Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Brio VS Vespa


__ADS_3

Sedang kedua wanita yang bersahabat itu asik bercurhat ria, sementara Hendra kini tengah di sibukkan dengan berbagai berkas laporan di hadapannya. Banyak pekerjaan yang terbengkalai selama seminggu terakhir ini karena Hendra pulang tidak pernah lagi sesuai aturan kantor. Terserah dia sih sebenernya toh yang punya perusahaan juga ia sendiri, jadi tidak ada yang berani untuk menegur apapun tindakannya.


Ia begitu fokus terhadap berkas di hadapannya karena merupakan laporan keuangan cafe selama tiga bulan terakhir. Itulah yang membuat Hendra terkadang harus bekerja ekstra karena harus mengerjakan dua pekerjaan dalam waktu yang berdempetan, namun ia tetap menikmati perannya sebagai atasan, suami dan juga calon ayah walau kadang agak menguras emosi dan pikiran. Ia tidak mau menjadi seseorang yang tidak bertanggung jawab terhadap apapun itu.


Getaran handphone yang Hendra letakkan di atas meja mengganggu konsentrasinya, setelah melihat nama pemanggil segera saja ia mengangkat panggilan tersebut.


"iya Rio, bagaimana apa sudah ada perkembangan?" tanya Hendra tanpa basa-basi seperti biasa sambil ia meletakkan kacamata yang menemani ia ketika sedang fokus seperti tadi.


"Bagus kamu tau apa yang harus kamu lakukan selanjutnya kan" itu bukanlah pertanyaan namun pernyataan yang harus dilaksanakan oleh anak buahnya.


"baik saya tunggu kabar selanjutnya, Namum kamu tau betul saya tidak mau menunda-nunda apapun itu jika bersangkutan dengan orang yang saya anggap penting " Merasa ga ada lagi yang perlu di bahas Hendra segera mematikan sambungan telpon tersebut. Seulas senyum kini terbit di bibirnya yang sedikit tebal itu.


"kok tiba-tiba aku kangen kamu ya sayang " monolog Hendra sambil tersenyum sendiri.


Tanpa pikir panjang akhirnya Hendra menghubungi nama yang selalu ia sematkan semenjak Rara menjadi istrinya. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya pada dering kelima telpon tersebut di jawab juga.


"assalamualaikum sayang" salam Hendra mengawali pembicaraan mereka.


"waalaikumsalam mas" jawab Rara yang masih terdengar suara khas orang baru siap menangis.


"sayang sayang kamu kenapa? Kenapa nangis? ada yang sakit?" cecar Hendra tidak sabar mendengarkan jawaban sang istri.


"ga kok mas, aku baik-baik aja. tapi aku sedih karena Bulan baru aja cerita kalau ia baru putus dari pacarnya" jawab Rara yang membuat Hendra kehilangan kata-kata di tempatnya sekaligus lega mendengar jawaban Rara.


"mas kok kamu diam aja sih?" tanya Rara ketika tak kunjung mendengar sahutan dari sang suami

__ADS_1


"eh iya sayang, kamu ga usah sedih lagi ya. Ingat kalau kamu sedih nanti baby juga sedih. Nanti Bulan juga akan mendapatkan pengganti yang lebih baik. ok." ucap Hendra sabar, ia mengerti gimana sensitif nya Rara akhir akhir ini dan jangan lupakan perubahan mood wanita itu yang begitu cepat.


"iya mas iya, oh iya sampai lupa. Mas ada apa nelpon"


"mas tiba-tiba kangen sayang, langsung deh mas telpon. butuh amunisi soalnya untuk menghadapi berbagai berkas. Dan mendengar suara kamu aja udah bisa membuat mas smangat lagi" jawab Hendra yang membuat pipi Rara merona seketika.


"Ya udah sayang aku balik kerja lagi ya, mas kan udah dapat amunisi" pamit Hendra. memang sesimpel itu keinginannya tadi, hanya memastikan keduanya baik-baik saja.


"iya sayang, smangat kerjanya. kami menunggu disini, cepat selesaiin kerjanya biar bisa cepat pulang" sahut Rara yang kini manjanya sedang kambuh.


" maunya pulang sekarang, apa mas pulang aja ya Ra"ucap Hendra bak seorang remaja yang sedang kasmaran ga pernah berhenti tertawa dari tadi.


"eh jangan dong mas, nanti kalau ga kerja kita mau makan apa coba" ujar Rara mendramatisir keadaan yang membuat tawa Hendra pecah seketika. Ada-ada saja memang tingkah istrinya itu. Mana mungkin mereka ga makan hanya karena Hendra bolos kerja.


