
"suuuttt jangan nangis lagi, maafkan mas ya. mas teledor dalam menjaga kalian, sekarang mas disini dan kalian akan baik-baik saja. ok. makasih kamu udah menjaga anak kita dengan baik" bujuk Hendra dengan memeluk tubuh rapuh sang istri dengan hati-hati dan melabuhkan kecupan di puncak kepala Rara.
"Dan mas akan memberikan balasan setimpal untuk orang yang berada dibalik kejadian ini semua" batin Hendra yang berjanji kepada dirinya sendiri.
Rara kembali tertidur setelah minum obat dan beberapa kali Hendra menenangkan wanita hamil yang kini masih takut anaknya kenapa-napa. Terasa handphone yang berada dalam saku celana Hendra begetar tanda ada yang menelepon.
"Bagaimana Andi?" tanya Hendra tanpa repot berbasa-basi menanyakan kabar asistennya itu. Terlihat kembali urat di wajahnya menegang dan tangan mengepal pertanda bahwa kini ini ia tengah menahan kemarahan mendengar penjelasan dari Andi selaku asisten sekaligus tangan kanan Hendra.
"Baik segera konfirmasi ke Rio bagaimana pun caranya hari saya tunggu di ruangan bawah tanah" titah Hendra yang membuat bulu kuduk Andi meremang ketika hanya mendengarnya saja.
POV Andi
Perintah ini sudah sangat lama tidak pernah lagi aku dengar, Karena sekarang Hendra sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Beberapa tahun yang lalu memang kami tidak menjalankan bisnis dengan bersih namun tidak juga terbilang kotor. Pernyataan ini memang agak rancu namun itulah kenyataannya.
Dulu dalam menjalankan bisnis kami harus mendapatkan apa yang kami inginkan jika tidak maka ruang bawah tanahlah solusi yang pasti akan bisa menyelesaikannya dengan mudah. Namun setelah perusahaan berkembang dan semakin pesat hingga Hendra bisa merambah ke usaha lain, menyebabkan aku tidak bisa lagi mengehendel semua usaha sendiri akhirnya Hendra mengangkat Rudi sebagai tangan kanannya di Cafe, usaha yang sebenarnya diinginkan oleh Hendra. Mulai dari saat itu kami mulai berbisnis dengan bersih hingga sekarang.
Makanya aku begitu terkejut setelah mendengar perintah dari Hendra yang menyuruh Rio untuk segera membawa dalang di balik kecelakaan yang menimpa istrinya siang tadi.
Setelah mengabarkan perihal perintah Hendra kepada Rio, segera Rio meninggalkan pekerjaannya sebagai satpam di salah satu cabang perusahaan HM group. Satpam disini bukan berarti seperti satpam pada umumnya dan tentu ia mendapatkan gaji yang berkali-kali lipat dari gari satpam pada umumnya.
***
Gelap mulai menyapa para penduduk bumi. malam pun tiba.
"Sayang gimana punggungnya masih sakit?" tanya Hendra dengan sangat lembut menyentuh tangan Rara yang tidak membiru.
__ADS_1
"masih sakit sih mas, tapi sudah mendingan dari yang tadi" jawab Rara seraya tersenyum.
"sabar ya sayang nanti sakitnya akan hilang ok. oh iya sebentar lagi Bulan akan kesini nemanin kamu selagi mas pergi ga papa ya" izin Hendra kepada wanitanya.
"iya mas ga papa, Bulan kan sahabat aku jadi aku pasti nyaman jadi mas tenang aja dalam bekerja" jawab Rara dengan senyum memaklumi pekerjaan suaminya yang sempat tertunda gara-gara ia kecelakaan.
"assalamualaikum Ra, gimana keadaan kamu? oh tidak kenapa tangan mu membiru sampai seperti ini?" heboh Bulan ketika melihat keadaan sahabatnya.
"Ekheeemmm, mohon maaf Bulan, bukan apa-apa tapi tolong jangan terlalu ribut ya. Soalnya kan istri saya baru aja kecelakaan, jadi kamu saya minta kesini untuk menemani Rara bukan membuat ia pusing" ujar Hendra dingin dengan tatapan tajamnya. keberadaan Hendra segera menyadarkan Bulan bahwa di dalam ruangan itu bukan hanya mereka berdua namun ada juga suami sahabatnya itu yang sudah mau menerkam nya.
"hehehe mon maap mas kebiasaan"jawab Bulan cengir lantas ia mengalihkan pandangan karena sedikit takut dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh Hendra.
Interaksi itu membuat Rara tidak dapat lagi menahan senyum yang dari tadi ia coba.
"Ya udah sayang, mas berangkat dulu ya. mas usaha in ga akan lama ok. Kamu jangan terlalu banyak gerak dulu, ingat kamu masih sakit dan perlu istirahat."Hendra menyentuh wajah Rara dengan lembut dan segera mengecup puncak kepala Rara dengan mesra dan dengan tatapan hangat yang membuat Bulan melongo di tempatnya.
"Dan kamu bulan Saya mohon temani istri saya dan ajak bicara seperlunya saja" ujar Hendra dengan intonasi yang kembali dingin yang membuat Bulan mau tidak mau mengiyakan ucapan tersebut.
Setelah kepergian Hendra Rara sudah tidak dapat lagi menahan ketawa nya melihat ekspresi Bulan yang menekuk wajahnya.
"Gila suami kamu Ra, dia seperti bunglon aja cepat sekali berubahnya. Giliran ke kamu aja ngomong nya penuh kelembutan dan tatapan penuh kasih eh tiba di aku hanya ekspresi dingin yang ia perlihatkan " kesal yang Bulan tahan ia tumpahkan ke Rara.
"kenapa ga protes dari tadi waktu orangnya disini. hahaha" ujar Rara yang seketika mengaduh sakit pada tengkuk nya.
"Ra hati-hati, udah udah jangan kebanyakan ketawa nanti kamu kenapa-napa aku yang di gorok oleh suami kamu" ujar Bulan dengan perhatian mau menurunkan bantal yang menjadi sandaran kepala sahabatnya itu.
__ADS_1
"Astaga Ra emang separah apa sih kejadiannya hingga tengkuk mu juga sampai ikut membiru begini" ucap bulan kehabisan kata-kata.
Cerita itu kembali mengalir dari mulut Rara yang membuat Bulan tidak bisa berekspresi di akhir kalimat ketika Rara menyelesaikan cerita nya.
"Ya ampun Ra, kok bisa ya seperti itu. tapi aku salut banget sama kamu." ucap bulan khawatir sekaligus kagum kepada Rara.
"itu naluri seorang ibu Lan, nanti kamu juga akan merasakannya. jadi ga perlu kagum begitu"
"ya udah Ra, kita udah kebanyakan cerita. Sekarang kamu istirahat ya, nanti kamu kenapa-napa aku lagi yang disalahkan" ucap bulan yang tersadar dengan perintah suami bumil dihadapkannya ini.
"makasih ya Lan kamu udah mau repot menjaga aku" ucap Rara ketika bulan menyelimuti ia.
"udah ga usah makasih segala, itu yang namanya sahabat" jawab bulan dengan wajah jengah.
"untung aku ga suka benaran sama mas Hendra, kalau iya bisa barabe urusannya tu" gumam Bulan ketika Rara sudah menutup matanya.
"eh tapi sepertinya Rara begitu beruntung deh diperlakukan istimewa oleh mas Hendra. memang ya kalau udah ketemu pawang nya itu ga bisa berkutik. oh mas Hendra" sambung bulan yang sekarang sudah dengan senyum senyum sendiri seperti orang gila.
"ah apaan sih kamu lan, ingat itu suami orang. Suami sahabat mu lagi" ucap bulan menyadarkan dirinya sendiri dan kemudian mengambil handphone untuk mengalihkan pikirannya dari yang tidak tidak.
***
"Bagaimana apakah dia sudah didalam" sebenarnya itu ada pertanyaan retoris yang tak perlu di jawab oleh anak buahnya.
"Sudah tuan" jawab seorang yang berbadan tegap dan menggunakan kostum hitam-hitam.
__ADS_1
"apa kabar?" sapa Hendra dengan tatapan membunuh ketika sudah berada di hadapan orang yang sudah membuat istrinya kesakitan hari ini dan bahkan hampir membahayakan keselamatan bayi mereka.
pertanyaan itu membuat orang yang dimaksud Hendra mendongak kepala karena tadi ia di pukuli karena melawan saat hendak di bawa. Seketika ia menegang di tempatnya. seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.