
"Iya maafkan mas ya, sekarang kita makan yok, kita sudah melewatkan jadwal makan" ujar Hendra mencoba mengalihkan pembicaraan.
"bisa-bisanya ya mas di keadaan genting seperti ini kamu lebih mementingkan perut" ucap Rara yang disertai dengan tatapan tajam.
Ya salam, siapapun tolong Hendra sekarang. bawa ia ke kandang hewan sekalian. eh. Jangan dong gitu gitu dia masih sayang sama istrinya walau kini berubah jadi menyebalkan.
"Bukan begitu sayang, kamu juga memperhatikan kesehatan kamu. ini kan kita sudah melewatkan jadwal makan karena menunggui Yelsi dari tadi, sekarang udah ada Hara jadi bisa kita pergi makan sebentar nanti kita kembali lagi kesini" bujuk Hendra dengan sabar walau dalam hati ia merenggut.
"nanti ajalah mas, nanti takutnya Yelsi butuh apa gitu, kita ga ada disini" jawab Rara yang kini sudah melow kembali. Entahlah Hendra juga tidak paham dengan perubahan mood istri nya yang sangat cepat itu.
Sementara dalam ruangan Hara kini tengah mengelus serta memijit lembut pinggang Yelsi yang katanya panas dan pegel dalam waktu yang bersamaan. Sebenarnya tadi Yelsi ingin minta tolong sama Rara namun lagi-lagi ia segan. Melihat Rara bersimpati atas sakitnya saja ia cukup bahagia, betapa lapangnya hati wanita itu.
"isshhh....." Yelsi kembali meringis merasakan sakit yang semakin sering mendera dan terasa semakin sakit.
"sabar ya Yel, kamu yang kuat demi baby kita" ucap Hara menenangkan Yelsi untuk kesekian kalinya.
Jujur Hara juga tidak tau harus berbuat gimana, yang pasti ia tidak tega melihat Yelsi kesakitan seperti sekarang. naluri nya menuntun Hara untuk mengulurkan tangan mengelus perut Yelsi.
"nak jangan buat mama susah ya, cepat keluar ya. papa menunggu mu" usapan Hendra di balas dengan tendangan kecil dari dalam sana.
"mas isssshhh sakitnya semakin sering, bisa tolong panggilan dokter untuk melihat perkembangannya " pinta Yelsi dengan wajah memerah menahan sakit.
"oh ok bentar ya"
memang tadi dokter izin memeriksa pasien lain, karena memang progres Yelsi sangat lama dan itu biasa terjadi pada ibu melahirkan karena proses setiap ibu berbeda-beda.
"kenapa Har?" tanya Hendra yang pertama kali menyadari pintu ruangan di buka dari dalam.
"ini pa, mau panggil dokter"
"kamu masuk aja biar papa aja yang panggil"jawab Hendra cepat yang bisa memahami kekalutan Hara sekarang.
"makasih pa" balas Hara yang di balas Hendra dengan anggukan.
"sayang kamu tunggu disini ya, jangan kemana mana mas manggil dokter sebentar" pamit Hendra tanpa mendengar balasan Rara yang memanggil namanya.
Rara merasakan mual ketika Hendra sudah berlalu dari hadapannya.
"apa karena aku sudah lama melewatkan jadwal makan ya?" ucap Rara sendiri.
__ADS_1
Hendra datang bersama dokter dan para perawat yang langsung masuk ke ruangan yang di tempat Yelsi sekarang.
"kamu kenapa sayang? kok pucat? lapar?" cecar Hendra kepada Rara yang melihat Rara begitu pucat sekarang.
"ga kok mas, mungkin aku ikut tegang memikirkan Yelsi" jawab Rara yang sebenarnya ia juga tidak paham dengan dirinya sendiri.
"sayang kita maka aja dulu ya, atau kamu makan sesuatu biar mas belikan?" tanya Hendra tidak tega melihat wajah pucat istrinya.
"ga usah mas, nanti aja. lahir dulu baby nya baru kita makan" ucap Rara dengan senyum yang terkesan di paksakan.
"progres nya cukup cepat ya pak, mungkin tadi baby nya menunggu ayah nya dulu baru ia mau keluar" kelakar dokter ketika sudah memeriksa keadaan Yelsi.
"ibu atur nafasnya dulu, kita sama-sama berjuang ya bu. ibu jangan mengejan sebelum ada aba-aba dari saya.ok" ucap dokter tenang yang membuat Yelsi mendengar penjelasannya mengerti.
Ternyata penerapannya tidak semudah yang seperti yang Yelsi pelajari selama ini. sungguh sangat terasa berbeda jika itu sudah di alami sendiri.
"ok ibu kalau sudah merasakan ada dorongan dari dalam atur nafas, hirup dengan hidung dan keluarkan dari mulut ok bu" instruksi dari dokter yang hanya mampu di angguki oleh Yelsi.
setengah jam berlalu Yelsi masih dengan perjuangan, keringat membasahi keningnya dan Hara yang setia memberikan motivasi dan kata-kata penyemangat untuk sang istri.
