
Terdengar helaan nafas dari laki-laki tersebut sebelum ia memutuskan untuk bercerita secara detail mengenai kejadian sebenar dan selengkapnya. Ia tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan wanita di hadapannya ini, karena ia tau betapa keras kepalanya wanita itu dan entah mengapa juga ia selalu di buat kalah oleh keinginan wanita itu.
"ya begitulah tiba-tiba aku terbangun udah merasakan sekujur badan ku sakit dan melihat mu di ruangan ini" tutup laki-laki itu mengakhiri ceritanya. Dan entah sejak kapan pula panggilan mereka berubah dari lo-gue menjadi aku-kamu.
"bangsat tau gitu kemarin lebih baik ku biarkan mu mati sekalian" kecam Bulan menatap tajam laki-laki di hadapannya itu.
Untuk sesaat laki-laki itu mengerutkan dahi, berpikir kenapa reaksi wanita di hadapannya demikian. Namun hal itu tidak lama.
"kamu mengenal Hendra?" tanya Rafa yang masih kebingungan. Ya laki-laki itu adalah Rafa, rivalnya Hendra sekaligus orang yang terobsesi dengan Rara.
"ga punya otak lo ya, bisa-bisanya lo merencanakan ini semua. lo waras" maki Bulan tanpa ada rem disana. Ya ia betul-betul marah sekarang. Ia tidak habis pikir kenapa ada orang sejahat laki-laki yang ia pikir baik sebelumnya yang berada di hadapannya ini.
"kamu kenapa sih kok marah-marah?" tanya Rafa yang entah bagaimana ia masih saja sabar menghadapi wanita yang tengah emosi itu.
"kamu nanya? kamu bertanya-tanya?" ledek Bulan dengan nada yang sempat viral kemarin.
"eh memang ya kutu kumpret. kamu udah berniat melakukan perbuatan sekeji itu ga ada rasa bersalah gitu. malah kamu nanya kenapa aku marah-marah. gila lo" sambung Bulan dengan berkacak pinggang seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.
__ADS_1
Tidak ada percakapan diantara keduanya sampai beberapa waktu. Karena Rafa tau apapun yang dikatakannya sekarang akan selalu salah di mata wanita itu. Memang dia akui perbuatannya kemarin salah, sangat malah. Ia ingin menebus itu semua dengan cara yang masih ia pikirkan sampai sekarang dan belum menemukan solusinya.
"Lan udah dong, iya aku ngaku salah deh" ujar Rafa dengan tangan menangkup di dada. berniat menggoda wanita itu dan lagi entah sejak kapan ia memiliki hobi yang rasanya sungguh menyenangkan itu.
"heh monyet ga ada 'deh' ya. ini memang lo salah, elah sok sok an kok berasa terpaksa gitu ya" Emosi Bulan kembali tersulut setelah mendengar pengakuan salah namun dengan nada terpaksa dari laki-laki di hadapannya ini.
"elah becanda tadi" cengir laki-laki di hadapannya ini.
"iya iya aku serius, turunin gelasnya dong kan ga lucu wajah aku yang ganteng ini jadi sasaran gelas jelek itu" Rafa bergidik ngeri melihat Bulan memegang gelas yang ia ambil di nakas. Dan laki-laki itu yakin bahwa Bulan tidak main-main dengan tindakannya. Gersek-gesrek gitu kalau udah marah hiiii. seram.
"satu...
"udah buruan jan sampe aku berdiri lagi ya" ancam Bulan melihat keterdiaman laki-laki itu.
"sebenarnya dari awal aku tau aku lumpuh aku udah merasa bahwa ini adalah karma untuk ku. Aku sudah begitu jahat mulai dari kasus Hara hingga yang terakhir ini aku berniat untuk melenyapkan Hendra atau ga setidaknya membuat dia celaka lah. Sampai sekarang aku masih berpikir apa yang harus aku lakukan agar kesalahan ku dapat di maafkan setidaknya bisa ku tebus" ujar Rafa dengan nada lirih, ia tau betul dan sadar bahwa ini semua salahnya.
"Namum Melihat mu mengurus aku dengan baik menambah rasa bersalah ku, karena aku tau pasti ini tidak ada sangkut dengan mu. Hanya saja kebetulan mobil mu yang berada di belakang ku sehingga mau tidak mau kamu ikut terseret dalam ini. Walau pada awalnya aku udah bilang kamu ga usah tanggung jawab ya itu tadi alasannya aku tau ini semua bukan salah kamu. Tapi dari itu semua aku tau kamu orang baik ya walau ada geseknya " papar Rafa dengan nada serius namun ia terkekeh di ujung kalimatnya.
__ADS_1
"ga usah ada penambahan tentang kebaikan aku deh, " ujar Rara sambil merotasi matanya karena ia sudah serius mendengarkannya eh malah di bilang gesrek kan kesel.
"jadi kelanjutannya gimana?, kamu di bawa ke kantor polisi aja ya?" tanya Bulan yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban ia hanya menguji saja, lagian ia juga tidak memiliki hak apapun menyangkut masalah mereka walau itu tentang sahabatnya sendiri.
Terdengar helaan nafas dari laki-laki itu.
"ya itu juga salah satu opsi yang sudah terpikir sebelumnya, jujur aku sudah memikirkan ini sebelumnya aku benar-benar menyesal. Walau aku tau kesalahan yang ku perbuat begitu fatal namun boleh kah aku bertemu mereka walau hanya sekedar mengakui semuanya " Rafa menunduk kepala sedangkan Bulan tidak menduga bahwa saran yang ia berikan untuk menguji laki-laki itu sudah sempat terpikir sebelumnya.
"Tapi melihat reaksi mu barusan aku yakin itu bukan hanya sekedar rasa simpatik aku rasa kamu mengenal Hendra atau Rara tapi bisa jadi juga mereka berdua. Bisakah kamu mempertemukan aku dengan mereka aku mau minta maaf kalau ga setidaknya aku harus mengakui kesalahan yang sudah ku lakukan walau ga sempet yang terakhir. hehehe " awal kalimat Rafa begitu serius namun tetap saja endingnya ia selalu buat Bulan darting alias darah tinggi. huh.
"huh benar-benar yah lo, mudah-mudahan lumpuh aja deh selamanya biar ga bisa berbuat jahat lagi" Ujar Bulan sekate-kate saking kesalnya.
"eh jangan dong kan ga lucu udah cacat di tambah jadi tahanan pula kan ga lucu " sungut Rafa yang membuat Bulan merotasi matanya untuk yang kesekian kalinya.
"emang kau pikir masa depan orang yang udah mu atur itu lucu. aku ga kebayang sih gimana perasaan Hara dan Rara pada saat awal-awal mereka dipisahkan. Namun sekarang Rara beruntung sih dengan adanya mas Hendra di samping dia. Tapi tetap aja Lo Udah semena-mena terhadap masa depan mereka. emang lo siapa" kesel Bulan yang entah bagaimana lagi ia mengeluarkannya.
"iya kan dari tadi aku udah ngaku salah, bahkan kalaupun mereka nuntut agar kasus ini di bawa ke ranah hukum aku sudah siap" ucap Rafa lantang tanpa ada keraguan sedikitpun.
__ADS_1
''Tampaknya ia begitu serius dengan ucapannya, Namun aku harus tetap waspada aku ga boleh lengah apalagi sampai kecolongan menghadapi ni bandit atu"