Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Tidak sengaja


__ADS_3

Waktu terus berjalan dan masa terus berlanjut. Tidak terasa kini Rara sudah memasuki detik-detik ia melahirkan sang buah hati. Perkiraan ia melahirkan sekitar sepuluh hari lagi. anak di dalam kandungannya sehat dan hanya menunggu waktu untuk di lahirkan.


"astaga Ra, udah ga usah di siapkan. biar mas aja, kamu ga usah repot-repot sayang" ujar Hendra sambil berlari menuju sang istri yang berada di depan lemari yang terbuka dan di tangannya ada sepasang baju yang akan dikenakan Hendra hari ini.


"mas kan hanya nyiapin baju, bukan cuci baju pake tangan sambil jongkok" jawab Rara mencebikkan bibir kepada suami yang berada di depannya kini.


"udah pokoknya kamu ga boleh capek, mas ga mau kalian kenapa-napa sayang" sahut Hendra yang kini sudah menyambar pakaian yang berada dalam genggaman Rara dan segera menuntun wanitanya untuk segera duduk di tepi ranjang.


"apanya yang capek coba mas, ngambil baju doang" kata Rara yang masih kesel sama suami nya yang apa-apa ga boleh.


"semalam kamu udah capek sayang, dan ini masih pagi jadi ga usah membuat kesibukan ya. aku ga mau kamu kecapean" ujar Hendra yang seketika membuat muka Rara memerah mendengar kalimat suaminya yang memang tidak begitu vulgar namun tetap saja membuat ia malu.


"apaan sih mas, udah deh jangan mesum. masih pagi juga" jawab Rara sambil mengalihkan pandangan dari sang suami. ia malu.


"apanya yang mesum sayang, kan dokter juga ngomong. Agar nanti lahirannya mudah kan dokter menyarankan kita untuk sering...." ucapan Hendra terpotong ketika tangan mungil sang istri membekap mulut nya.


"udah deh mas, ga usah dilanjutkan. malu tau sama reader" kata Rara yang kini dengan tatapan tajamnya namun yakinlah itu semua untuk menutupi rasa malunya.


"biarin aja sayang, salah salah sayang para reader juga pasti paham kok" ucap Hendra tanpa rasa bersalah.


"sekarang mas siap-siap gih, nanti terlambat" ujar Rara mau berdiri dari duduknya.


"eits mau kemana lagi nih?" tanya Hendra cepat menghentikan gerakan Rara.


"aku mau ke dapur mas, sambil nunggu mas siap-siap biar aku siapkan sarapan" jawab Rara yang sudah mulai jengkel dengan sang suami.


"ga ga usah nanti kita makan bersama aja, Sekarang kamu bantu mas siap-siap aja. ok" putus Hendra tanpa mendengar penolakan sang istri.

__ADS_1


jika sudah begitu Hendra sudah begitu Rara bisa apa selain mengikuti kemauan sang suami.


"ya udah mana sini bajunya" titah Rara bagaikan seorang ibu kepada anaknya.


"makasih sayang" ucap Hendra antusias sekaligus menyematkan sebuah kecupan di bibir pink Rara.


"mass" renggut Rara.


"hehe amunisi sayang" kilah Hendra cengengesan.


Hendra sebenarnya udah ngeri melihat perut Rara yang menurutnya kapan saja bisa meledak sangking besarnya. Bahkan terkadang ia yang heboh sendiri melihat tingkah sang istri yang menurutnya bisa saja membahayakan dirinya sendiri dan juga anak dalam kandungannya.


Belum lagi ketika malam Rara mengeluh sakit di pinggang dan juga kaki yang harus di pijit sebelum tidur. ingin rasanya ia menggantikan posisi Rara, kalau bisa ingin ia gantian dengan Rara untuk membawa anak mereka kemana-mana.


