
"pasti sakit sekali ya" ucap Hendra tanpa berani menyentuh tangan istrinya takut akan menyakiti melihat tangan Rara yang lebam dan membiru.
"bangun sayang, mas tidak tega melihat kamu seperti ini" ujar Hendra dan siapapun yang melihat keadaan itu secara langsung pasti tau bagaimana sayangnya laki-laki tersebut kepada wanita yang terbaring di depannya.
"maaf karena mas belum bisa menjaga kalian, maaf karena keteledoran mas kamu merasakan sakit seperti ini" lanjut Hendra dengan air mata yang coba ia tahan namun sepertinya ia gagal.
Dengan sabar Hendra menunggu kesadaran sang istri. ingin sekali ia mendekap tubuh lemah Rara namun lagi-lagi ia tidak ingin menyakiti tubuh wanita yang begitu ia sayangi. Ia juga ingin berbagi sakit dengan istrinya dan jika bisa ia saja yang merasakan nya.
"ssssstttt....mas..." leguh Rara dengan sakit pada semua bagian tubuhnya.
"sayang kamu udah sadar, Alhamdulillah, apa yang sekarang kamu rasa?, bagian mana yang sakit?" tanya Hendra antusias lupa jika sang istri baru saja sadar dari pingsannya.
"gimana keadaan bayi kita mas?" tanya Rara karena tangannya benar-benar sakit dan masih terasa berat untuk di gerakkan.
"kandungan kamu kuat sayang, anak kita baik-baik saja. kamu tenang aja ya. sekarang apa yang sakit?" tanya Hendra kembali.
"sakit semua mas, tangan aku juga rasanya sulit di gerakin, punggung aku sakit, kepala juga" adu Rara dengan air mata yang sudah mengalir. Rara memang sejak kecil ketika sakit ia akan manja berlipat kali dari biasanya.
"sabar ya sayang, sebentar mas panggil dokter dulu" sahut Hendra cepat dengan mata berkaca-kaca, ia benar-benar tidak tega melihat keadaan istrinya yang begitu rapuh. Ini adalah kali keduanya ia melihat sisi rapuh Rara setelah mual dan muntah parah yang Rara alami ketika trimester pertama kehamilannya dulu.
***
Sekarang Rara lagi tertidur setelah dokter memeriksa keadaan wanita hamil itu. dokter mengatakan bahwa mungkin beberapa hari ke depan Rara harus bed rest total dikarenakan kondisi tubuhnya yang memar di berbagai tempat akibat benturan yang dialaminya.
"Ayah, bunda boleh titip Rara sebentar? aku ga lama kok hanya mau menjemput pakaian ke rumah " izin Hendra dengan canggung kepada mertuanya yang tadi ia hubungi ketika menunggu Rara siuman.
__ADS_1
"boleh nak silahkan, tidak usah canggung begitu. sampai kapan pun Rara tetap putri kami, jadi ia tidak akan pernah merepotkan" jawab Umar, sang ayah mertua. sedangkan Desi, ibu mertua Hendra masih sibuk menatap iba kearah putri keduanya.
"baik yah, terimakasih. Hendra pergi dulu"Ucap Hendra melangkah meninggalkan sang istri. Sebenernya ia tidak mau meninggalkan Rara barang satu detik pun namun ada hal penting yang harus ia ketahui terlebih dahulu.
"pak Beni mari kita makan ke resto seberang, saya tau bapak belum makan setelah yang tadi" ajak Hendra kepada supir yang ia pekerjakan semenjak Rara diketahui hamil.
"tidak usah den, saya bisa makan nanti" ucap pak Beni yang memang terkadang merasa segan atas kebaikan sang majikan.
"ga papa pak, lagian ada yang mau Saya omongin juga" ujar Hendra berjalan tanpa mendengar jawaban dari pak Beni, yang membuat beliau mau tidak mau mengikuti langkah Hendra dengan perasaan yang bergetar. Takut disalahkan atas musibah yang menimpa majikan perempuannya.
"silakan pak," ujar Hendra memberanikan buku menu kepada pak Beni.
Mereka makan dengan tenang, walau sebenarnya hanya penampakannya saja. Karena Hendra sendiri sebenarnya tidak ingin makan sedikitpun memikirkan kondisi sang istri dan bagaimana kronologi sebenarnya. Namun ia harus tetap makan bukan karena jika ia sakit siapa yang akan mengurus Rara nanti.
"sekarang siapa yang akan membela ku"Batin pak Beni.