"mas ini saaakiiit akhh...
Terasa kembali ada dorongan yang kuat dari dalam Yelsi mengatur nafas dan mengikuti semua instruksi dokter dan lima belas kemudian terdengar suara tangisan.
"selamat bapak ibu anaknya laki-laki, sehat tidak kurang satu apapun. dan ganteng seperti ayahnya" ucap dokter yang tidak mendapat balasan dari suami istri di depannya, karena Hara kini sedang berterimakasih kepada sang istri atas perjuangannya melahirkan sang putra dan mencium kening Yelsi beberapa kali.
"makasih Yel, makasih kamu udah mau berjuang untuk anak aku" bisik Hara haru di telinga Yelsi dan meluncurkan kecukupan di puncak kepala sang istri.
Tidak banyak yang dapat Yelsi perbuat ia hanya bisa mengangguk dan tidak berapa lama kegelapan mulai menyapa nya.
"Yel kamu kenapa, Yel?" ujar Hara mengguncang bahu Yelsi.
"tenang pak, ibu nya hanya kelelahan kok. jadi tidak apa-apa" ujar dokter seakan mengerti dengan kegelisahan Hara. dokter bisa menebak bahwa ini adalah kelahiran anak mereka yang pertama jadi suatu yang wajar sekali pemandangan di depannya saat ini. Kini Hara sudah selesai mengadzani bayinya yang begitu mirip dengannya itu.
"Bapak sekarang bisa keluar sebentar, karena kami juga akan membersihkan istri bapak" titah sang dokter yang diangguki Hara dan Hara sedikit mengucapkan basa basi terimakasih kepada sang dokter segera saja ia berjalan meninggalkan ruangan.
"selamat ya Har, sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah" ucap Hendra kepada lelaki yang tidak terlalu jauh perbedaan umur diantara mereka itu.
"iya pa, makasih juga papa sudah di repotkan hari ini" ujar Hara tulus.
__ADS_1
"tidak masalah, siapa lagi kalau bukan kita yang saling menolong" jawab Hendra yang membuat hati Rara mencelos.
"mas...." tegur Rara tidak suka dengan omongan sang suami.
Hara juga terkejut dengan keberadaan Rara ia sekarang baru sadar bahwa Rara juga disana. padahal tadi ia jelas melihat Rara di ruangan Yelsi ketika pertama kali ia sampai. Namun kepanikan mengalihkan pandangan Hara.
"eh iya sayang, mas lupa sekarang mas udah punya kamu" jawab Hendra.
Dan Hara semakin merasakan keanehan karena sekarang ia sudah tidak merasakan apa-apa lagi melihat interaksi di depannya ini. Ia tidak menyangka bahwa dalam waktu sesingkat ini ia sudah biasa saja melihat Rara sekarang, tidak ada lagi rasa kagumnya untuk Rara.
Setelahnya mereka hanya mengobrol disana dengan Rara yang masih betah diam kalau tidak di tanya. Bersamaan dengan diamnya mereka dokter keluar dari ruangan bersama para perawat.
"bagaimana keadaan istri dan anak saya sekarang dok?" tanya Hara yang segera bangun dari duduknya.
"keduanya sudah bisa di jenguk sekarang pak, kalau ada apa-apa boleh bapak memanggil Saya dengan memencet tombol di dekat kepala pasien" papar dokter yang di angguki oleh Hara.
"bodoh ya kita tadi Har, bisa-bisanya kita lari-lari memanggil dokter padahal ada yang gampang hanya tinggal pencet." ucap Hendra yang menyadari tindakan mereka tadi.
" hahaha iya ya pa, namanya juga panik" jawab Hara, yang membuat Rara hanya menggeleng melihat kelakuan dua lelaki di depannya ini. Tadi memang ia memanggil suaminya namun karena ikut panik suaminya langsung berlari memanggil dokter.
"Sekarang kita makan dulu ya sayang, kamu udah pucat dari tadi loh"
"kita boleh nengok bayi nya dulu ya mas, siap itu janji deh kita makan" bujuk Rara yang membuat Hendra menghela nafas kalau begitu.
"wah mungil sekali ya mas, ihhhh gemes pengen di cubit" ujar Rara ketika melihat penampakan anak dari mantan nya itu. eh.
"iya lah kecil, kan baru lahir. kecil begitu aja susah lahirnya sayang apalagi kalau besar" balas Hendra menanggapi ucapan sang istri. Rara tidak menjawab karena kini ia sibuk dengan bayi di depannya ini.
Kalau Hara sudah tidak heran lagi melihat Rara yang selalu gemes melihat anak kecil. Hara berjalan menuju sofa yang ada di ruangan itu setelah melihat istrinya dari dekat Hendra juga bergabung meninggalkan sang istri masih sibuk dengan bayi depannya ini.
"siapa nama anakmu Har?" tanya Hendra.
"Muhammad Arthur Alfarizi pa" jawab Hara tersenyum mengingat wajah anaknya yang copy paste dari nya itu.
"bagus na....
BRUUKK
"Ra....
__ADS_1