Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Berbagi dengan Bunda


__ADS_3

Tidak terasa air mata ku kembali menetes mengingat semua.


Rara nunggu siapa?" Sebuah suara mengangetkan aku dan suara tersebut adalah dari mas Dera dan dengan segera aku menghapus air mata ku.


"Eh mas Dera, lagi nunggu mas ojek online yang aku pesan dari tadi" jawab ku dengan segera. Ya memang kami kalau di luar jam sekolah akan memanggil dengan nama masing-masing. Dan mas Dera hanya berjarak tiga tahun umur nya dengan aku.


"Ya udah mas antar aja yok, dari pada nunggu disini" ujar mas Dera.


"ga usah mas, aku nunggu aja sebentar lagi, mana tau mas nya lagi kejebak macet aja sekarang. Kan kasian juga kalau di batalin" jawab ku menolak secara halus.


"Ya udah deh mas ga akan maksa, tapi jangan suka melamun ya. Karena orang yang cantik rawan akan kesambet hahaha " tawa mas Dera.


"ga lucu mas, mas aneh deh bicara sendiri ketawa sendiri " ujar ku memutar bola mata.


"Iya deh iya mas hanya berniat menghibur.


"Hati-hati ya mas" ujar ku kala ia mulai menjalankan mobilnya.


Sampai di rumah aku melihat keadaan yang begitu sepi, mungkin karena masih dengan aktivitas masing-masing.


Baiklah aku akan ke kamar dan setelah itu akan melihat keadaan bunda.


Selesai dengan segala kegiatan ku di kamar aku pun keluar dengan wajah yang lebih fresh dan cerah.

__ADS_1


Dan ketika aku melewati ruang tengah nampak bunda lagi asik menonton.


"Bun gimana keadaan bunda sekarang?" Tanya ku yang seakan mengagetkan bunda.


"Astaghfirullah ternyata kamu Ra, kapan pulang? Kok bunda ga tau" tutur bunda.


"Tadi bun, mungkin bunda lagi di kamar. Pas Rara masuk memang sedang sepi. Pertanyaan ku belum di jawab loh bun"


"Oh iya bunda udah sehat kok, bahkan tadi udah mau kerja tapi ga di bolehin sama ayah mu. Tau sendiri lah kek mana ayah kalau tau bunda sakit dikit aja. Dan kamu tau ya Ra, ayah tadi sempat ga mau pergi kerja karena katanya mau menemani bunda. Kan lebay" ucap bunda dengan mata yang berbinar. Dan aku tau walaupun bunda bilang lebay tapi dalam hatinya berbunga-bunga.


Ya Allah akankah aku bisa mendapatkan seorang laki-laki yang seperti ayah memperlakukan dan menyayangi bunda.


"Bunda ada yang mau Rara bilang" Ucap ku setelah kami tertawa bersama bunda.


"Ini bun ini tentang hubungan aku dengan mas Hara" sambung ku dengan gugup.


"kenapa Ra, apa Hara udah mau bawa orang tuanya ke sini lalu kapan kalian akan acaranya akan dilaksanakan" tanya bunda dengan begitu antusias.


Aku bahkan mau berhenti sebelum memulai pembicaraan ini melihat betapa senangnya bunda ketika pembahasan ini.


"Bukan bun, malah se sebaliknya. Kami mungkin tidak dapat lagi memperjuangkan hubungan kamu bun," ucap ku sengaja menjeda kalimat agar mengetahui bagaimana reaksi bunda ku.


"kamu jangan bercanda deh Ra, ini ga lucu " jawab bunda tertawa sumbang setelah melihat aku berkaca-kaca.

__ADS_1


Ya reaksi bunda sama seperti yang aku bayangkan sebelumnya yaitu tidak percaya.


"Ga bun, Rara ga bercanda. Rara serius " ucap ku dengan tertunduk karena tidak mempunyai keberanian untuk menatap bunda. Ini masih bunda bagaimana kalau ayah. Entah bagaimana aku nanti menghadapi ayah. Kurasakan ada pelukan hangat yang begitu menenangkan dan buat tangis ku pecah untuk yang kesekian kalinya.


"Rara bisa ceritain ke bunda apa yang terjadi, jangan di pendam" ujar bunda dengan nada yang seperti biasa lembut tanpa ada nada marah sedikit pun di dalam pengucapannya.


Terbuat dari apa hati bunda ini, sementara begitu besar harapan bunda kepada ku dan mas Hara namun beliau tetap berbesar hati mendengar cerita ku dan bahkan menghibur ku.


"Rara merasa bersalah dan gagal bun, Rara juga udah ngecewain ayah dan bunda hiks hiks" aku tak dapat melanjutkan ucapan ku karena sesak dalam hati yang minta segera dikeluarkan.


"Ra dengarin bunda dulu sayang, " ujar bunda menangkup wajah ku dan mengangkatnya.


"Ra kamu jangan pernah berpikiran seperti itu, apapun yang terjadi sama anak ayah dan bunda baik itu Abang, kamu dan juga adek ayah dan bunda akan selalu ada dan mendukung kalian semua. jadi jangan pernah merasa mengecewakan ayah dan bunda" ucap bunda menenangkan aku .


"sekarang ayo Rara cerita ke bunda, apa yang terjadi sama kamu dan Hara. ini bukan masalah kalian bertengkar lalu kamu merajuk dan bilang seperti ini kan Ra? " tanya bunda sekali lagi memastikan karena mungkin masih belum percaya dengan apa yang aku katakan tadi.


"ga bun, kami ga bertengkar dan memang ga akan bisa lagi melanjutkan hubungan kami. maafin Rara bun, Rara ga bisa mewujudkan keinginan kalian untuk menikah dalam waktu dekat ini sebagaimana yang telah di rencanakan sebelumnya hiks hiks " ucap ku kembali dengan tangis yang kembali tak bisa ku bendung.


"Hubungan kami berjalan dengan baik bun, bahkan akhir akhir ini kami tidak mengalami kendala seperti yang orang bilang apabila mau menikah akan menghadapi banyak kendala. ternyata memang kami ga akan bersatu " ucap ku menerawang jauh.


bunda masih menyimak penjelasan ku dan mengusap bahu ku.


"intinya bun, kami be berpisah karena karena....

__ADS_1


__ADS_2