"langsung saja bagaimana kronologi kecelakaan itu pak?"tanya Hendra to the point yang membuat pak Beni ketar-ketir di tempat duduknya.
"sa-saya juga merasa sadar ga sadar dengan kejadian itu den" jawab pak Beni dengan suara bergetar yang membuat Hendra menyatukan alisnya.
"awalnya saya diminta berhenti sama non Rara karena beliau mau membeli batagor, Non Rara sebenarnya mau keluar untuk membeli sendiri namun saya larang mengingat perintah aden waktu itu. Saya mengantri cukup lama, hingga Saya sudah menenteng batagor di tangan kanan saya menuju mobil. tiba-tiba ada sebuah mobil yang saya rasa memang dengan sengaja menabrak mobil yang di tempati non Rara den" papar pak Beni yang membuat urat di wajah Hendra tegang seketika.
"apakah bapak ingat no polisi mobilnya?" tanya Hendra dengan intonasi yang begitu tajam di telinga.
"maaf den, saya tidak sempat karena saya sempat terpaku di tempat dan kejadiannya juga cukup cepat" jawab pak Beni dengan menundukkan kepala tidak berani memandang sang majikan yang kini telah diliputi kemarahan.
__ADS_1
"baik terimakasih bapak sudah membawa istri saya ke rumah sakit, sekarang saya minta tolong bapak kembali ke rumah sakit takutnya mertua saya nanti memerlukan bantuan. Saya akan pulang sebentar menjemput pakaian" titah Hendra setelah ia mendapatkan alamat tempat kecelakaan istrinya tadi dan segera ia berdiri dari duduknya.
"baik pak, terimakasih makanannya pak" jawab pak Beni cepat sekaligus lega.
Kini Hendra sedang di perjalanan menuju rumah seperti yang ia katakan tadi, ia butuh mandi dan menjemput pakaian juga.
"Andi, segera cari tau dalang di balik kecelakaan istri ku tadi siang di jalan XXX" ujar Hendra setelah menelpon asisten sekaligus tangan kanannya.
"saya menginginkan hasilnya dua jam kemudian dari sekarang "titah Hendra tidak terbantahkan, setelah memberikan perintah Hendra langsung mematikan sambungan telpon tersebut tanpa mau repot menunggu balasan dari lawan bicara, Yang membuat Andi mengumpat sikap boss-nya yang tidak terbantahkan.
***
Di ruangan yang serba putih itu kini hanya tersisa sepasang suami istri setelah kepulangan orang tua dari pihak istri. Dimana sang suami tengah menyuapi istri dengan telaten dan penuh kasih sayang.
"maaf ya mas, aku jadi ngerepotin" ujar Rara tidak enak hati walau sebenarnya ia sangat suka diperlukan seperti sekarang.
"kamu ngomong apa sih sayang, mas yang seharusnya minta maaf. gara-gara mas ga becus jaga kalian kamu jadi merasakan sakit seperti ini" jawab Hendra dengan perasaan bersalah yang sangat kentara.
"bisa mas tau bagaimana kronologi kecelakaannya Ra" tanya Hendra dengan serius jika sudah menyebutkan nama istrinya.
"awalnya aku minta pak Beni untuk berhenti karena aku pengen makan batagor mas, aku mau beli sendiri tapi pak Beni ga ngebolehin. lama menunggu akhirnya pak Beni datang membawa batagor di tangannya. Aku begitu bahagia melihatnya namun tidak berselang lama aku merasa ada sebuah dorongan yang berasal dari belakang mobil yang membuat aku refleks membungkukkan badan dan melingkarkan tangan untuk melindungi baby kita. setelahnya aku merasakan sakit yang sangat dan terakhir gelap menyapa" Akhir cerita Rara yang membuat ia sontak memegang perutnya kembali seakan rasa takut kehilangan itu masih belum hilang. Hendra langsung paham dari mana lebam dan biru yang yang berada di beberapa tempat pada tubuh istrinya itu.
"suuuttt jangan nangis lagi, maafkan mas ya. mas teledor dalam menjaga kalian, sekarang mas disini dan kalian akan baik-baik saja. ok. makasih kamu udah menjaga anak kita dengan baik" bujuk Hendra dengan memeluk tubuh rapuh sang istri dengan hati-hati dan melabuhkan kecupan di puncak kepala Rara.
"Dan mas akan memberikan balasan setimpal untuk orang yang berada dibalik kejadian ini semua" batin Hendra yang berjanji kepada dirinya sendiri.
__ADS_1