Setelah telpon tersebut di tutup Hendra kembali memakai kacamata yang menemani ia ketika bekerja. Sedangkan Rara kini tengah diledek habis-habisan oleh Bulan sahabatnya. yang tadi membuat minum untuk mereka berdua ke dapur.


"hello siapa juga yang mikirin tu kutu kumpret itu, aku sih biasa aja. kamu aja kali Ra dari tadi yang heboh sendiri. yang nangis juga kamu yang sebel juga kamu. hadeh" kata Bulan dalam hati. ya iyalah dalam hati, mana berani dia ngomong secara langsung bisa barebe entar urusan nya jika tentang mood bumil satu ni.


"iya Ra iya " hanya itu jawaban Bulan yang boleh di dengar oleh wanita yang cepat berubah mood nya.


"memang ya Ra, ngomong sama kamu sekarang ga bisa jujur jujur kali" batin Bulan mendumel.


Hingga sore hari barulah kedua nya berpisah karena Bulan pamit untuk segera pulang. Dan Hendra juga sudah diperjalanan menuju rumah. Lantas segera Rara mandi agar nanti ia bisa menyambut sang suami dengan badan yang sudah wangi dan penampilan yang enak di pandang.


Bulan pulang dengan dengan mobil kesayangannya Brio RS CVT, saat ini ia tengah menikmati kemacetan dengan ia bernyanyi mengikuti musik yang ia putar. Bulan memang orangnya sangat jauh berbeda dengan Rara. Rara dengan segala kelembutannya sedangkan Bulan memang bawaannya bar-bar, karena bergaul sama Rara aja sekarang bisa sedikit lebih kalem. Namun entah apa yang membuat mereka berdua cocok hingga bisa bersahabat selama bertahun-tahun hingga sekarang.

__ADS_1


"ah macet bat dah" monolog Bulan karena sudah bosan dengan kegiatannya tadi. bahkan sekarang musiknya pun sudah ia matikan.


Setelah menahan diri agar tidak keluar untuk melabrak orang di depannya. akhirnya kebosanan Bulan berakhir juga dengan terurainya kemacetan tersebut. Ya iyalah di tahan, toh keluar pun dan marah-marah ga ada gunanya. wkwkwk


"Huh dari tadi kek, kan kalau gini enak bawa mobilnya" lega Rara ketika mobilnya tidak dempetan lagi dengan kendaraan lain.


Namun saat akan membelok ke arah kiri karena ia ingin minuman boba yang sudah menjadi langganannya walau berada dalam gang. Ia di kejutkan dengannya seseorang yang menabrak mobil kesayangannya dari depan.


"omaygat, mobil gue" ucap Bulan turun dengan tidak sabar.


"oh tidak mobil gue lecet" Bulan Masih ngomong sendiri tanpa melihat keadaan.


"Heh kenapa lo nabrak mobil gue?" tanya Bulan dengan berkacak pinggang.


"Maaf mbak, saya ga sengaja. soalnya Saya lagi buru-buru" kata orang itu dengan keadaan yang sedikit mengenaskan.


"ga sengaja gundul mu, emang kalau lagi buru-buru bisa memakai jalan seenak udel mu?" tanya Bulan masih kesal walau ia sedikit iba melihat muka bonyok di depannya ini.


"buset dah, ini muka atau kanvas penuh warna bat dah" ujar Bulan dalam hati.


"iya saya kan udah minta maaf mbak" jawab orang itu dengan suara yang di tinggikan, karena ia ga suka cara memandang Bulan yang memindai dari tadi.


"lah kok situ yang ngegas ya. emang dengan maaf mu bisa membuat mobil ku kembali mulus lagi. ga kan. makan tu maap " kesal Bulan berkali-kali lipat.


"ya udah mbak, ini kartu nama Saya. mbak bisa hubungi saya nanti. tapi sekarang saya benar-benar lagi buru-buru " ujar orang itu yang langsung naik kembali ke atas Vespa yang tadi sempat terkapar tak berdaya setelah kartu namanya di terima oleh Bulan.

__ADS_1


"eleh emang sok sibuk tuh orang, pake Vespa aja belagu. tapi nanti aku pasti minta ganti rugi untuk mobil kesayangan aku" Sewot Bulan setelah kepergian orang itu. Ia pun segera melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. namun seperti ia sudah tidak mau minuman boba seperti rencana awal ia mau langsung pulang saja.


__ADS_2