
Namun sampai saat ini aku belum bisa menentukan sikap terhadap permasalahan ini. Dan tiga hari ini hubungan kami agak renggang dengan Rara karena setelah kami nelpon malam itu bukan malam sih tepatnya pagi itu aku sudah mulai menjaga jarak dengan Rara karena aku belum siap mengatakan yang sebenarnya sementara masalah harus segera di selesaikan agar tidak berlarut-larut.
Tadi Rara menyampaikan akan pergi ke cafe setelah pulang dari sekolah aku hanya mengiyakan dan tidak terlalu memperhatikan dimana ia akan ketemuan dan dengan siapa. Aku cukup sibuk hari ini hingga aku tidak terlalu memperhatikan pesan Rara tersebut. Belum lagi nanti sore aku janjian dengan Yelsi akan bertemu guna membahas terkait masalah kami berdua.
Di kala jam menunjukkan pukul 14.00 pintu ruangan ku terdengar diketuk dari luar. Lantas aku mempersilahkan masuk dan tak ku sangka yang datang adalah ayah ku, dia adalah papa Hendra.
"Lagi sibuk Har?" Tanya papa.
"Sedikit pa, lagi mempersiapkan bahan untuk rapat besok terkait dengan pembukaan cabang baru " jawab ku sambil melepas kacamata yang sejak tadi bertengger.
"Oh iya ada apa papa repot sampai mampir kesini " tanya ku sambil berjalan ke arah sofa yang di duduki papa dari tadi.
"Emang ga boleh ya papa main kesini?'' tanya papa dengan mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Bukan gitu pa, kan biasanya papa akan sibuk dengan urusan cafe papa. Apalagi kan papa mau buka cabang di dua tempat sekaligus kan" ucap ku dengan memutar bola mata malas merespon jawaban papa yang kadang suka berlebihan.
"Papa tadi kebetulan lagi rapat di hotel depan kantor kamu, papa ingat deh kamu udah lama banget ga main ke rumah. Makanya papa mampir"
"Maklum pa lagi sibuk-sibuknya sekarang" ucap ku cengengesan.
"Oh iya pa hampir lupa hari Minggu papa temani aku ya ke rumah calon istri aku. Aku ingin melamarnya secara sederhana.
"Papa kapan...
"Oh iya Har nama calon istri kamu siapa?, Setelah sekian lama kalian pacaran belum pernah sekalipun kamu membawa ke rumah. Jangankan kenal tau nama aja belum " ucapan ku langsung di potong oleh papa. Mungkin dia sudah bisa menebak akan seperti apa ujungnya.
"Namanya Yelsi pa dan kami akan menikah dalam waktu dekat ini" ujar ku dengan nada yang lirih dan ingatan ku seketika melayang kembali kepada Rara dan bagaimana akhir dari hubungan kami ini.
__ADS_1
"Udah ga sabar ya. Sampai begitu nadanya " ujar papa dengan nada menggoda yang sangat kentara.
Huh papa ga tau aja gimana peliknya hubungan yang aku jalani dan betapa ruwet nya pikiran ku saat ini.
"Pokonya papa harus menemani aku hari Minggu ke rumah calon istri aku. Papa jangan bilang sibuk terus dan dari pada papa sibuk dengan kerjaan mending papa cari....
"Udah la ya Har, papa pergi dulu. Papa masih ada kerjaan yang belum rampung '' sahutnya lagi dan lagi memotong perkataan yang belum sempat aku ucapkan.
Setelah kepergian papa dari ruangan ku aku kembali disadarkan bagaimana aku akan mengutarakan ini semua kepada Rara. Bagaimana aku memulai pembicaraan nanti dan itu semua membuat ku pusing dan aku segera membuka file yang belum sempat aku baca tadi guna untuk mengalihkan pikiran ku. Tidak terasa ternyata hari sudah sore dan langsung saja aku bergegas untuk menemui Yelsi di tempat janjian tadi.
Tiba di cafe langsung saja aku turun dan
"mas....
__ADS_1