi, mungkin karena sudah capek makanya langsung cepat tertidur.


Aku pun ikut membaringkan tubuh di dekat Bulan. Dan bersiap untuk tidur dan mengarungi lautan mimpi.


Namun seketika ingatanku kembali pada kejadian tadi sore dimana akhir dari hubungan ku dengan mas Hara begitu tragis dan kembali air mata ku mengalir deras tanpa di komando. Sebegitu besar harapan dan angan-angan ku untuk hidup bersama mas Hara dan menjalani suatu hubungan yang bernama pernikahan bersamanya. Betapa banyak rencana rencana yang sudah terpantri dalam pikiran ku jika kelak telah sah dalam suatu ikatan yang suci. Namun ternyata itu semua itu ternyata hanya angan tanpa akan pernah menjadi kenyataan.


Ya ternyata benar kata orang yang membuat sakit itu adalah harapan kita sendiri


Tangis ku semakin pecah dan aku bisa merasakan bantal yang sedang aku gunakan sudah basah dengan air mata ku. Aku bahkan menggigit selimut agar suara tangis ku tidak sampai mengganggu Bulan.


Dan dengan bodoh nya aku sampai ada niatan untuk memasuki tempat yang sebelumnya tidak pernah ada terpikirkan oleh ku untuk menginjakkan kaki ke tempat terkutuk itu.


Kembali aku teringat dengan wanita yang bernama Reni tadi. Seketika rasa bersyukur itu menyelusup di hati ku. Ternyata aku lebih beruntung dari dia. Reni mengalami masalah yang sangat berat.

__ADS_1


Baiklah aku akan mencoba untuk tidak bersedih lagi karena masalah hanya butiran debu bagi mereka yang jauh lebih pelik masalahnya.


Tapiii....


__ADS_2