Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Sedikit penyesalan


__ADS_3

"Dan satu lagi mas, bertanggung jawablah dengan baik terhadap calon istri mu yang sebentar lagi akan jadi istri mu itu. Perlakukan dia dengan baik apalagi sebentar lagi akan ada anak diantara kalian dan kalian akan jadi orang tua" ucap ku dengan segera melepaskan tangan mas Hara yang tadi sempat menahan ku.


Dan melanjutkan langkah dengan mata yang sudah tidak mampu lagi membendung air mata ku.


Untung sekolah masih sepi jadi kedatangan mas Hara dan perdebatan kamu tidak membuat pertanyaan diantara siswa siswi mengenai hal apa yang terjadi.


Dan tanpa ku sadari ternyata ada orang yang memerhatikan kami dari tadi terlebih aku. Orang tersebut adalah mas Dera.


Sepanjang hari aku tidak begitu mood dengan aktivitas ku mengajar ini. Aku sebenarnya tidak bersemangat tapi aku tidak boleh memperlihatkan di depan siswa siswi ku. Karena aku tau dari awal bahwa memulai pekerjaan itu harus konsisten juga profesional dan itu lah yang coba aku terapkan sekarang.


Walaupun rasanya berat namun sedikit terobati dengan adanya tingkah lucu dari kawan yang hampir seumuran dengan ku disini ya walaupun beda umur dikit karena aku di bawah mereka.


Apalagi mas Dera dia seolah mengerti dengan apa yang aku rasakan dan apa yang aku butuhkan saat ini.

__ADS_1


Namun dibalik senyum yang ku tampilkan di depan mereka ada luka yang coba aku kubur aga tidak muncul ke permukaan dan tidak sampai di ketahui orang lain.


Huh akhirnya aktivitas hari ini berjalan dengan lancar walau ada beberapa sedikit kendala karena tidak terlalu fokus. Dan sore ini aku bertekad akan memberi tahu ayah dan bunda apa yang terjadi pada hubungan ku dengan mas Hara.


Aku akan jujur walau di samping menyakiti diri ku sendiri akan menyakiti ayah dan bunda ku.


Karena mereka juga sudah berharap banyak sama mas Hara akan lanjutan hubungan ini namun apapun itu aku tidak bisa untuk mengulur waktu lagi, cepat atau lambat mereka juga akan mengetahuinya.


Jadi dari pada mereka tau dari orang lain, mending aku sendiri yang memberi tahu mereka.


" Eh buk Rara udah mau pulang" tegur pak Heru selaku wakil kepala sekolah dan kebetulan ternyata mau pulang juga. Dapat dilihat dengan bapak tersebut menentang tas di tangan kanan.


"Iya pak, udah mau pulang" jawab ku dengan malu karena tadi sempat melamun sambil jalan

__ADS_1


"Oh iya bu, terkait surat pengunduran diri ibu mungkin tidak bisa di kabulkan dalam waktu dekat ini, setidaknya butuh waktu tiga bulan agar pengunduran diri ibu bisa kita proses. Karena kan ibu tau sendiri bahwa penerimaan guru disekolah ini agak sulit karena kriteria nya agak sulit" sambung pak Heru disertai kekehan di akhir kalimat.


"oh iya pak, gapapa" jawab ku disertai dengan senyuman.


"Bu Rara kenapa sih mau resign?, Apa karena Bu Rara mau nikah dan ga dibolehin kerja sama suaminya?, Ya udah bu saya duluan ya. Udah di tunggu istri" Tanya Pak Heru masih dengan nada bercanda.


" Eh iya pak, hati-hati" balasku dengan senyuman dipaksakan.


Sekarang aku lagi duduk di halte yang ada di depan sekolah. Dan ingatanku kembali kepada percakapan dengan pak Heru tadi, aku sampai lupa atas surat permohonan undur diri yang aku layangkan seminggu yang lalu.


Karena setelah dipikir-pikir aku akan mengabdi sepenuhnya pada mas Hara ketika sudah menikah nanti.


Namun apa yang terjadi saat ini, ada sedikit rasa penyesalan karena telah buru buru melayangkan surat pengunduran diri. Begitu aku telah berkorban sebesar ini sementara akhir dari hubungan kami berakhir dengan tragis seperti ini.

__ADS_1


Tidak terasa air mata ku kembali menetes mengingat semua.


"Rara nunggu siapa?" Sebuah suara mengangetkan aku dan suara itu adalah...


__ADS_2