
*Baca setelah buka ya guys ya*
"m-mas a-apa kamu tidak ingin meminta hak mu?" tanya Rara dengan terbata sekaligus dengan menundukkan. Setelah ia mengumpulkan kesadaran dan sudah terlihat bugar kembali.
"mas ga akan memaksa Ra, mas akan tunggu kamu siap" jawab Hendra lembut sambil tersenyum.
"a-aku....
"ga usah dipaksa Ra, mas paham kok" jawab Hendra masih dengan tersenyum.
"ta-tapi aku benar siap kok mas, dan kamu juga berhak atas itu" jawab Rara yang kini sudah mampu melihat wajah Hendra dengan muka yang memerah.
"benar nih kamu udah siap?" tanya Hendra menggoda Rara.
"i-iya mas. Aku siap" jawab Rara terbata pada awalnya namun tegas di akhir.
"kalau begitu kita sholat dulu ya" ujar Hendra masih dengan tersenyum melihat Rara yang malu-malu meong.
Seusai mengucapkan salam yang menandakan berakhirnya ibadah dua insan tersebut Hendra segera memutar badan menghadap istrinya dan langsung di sambut uluran tangan oleh Rara seperti biasa namun malam ini Rara selalu menunduk jika di tatap oleh Hendra.
"mengenai hal tadi, Ra mas ga akan maksa kamu Ra, itu serius bukan isapan jempol belaka tapi itu memang dari hati mas. Jadi kamu ga perlu terbebani dengan itu. mas akan nunggu sampai kamu benar-benar siap. ok jadi ga usah di pikirin" ucap Hendra mengusap kepala Rara yang masih mencium tangan Hendra dengan takzim dalam waktu yang lama.
mendengar ucapan sang suami Rara mengangkat wajah ingin melihat ekspresi Hendra. tampak disana kelembutan dan juga ketegasan dalam waktu bersamaan.
"mas juga kan sebagai manusia normal pasti butuh itu, jadi aku ga mau mas mencari itu pada wanita lain apalagi 'jajan' sembarang. Lagian mas udah cukup bersabar selama ini" jawab Rara bijak. tidak di pungkiri bahwa ia begitu kagum dengan tindakan suaminya yang selalu mengedepankan kenyamanannya dan itu cukup membuktikan bahwa Hendra serius dengan pernikahan mereka.
__ADS_1
"tapi mas, boleh kah aku bertanya suatu hal pada mu?" ujar Rara sanksi sekaligus ragu apakah Hendra akan mau menjawab pertanyaan nya.
"silahkan Ra, kamu bebas menanyakan apapun kepada mas. selama bisa mas jawab akan mas jawab. Dan tolong jangan anggap mas orang asing lagi ya, mas ingin kamu bersikap kepada mas sebagai mana kamu kepada ayah ataupun bunda. karena sekarang kamu adalah tanggung jawab mas. jadi kalau ada yang membuat kamu ga nyaman utarakan saja kepada mas. nanti kita akan mencari solusi bersama. ok" Rara seakan sudah mendapatkan jawaban pertanyaan nya sebelum ia sampaikan.
"jadi kamu mau nanya apa tadi?" tanya Hendra kembali ke topik awal.
"mmmm.... jadi itu mas, apakah mas serius dengan pernikahan ini?" tanya Rara dengan nada lirih yang nyaris tidak terdengar.
"kenapa kamu masih bertanya soal itu Ra? apakah sikap mas selama ini tidak mencerminkan keseriusan?" tanya Hendra yang kini sudah berubah sedikit kecewa dengan pertanyaan Rara.
ia sangka Rara sudah dapat menyimpulkan bahwa tindakan dan segala perhatian selama ini adalah bukti keseriusannya, ternyata tidak.
