
Hubungan kami berjalan dengan baik bun, bahkan akhir akhir ini kami tidak mengalami kendala seperti yang orang bilang apabila mau menikah akan menghadapi banyak kendala. ternyata memang kami ga akan bersatu " ucap ku menerawang jauh.
bunda masih menyimak penjelasan ku dan mengusap bahu ku.
"intinya bun, kami be berpisah karena karena hiks hiks
" Ya udah sayang, kalau ga kuat ga usah dilanjutin" ucap bunda dengan penuh pengertian namun ku sambut dengan gelengan.
"kami berpisah karena ada suatu kejadian yang mengharuskan dia untuk bertanggung jawab atas perbuatannya bun" ucap ku masih dengan sesegukan.
__ADS_1
"wanita itu sekarang hamil bun, sebagai sesama wanita aku mengerti gimana perasaannya saat ini. Dan walaupun aku yakin bahwa ini semua tidak ada unsur kesengajaan dari mas Hara karena aku begitu yakin dengan nya. Namun ini tetap menyakitkan bun. Belum lagi Bunda sama ayah begitu berharap akan aku dan mas Hara bersama " ucap ku masih dengan nada pilu.
"Rara harus bagaimana bun, Rara ga tau harus gimana lagi " sambung ku dengan nada yang frustasi.
"Ra kamu tidak sendiri nak. masih ada kami bersama mu. kamu pasti bisa sayang, iya memang sulit tapi ga ada yang ga mungkin untuk di lewati. Dan perlu kamu ingat Ra ayah dan bunda tidak pernah menekankan keinginan kami kepada kalian. jadi jangan pernah harapan bunda selama ini jadi beban untuk kamu. Bunda disini nak, bunda akan selalu ada untuk anak bunda ini" pelukan ku dan bunda semakin erat. Aku merasa menjadi anak yang paling beruntung karena memiliki bunda yang begitu mengerti dengan apa yang aku hadapi. Apalagi di saat saat seperti ini dimana aku sedang membutuhkan dorongan dan sokongan smangat.
"Ya udah sekarang ga usah sedih lagi ya, masalah Hara kamu coba hapus pelan pelan dia dari hati dan juga pikiran mu. kamu pasti bisa walaupun ga semua membalikkan telapak tangan. Bunda tau begitu banyak kenangan yang sudah kalian lalui dan begitu banyak keinginan yang sudah kalian rencanakan. namun di balik itu semua kembali lagi Kamu harus ingat bahwa kalian tidak bisa bersatu dan kamu ga boleh egois karena ada wanita harus kamu jaga perasaan nya. kamu ga mau kan jika kamu berada di posisi nya namun masih ada wanita yang mengharapkan cinta dari calon suami mu" ucap bunda dengan bijak dan refleks aku menggelengkan kepala.
"Ya udah sekarang kamu ke kamar, bersihin diri, karena bentar lagi anggota dan para penghuni rumah ini akan berdatangan. kamu ga mau kan mereka melihat kamu dengan keadaan seperti ini. Mata sedikit membengkak dan jangan lupakan hidung merah" kekeh bunda dengan candaan.
__ADS_1
"iya bunda, Rara ke kamar dulu ya. nanti Rara aja yang masak"
"kita berdua aja yang masak, bunda ada resep baru. seperti enak kalau kita coba"
"ok bunda, Rara ke kamar dulu" ucap ku yang di balas bunda dengan anggukan dan segera aku berdiri dari duduk ku dengan perasaan yang sedikit plong.
Dan ternyata setelah kepergian Rara, Desi sang bunda Rara duduk termenung. tidak bisa di pungkiri bahwa Desi merasakan sakit atas apa yang dialami oleh putri nya. dan tanpa sadar ternyata mata seorang ibu tersebut mengeluarkan cairan bening. Tadi sewaktu Rara bercerita ia memendam emosi nya untuk tidak menumpahkan air mata.
"bunda kenapa nangis...?
__ADS_1
ucap seseorang yang mengangetkan