Namun bagi manusia yang berfikir itulah salah satu tanda kebesaran Nya yang hanya menjadikan bayi bisa tumbuh di rahim seorang wanita. Hendra memang tidak sedikitpun meragukan kuasa sang pencipta namun tetap saja rasa khawatir itu tidak bisa di tepis begitu saja melihat orang yang begitu ia sayangi kesusahan tanpa bisa di bagi kepada nya. Namun kembali lagi itulah kodrat seorang wanita.


Kini Hendra sudah diperjalanan menuju kantor dengan senyum yang selalu terpatri di bibirnya sejak tadi mengingat perpisahan dia dengan sang istri yang begitu manis pagi ini.


"handphone mas selalu aktif untuk kamu" ucap Rara menirukan suara Hendra, ia begitu hafal oleh perkataan Hendra sebelum pamit sangking seringnya di ucapkan oleh suaminya itu.


"hehe pintar istri ku" ucap Hendra sambil mengelus kepala Rara.


"ya udah mas pergi ya sayang" ucap Hendra sambil berjalan meninggalkan sang istri.


"mas...." panggil Rara menghentikan langkah sang suami.


"iya sayang, ada yang lupa?" tanya Hendra dengan menahan senyum.

__ADS_1


"mas ih..." renggut Rara dengan manjanya.


satu kecupan Hendra labuhkan di perut sang istri sambil membisikkan kata-kata yang tidak terdengar oleh Rara.


"udah sayang, mas pamit ya"


"ihhhhh mas aku juga, jangan anaknya aja" bibir Rara manyun melihat Hendra yang terus menggodanya dari tadi.


" oh iya ya" tawa Hendra pecah seketika namun ia melakukan apa yang di pinta oleh sang istri juga.


Ia mengecup puncak kepala Rara sambil membisikkan kata-kata mesra kemudian dengan dilanjutkan dengan mengecup bibir Rara dengan tambahan sedikit ******* . Barulah Hendra berangkat yang dilepas oleh Rara dengan mukanya yang memerah.


Ingatan itu berputar di kepala Hendra hingga ia melihat tukang bubur di pinggir jalan yang berada di seberang jalan yang ia lewati kini. Seketika ia begitu selera melihatnya padahal tadi ia begitu lahap sarapan bersama sang istri.


Entahlah akhir akhir ini memang ia yang lebih sering ngidam di bandingkan Rara.


Pas setelah ia membelokkan mobilnya menuju penjual bubur tersebut terdengar suara tabrakan yang begitu keras di belakangnya. namun karena padatnya lalu lintas ia tidak bisa segera melihat kejadian tersebut. jadilah ia harus tetap membelokkan mobilnya baru rencana nya melihat kecelakaan tersebut.


Namun setelah beberapa saat ia dengan susah payah akhirnya berhasil untuk memarkirkan mobil di seberang jalan. Ia berencana akan melihat kecelakaan di belakangnya tadi, namun nampaknya ia terlambat karena massa yang sempat berkerumun tadi tampak sudah membubarkan diri.


"ah mungkin sudah di bawa ke rumah sakit kali ya" pikir Hendra yang kemudian membalik badan menuju penjual bubur yang ia inginkan tadi. Ia menganggap kejadian tadi seperti kecelakaan pada umumnya, tidak berfikir bahwa itu adalah kecelakaan yang awalnya di peruntukan untuknya.


***


Sementara di rumah sakit kini Seorang wanita tengah berteriak meminta bantuan.


"tolong sus, tolong dia. dia baru aja mengalami kecelakaan lalu lintas" Ucap seorang wanita itu dengan nada yang begitu panik. sungguh ia begitu takut melihat kaki dan juga kepala lelaki yang tidak sengaja menjadi korban tabrakannya.

__ADS_1


Kini wanita tersebut tengah mondar-mandir di depan ruangan laki-laki yang menjadi korban tabrakannya tanpa sengaja.


"astaga apa yang baru aku lakukan, aku menabrak orang. Ah tapi ini bukan salah ku sepenuhnya. lagian dia juga kan yang membelok dengan tiba-tiba yang membuat aku tanpa sengaja juga menabrak nya" ujar wanita itu yang membela dirinya sendiri, lebih tepatnya menenangkan.


__ADS_2