"maaf mas, aku hanya menanyakan itu. Bagaimana pun juga aku butuh kepastian mas. Aku menginginkan pernikahan sekali seumur hidup mas, terlepas apapun tragedi yang melatarbelakanginya pernikahan kita. aku harap kita adalah dua orang yang sama-sama berjuang untuk tujuan bersama. Dan setelah adanya ikatan yang sah diantara kita aku sudah berusaha membuka hati. Karena seperti kata orang, "bukan menikahi orang yang kamu cintai tapi cintailah orang yang menikahi mu". Dan aku sekarang berusaha untuk itu mas" papar Rara panjang lebar yang membuat Hendra terdiam mendengar penjelasan aang istri. Ia begitu tertegun mendengar setiap kalimat karena menurut nya mengandung makna yang sangat dalam.
"makasih mas, dan aku harap bersama mas surga akan lebih dekat kepada ku. mohon bimbing aku, tegur jika aku melakukan kesalahan" seketika Rara berhamburan ke pelukan Hendra.
"mari kita berusaha bersama Ra " ujar Hendra dengan lirih yang hanya bisa di dengar oleh Rara.
"aku benar-benar siap mas untuk menjadi istri mu seutuhnya" Rara mendongakkan kepala menatap sang suami.
Kini ia benar-benar ikhlas jika ia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Makasih sayang, sekarang ikuti mas ya kita baca do'a nya bersama" ujar Hendra yang membuat Rara tersipu karena panggilan sayang dari Hendra untuk pertama kalinya.
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyaithoona wa jannibi syaithoona maaraazaqtanaa" ucap kedua dengan dengan nada setengah berbisik.
__ADS_1
seketika suasana menjadi canggung setelah pelafalan do'a tersebut. Baik Hendra maupun Rara sama-sama salah tingkah di buatnya.
"mas buka mukena nya ya Ra" izin Hendra yang diangguki oleh Rara.
setelah nya Hendra segera menggendong Rara menuju peraduan yang akan menjadi saksi penyerahan diri keduanya.
Hendra segera membaringkan Rara dengan lembut dan hati-hati sambil tersenyum ia menindih tubuh Rara. keduanya sama-sama panas dingin karena bisa di pungkiri ini adalah pengalaman pertama bagi Rara dan Hendra walaupun tidak pengalaman pertama namun untuk pertama kali ia menyentuh orang yang begitu ia cintai.
"kamu ga akan menyesal kan Ra? kamu benaran sudah siap?" tanya Hendra yang masih memastikan dan membuat Rara sebel seketika ia mengerucutkan bibir karena ia begitu malu sekarang malah di tanya-tanya.
Hendra begitu gemes dengan bibir merah muda alami sang istri namun sebelum itu ia mengecup kening Rara lama dengan lembut.
Dan terjadilah malam yang begitu panjang diantara mereka berdua. Malam yang dihiasi dengan nuansa yang sahdu adalah saksi mereka melaksanakan ibadah suami istri.
Awalnya Rara begitu takut karena pernah mendengar desas desus mengenai malam pertama namun perlahan Hendra meyakinkan Rara.
walau pada awalnya Rara sempat menitikkan air mata yang membuat Hendra ingin menghentikan kegiatan mereka karena tidak tega dengan sang istri yang kesakitan namun pada akhirnya berujung manis dengan Rara yang merasa sakit dan kaku di sekujur tubuh namun ada kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Keduanya kini sudah terlelap dengan begitu pulas setelah ibadah yang mereka laksanakan hingga menjelang subuh.
Sayup sayup Hendra mendengar lantunan Adzan yang menggema dengan paksa ia membuka mata walau masih terasa berat. Senyum kembali mengembang di bibir penuh nya melihat istri mungilnya yang kentara sekali raut lelah di wajah cantiknya. dengan rambut yang acak-acakan dan cahaya lampu yang temaran menambah kesan cantik sang istri yang membuat Hendra tidak bosan untuk memandangnya.
Terbersit rasa kasihan melihat tampilan Rara tersebut namun tidak bisa dibohongi bahwa ia begitu bahagia karena istrinya masih begitu terjaga dan itu di buktikan dengan kegiatan mereka beberapa jam yang lalu.
"Ra bangun sayang, udah masuk waktu sholat. kita sholat dulu baru nanti dilanjutkan lagi......
__ADS_1