
Segera saja ku cari nomor orang yang membuat aku bodoh seperti ini. ingin ku hapus nomor handphone nya langsung, namun aku kembali ingat bahwa kita sudah sama-sama dewasa dan aku hanya mengubah namanya saja.
Kemudian aku berpindah aplikasi hijau yang menyajikan pelayanan berbagi pesan.
Namun sebelum tangan ku menyentuh aplikasi tersebut ekor mata ku sempat memindai sesuatu yang tidak ku sadari dari tadi.
Ya aku lupa bahwa wallpaper handphone ku saat ini masih foto kami berdua walaupun tidak begitu jelas dan agak sedikit blur dengan latar yang begitu indah. Namun langsung saja ku tepis semua pikiran yang sempat terlintas tersebut.
Segera ku hapus semua yang masih ada kaitannya dengan mas Hara. Baik itu semua foto bersama atau pun riwayat pesan pesan di berbagai aplikasi.
Untuk saat ini aku memang memilih bersikap egois dan menuruti semua keinginan hati ini. Aku berharap dengan ini semoga aku bisa melupakan mas Hara segera dan aku bisa melanjutkan kembali hidup tanpa adanya bayang bayang dari sosok mas Hara.
Hari berganti dan waktu pun terus berlalu. Tidak terasa sekarang semua sudah jauh berbeda. Aku yang sekarang sudah mulai bisa berdamai dengan keadaan ya walaupun masih ada sedikit perasaan yang tersisa namun sekarang aku melihat mas Hara dan mbak Yelsi sudah biasa saja hanya sedikit canggung karena mungkin efek apa yang terjadi di masa lalu.
__ADS_1
Untuk sampai di titik sekarang tidak lah mudah apalagi yang di kawan ada hati sendiri. Namun akhirnya ego ku kalah dengan akal yang rasional. Dan aku bersyukur akan itu. Aku tidak menyangka bahwa aku akan bisa melupakan mas Hara hanya dalam waktu beberapa bulan saja setelah apa yang kami lewati bersama dalam rentang waktu yang tidak terbilang singkat.
Oh iya aku sekarang bekerja di suatu perusahaan swasta atas saran dari ayah. Awalnya ayah mau aku bekerja di perusahaan yang sama dengan beliau. Namun aku menolak dengan dalih mau mandiri dan tidak mau di sebut masuk karena adanya orang dalam atau apapun itu.
Dan ayah paham bagaimana karakter ku yang keras dan beliau hanya tersenyum atas jawaban ku.
Setelah termenung beberapa saat di depan cermin dan pikiran yang kembali kepada peristiwa di beberapa bulan terakhir aku kembali tersadar setelah mendengar bunyi dering telepon yang berada di atas meja rias ku.
Ternyata telepon dari Shasa rekan kerja yang akrab dengan ku sejak awal masuk kerja dan sampai sekarang kami sudah seperti orang yang lama kenal.
setelah ku iya kan segera kami tutup percakapan itu dan setelah menghela nafas aku melangkah ke lantai bawah untuk sarapan bersama keluarga.
sarapan kami kali lebih sering membahas tentang rencana Abang untuk menikah dalam waktu dekat ini.
__ADS_1
Aku bersyukur di kelilingi oleh keluarga yang begitu mengerti akan diri ku. karena semenjak menikah nya mas Hara satu pun dari mereka tidak ada yang membahas atau bertanya mengenai mas Hara.
Setelah selesai sarapan aku menyalami ayah bunda dan segera berpamitan. Kemudian ku melangkahkan kaki menuju mobil dan sudah di panaskan ayah sebelum nya dan berniat untuk menjemput Shasa terlebih dahulu.
Namun di tengah perjalanan aku melihat notifikasi dari Shasa yang bilang sudah berangkat bersama Fara yang masih satu teman dekat dengan Kami.
"Benar-benar ya kamu Sha, kenapa ga bilang dari tadi?. ini udah setengah jalan tapi baru kamu kabarin. Awas aja ya nanti kalian" dumel ku sepanjang perjalanan dan langsung aku putar balik.
Namun baru sekitar 500 meter mobil bergerak dari arah aku putar balik aku merasa ada yang tidak beres dan benar saja tidak berapa lama mobil ku mati.
Segera aku turun dan tidak tau harus melakukan apa. Karena jujur saja aku tidak mengerti soal mobil.
Ketika sedang asik melihat bagian depan mobil Aku di kejutkan dengan suara.
__ADS_1
"kenapa....