
"Maaf juga membuat kamu serba salah dalam keadaan ini Yel, namun bolehkah aku meminta waktu kepada mu untuk bisa mengerti bahwa aku memerlukan waktu untuk ini semua" lirih Hara, bukan tidak ada rasa bersalah di hati Hara terhadap wanita yang kini sedang mengandung darah daging nya namun apa boleh buat ia masih belum bisa melupakan Rara begitu saja.
"sampai kapan mas?, sampai kapan kamu butuh waktu untuk bisa melihat keberadaan ku?"batin Yelsi.
Mana mungkin ia berani menyuarakan itu semua di hadapan Hara secara langsung. Jujur saja ia sudah jatuh cinta kepada pria di sampingnya ini sejak pertemuan pertama mereka secara sadar di cafe waktu ia meminta pertanggungjawaban.
Yelsi begitu terkagum dengan besarnya cinta Hara kepada Rara dengan menolak bertanggungjawab pada masa itu karena tidak mau menyakiti hati kekasihnya dan dengan sekali memandang ia dapat melihat di mata Hara begitu besar cinta untuk Rara wanita yang baru ia tahu dengan pasti bagaimana karakternya ketika menyambangi kediaman mertua nya yang sebenarnya belum cocok sih untuk disebut mertua. karena perbedaan umur diantara mereka juga tidak begitu jauh dan secara tampilan Hendra tidak tampak tua jika di bandingkan dengan Hara.
Setelah perjumpaan tadi ia begitu terkesan dengan wanita masa lalu suaminya itu. ah lebih tepatnya bukan masa lalu karena sampai sekarang wanita itu masih mengisi relung hati laki-laki yang berstatus suami di samping nya.
Yelsi begitu kagum atas kedewasaan Rara, ia sendiri ragu dan tidak bisa memastikan apakah ia akan setegar itu ketika dihadapkan dengan situasi yang sama. Dan ia tidak yakin bahwa dia akan bisa sedewasa Rara menyikapi kejadian diantara mereka. Jadi tidak heran mereka mampu menjalani hubungan begitu lama. Si wanita mempunyai sikap yang dewasa dan si pria mempunyai cinta yang sangat besar sungguh perpaduan yang epik.
Jujur untuk seorang anak yang tidak begitu tersentuh dengan kasih sayang keluarga, Yelsi iri dengan Rara yang dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayanginya. melihat dari sikap dua lelaki tadi ia sangat yakin bahwa perlakuan dikeluarga Rara juga pasti tidak jauh berbeda. Entah kapan ia akan merasakan kasih sayang dari orang terkasih nya. Hara contohnya.
__ADS_1
"Yel... kok bengong sih. kita udah sampai"
"eh iya maaf mas" kaget Yelsi karena tangan Hara sekarang sudah berada di bahunya.
"jangan banyak pikiran Yel, ingat kata dokter" ujar Hara lembut. yang dibalas anggukan oleh Yelsi dengan seulas senyum tipis.
Lihatlah betapa laki-laki itu memperlakukan ia dengan baik walau tanpa cinta, apalagi perhatian kecil itu disertai dengan tatapan teduh nan penuh cinta. pasti ia akan sangat beruntung. Dan sekarang Yelsi sudah bertekad bahwa ia akan berusaha untuk mendapatkan cinta suaminya. Tidak salahkan ia berusaha untuk itu.
Pagi kembali menyapa dan nampaknya hari ini akan cerah, secerah raut wajah dan senyum seorang pria yang kini berstatus suami dari wanita yang kini tengah dipandangnya. ia tidak bosan melihat wajah wanitanya yang kelihatan bertambah cantik dengan lampu tidur yang menyinari dan beberapa helai anak rambut yang menjuntai ke wajahnya.
Ia berharap walau perlahan istrinya mau membuka hatinya untuk nya dan ia akan berusaha untuk itu. Dia tidak akan menyia-nyiakan sebuah keberuntungan yang tidak di duga-duga ini. Setelah melihat pergerakan dari tangan sang istri ia segera mengubah mimik wajahnya dan seolah-olah lagi fokus terhadap handphonenya.
"eugghhh.... mas kok ga ngebangunin aku" ujar Rara dengan suara serak khas bangun tidur.
__ADS_1
"kan masih setengah enam Ra, lagian kamu kan lagi ga sholat" jawab Hendra dengan masih sibuk dengan kegiatannya. tepatnya pura-pura sih.
"mas boleh minta tolong antarkan aku ke kantor dulu ya, soalnya kan kemarin juga aku ga masuk" ujar Rara ketika mereka sedang berada di meja makan untuk mengisi amunisi pagi ini. Dan hanya di balas Hendra dengan seulas senyum dan anggukan.
Sesampainya mereka di kantor Rara turun setelah salim dengan suami yang ia pikir Hendra akan langsung pergi ke tempat kerja karena katanya dia juga akan melewati jalan yang sama dengan kantor Rara.
"eh Ra kamu sama siapa tadi?" sambut Fara kepada Rara waktu di lobby. ya walaupun ia sudah tau itu mobil siapa.
"kepo ae lu, emang kenapa?" tanya Rara tidak serius dan terkesan bercanda.
"ya elah ni anak. serius Lo Ra, kamu ada hubungan sama bos kita ya?" tanya Fara yang di balas dengan cengiran oleh Rara.
"hah apa bos ya engga lah, aku tadi sama mas Hendra" jawab Rara enteng.
__ADS_1
"pak Hendra itu adalah bos besar disini Rara"
"What...