
"Ra sebenarnya mas mau bilang tapi kamu jangan marah ya".
"Ada apa mas" serius banget jawab ku sambil tersenyum.
"apa ga sebaiknya Kamu berhenti ngajar Ra karena mas berencana akan melamar kamu bulan depan, mas mau nanti kamu mengabdi sepenuhnya kepada mas, mengurusi mas dan juga bersama-sama membesarkan anak kita". Saking terbuainya dengan kata-kata mas Hara aku sampai tidak sadar bahwa ternyata mobil sudah berhenti di pinggir jalan.
Inilah momen yang aku tunggu selama ini yaitu mas Hara membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius.
Namun aku kembali tersadar setelah mengulang kembali perkataan mas Hara di ingatan yang meminta aku untuk berhenti dari pekerjaan ku.
Bagiku itu bukan hanya pekerjaan semata tapi juga menyalurkan ilmu yang aku dapat dan sekaligus mengisi waktu ku sehingga tidak terbuang percuma dan terisi dengan kegiatan yang tentunya bermanfaat.
"Inikah sudah pernah kita bahas sebelumnya mas ucapku dengan hembusan nafas pelan. Pekerjaan ku tidak akan membuat mas akan terlantar, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membagi waktu antara kegiatan ku dengan waktu untuk mu mas dan kalau masih mengganggu juga setelah kita coba aku akan berhenti dari kegiatan mengajar ku ini mas" ucap ku sambil membalas pegangan tangan mas Hara yang tadinya erat sekarang sudah mulai melemah mungkin karena kecewa atas jawaban ku yang tidak sesuai dengan keinginannya.
__ADS_1
"Mas ga bisa lihat kamu selalu didekati cowok lain Ra" ujar mas Hara.
"mas ini bukan pembahasan pertama kita mengenai hal ini, aku kan sudah bilang mas selama aku masih memantapkan diri untuk setia kepada mas aku ga akan pernah tergoda apalagi sampai berpindah ke lain hati mas" jawab ku dengan nada tegas.
"Mas tetap aja takut Ra, mas takut lama-lama kamu akan goyah terhadap mereka yang selalu berusaha dan berjuang untuk mu" helaan nafas mas Hara semakin berat seiring dengan ucapannya.
"Mas mereka hanya orang baru yang belum tau keburukan aku, mereka hanya tau kelebihan dan yang baik-baiknya saja tentang aku, jadi ga mungkin aku meninggalkan mas yang sudah lama menemani aku baik dalam keadaan susah maupun senang sudah kita lalui bersama hanya demi orang baru yang belum tentu mampu untuk itu mas" ucapku dengan pegangan ku pada tangan mas Hara yang makin erat.
Mas Hara memandang ku lekat mungkin mencari kejujuran dimata ku atau bisa jadi juga menunggu lanjutan kalimat ku. "Maafkan mas ya sayang sampai sekarang mas belum juga bisa menghilangkan rasa cemburu yang berlebihan ini" ucapnya membalas pegangan tangan ku tidak kalah erat.
"Siap bu guru aku akan lebih berusaha lagi " sambung mas Hara sambil memberikan hormat bagai seorang siswa yang melakukan upacara.
"Intinya ya mas berapa banyak pun yang memilih aku akan kalah dengan yang aku pilih ok"
__ADS_1
"uwu siapa sih yang mengajari kesayangan mas ini bisa berkata-kata hingga bisa berucap seperti itu?" Ucap mas Hara dengan gemes sambil menoel hidung ku dan hanya ku balas dengan wajah yang bersemu.
"Iya sayang mas akan lebih percaya lagi sama kamu" sambung mas hara.
"Nah gitu dong mas, jalan lagi yok mas kan ga lucu aku yang jadi guru malah terlambat. Sementara seharusnya aku memberikan contoh yang baik untuk murid-murid ku dan mas juga ga lucu kan kalau terlambat" ujar ku dengan cemberut.
"Kalau mas gapapa sayang kan mas bosnya" jawabnya dengan nada songon.
"Iya deh si paling bos ga ada yang menegur, tapi kan tetap harus memberikan tauladan bagi karyawan nya mas"
"iya sayang iya kita lanjut lagi ya perjalanannya" ucapnya sambil memberikan elusan di kepala ku.
"Ih mas kok di acak-acak, yah kan jadi berantakan" aku memutar bola mata karena kesel atas perbuatan mas Hara tersebut. "Masih cantik kok sayang walupun awut-awutan " senyum mas hara pun makin mengembang.
__ADS_1
Aku pun ikut tersenyum mendengar gombalan mas Hara dan kami kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah.