Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
mari berjuang bersama


__ADS_3

Terbersit rasa kasihan melihat tampilan Rara tersebut namun tidak bisa dibohongi bahwa ia begitu bahagia karena istrinya masih begitu terjaga dan itu di buktikan dengan kegiatan mereka beberapa jam yang lalu.


"Ra bangun sayang, udah masuk waktu sholat. kita sholat dulu baru nanti dilanjutkan lagi......


"euggg m-mas udah dong ini aja masih sakit lagian aku juga capek. kok malah mau nambah lagi " Rara merenggut tidak terima yang membuat Hendra tidak bisa menyembunyikan tawanya lagi.


"hahaha lucu kamu Ra, siapa yang mau nambah coba. ihhhh..... mas gemes sama kamu."ucap Hendra sambil manambah kusut dengan mengacak rambut Rara. yang hanya nampak sebagian karena sang empu menyembunyikan diri di dalam selimut.


"makanya kalau suami ngomong tu di dengarin dulu sayang jangan main potong. Maksud mas bangun dulu biar mandi lalu kita sholat setelah itu baru lanjut lagi tidur nya. gitu..." ujar Hendra yang masih belum bisa berhenti tertawa sepenuhnya.


Rara segera menggeleng wajahnya yang memerah karena malu walau sudah tidak bisa lagi di lihat oleh Hendra. bisa-bisanya ia berpikir seperti itu sementara sang suami. ah sudahlah ia tambah malu.


"hey udah dong sayang, ga usah malu. sekarang bangun ya, kita mandi baru setelah itu kita sholat" Hendra membujuk Rara walau masih dengan menahan senyum.


"mas duluan aja, siap mas baru aku yang mandi" ucap Rara yang sudah membuka tutup mukanya walau belum semuanya.


"ayo sini mas gendong, mas yakin kamu akan kesusahan berjalan" ucap Hendra langsung bertindak tanpa menunggu persetujuan Rara Yang membuat ia mau tak mau mengalungkan tangan di leher Hendra dan wajahnya telah ia sembunyikan di dada sang suami.


Pada waktu yang sama namun dibelahan dunia lain Seorang wanita kini tengah meringis merasakan sakit pada pinggangnya dan sesekali tendangan dari sang bayi yang berada dalam perut nya yang aktif bergerak.


Sebenernya ia telah lama terbangun dari tidur nya, ia hendak melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim ketika fajar menyapa, yaitu sholat subuh. Namun sejak tadi panas di pinggang nya tidak juga kunjung reda begitu pun tendangan dari sang baby di perutnya yang malah semakin sering dan kencang. Ia telah berusaha untuk menenangkan sang baby dengan cara mengusap-usap nya seperti biasa. namun kali ini agak nya itu tidak banyak membantu.


"ssstttt.... kamu kenapa nak? tenang ya kita mama mau sholat dulu " bujuk Yelsi kepada baby nya. Ya wanita itu adalah Yelsi istri dari Hara.


Bukannya tenang malah tendangan kuat yang di dapatkan Yelsi seakan menjadi jawaban dari sang baby.


"ssstttttttt......"


"kamu Kenapa Yel?"tanya Hara dengan suara serak khas orang bangun tidur.

__ADS_1


"eh ga kok mas in.... ssstttt" Yelsi belum selesai dengan kalimat kembali tendangan sang baby terasa.


"kenapa ada yang sakit? bagian mana?" tanya Hara yang kini sudah duduk walau masih belum membuka mata sepenuhnya.


"i-ini mas dari tadi aku mau sholat tapi baby nya selalu nendang itu pun melebihi kuat tendangan sebelumnya" adu Yelsi dengan muka menunduk dan tangan masih mengelus perutnya.


"boleh aku sentuh perut nya?"ucap Hara dengan nada canggung, begitu pun Yelsi yang melongo di buatnya. karena memang selama ini hubungan mereka memang se kaku itu terbilang ga ada kontak fisik diantara mereka jika bukan keadaan yang darurat. Apalagi ini suami nya itu mau menyentuh perutnya.


"Yel..." panggilan Hara kembali menyadarkan Yelsi dari pikiran nya .


Belum sempat Yelsi menjawab pertanyaan itu tendangan sang baby kembali terasa yang membuat Yelsi kembali meringis.


"ssstttttttt" tanpa sadar Hara membawa tangan nya ke arah perut sang istri.


"DEG" entah bagaimana Hara mendeskripsikan rasa itu, namun ia merasa seakan ada sengatan listrik ketika tangan menyentuh permukaan perut Yelsi yang di lapisi dengan daster tipis. entah bagaimana perasaan Hara ketika merasakan gerakan dari sang baby yang pasti ia bahagia.


"m-mas...." panggil Yelsi gugup karena keadaan mereka yang begitu intim sekarang.


Ajaib, seketika gerakan itu tidak terasa lagi walau masih ada pergerakan namun sudah tidak seperti tadi lagi.


"m-mas...."


"Lain kali kalau ada apa-apa ngomong sama mas ya, jangan tahan sendiri" ucap Hara dengan tangannya kini sudah berpindah dengan mengusap wajahnya.


"iya mas" jawab Yelsi dengan wajah menunduk.


"ayo sekarang mas bantu berdiri, kamu pasti kesusahan dengan membawa perut kamu segini besar kan" ucap Hara mencoba mencairkan suasana.


"ga usah mas, udah mendingan kok. aku bisa sendiri"

__ADS_1


"ga usah membantah ayo mas bantu"


Setelah Yelsi telah selesai melakukan ritual sebelum sholat ia melihat suaminya masih termenung di pinggir ranjang.


"m-mas a-ayo kita sholat bersama" tawar Yelsi dengan gugup karena takut itu akan menganggu kenyamanan sang suami. Walau ia tau suaminya tidak menginginkan dia namun ia juga tidak ingin suami melupakan kewajiban nya seperti beberapa waktu belakangan ini.


"sholat ya sudah lama sekali aku meninggalkan kewajiban ku itu ya sejak kejadian itu aku tidak pernah lagi melaksanakan sholat, padahal itu adalah suatu keharusan bagi ku namun kenapa tidak pernah lagi aku laksanakan. maafkan hamba ya Allah" Batin Hara pilu mengingat betapa ia sudah menjadi manusia yang lalai selama ini.


"m-mas maaf kalau begitu aku duluan" ucap Yelsi yang menyadarkan Hara dari berbagai pikiran nya yang berkecamuk.


"eh bentar Yel, tunggu aku. aku whudu' sebentar" ucap Hara segera berlalu dari hadapan Yelsi ngacir ke kamar mandi.


Senyum mengembang di bibir Yelsi melihat keantusian sang suami dan ia senang dengan itu.


Kembali lagi kepada pasangan suami istri yang kini telah selesai dengan ibadah sholat subuh nya.


"sini Ra, baring di paha mas" ucap Hendra yang membuat rona merah kembali menghiasi pipi Rara.


"g-ga usah mas, aku ke ranjang aja lagi" jawab Rara dengan wajah menunduk.


"udah sini dulu" paksa Hendra tanpa mau mendengarkan penolakan Rara.


Tanpa terasa kepala Rara kini sudah berlabuh di paha sang suami yang membuat ia mau tak mau menatap wajah sang suami nya.


Suara sholawat mengalun begitu merdu terucap dari bibir Hendra, di sertai dengan suara serak nan basa menambah kesyahduan di pagi itu.


Rara memejamkan matanya untuk menikmati sholawat itu, dan tanpa sadar ia semakin terbuai hingga akhirnya ia benar-benar tertidur karena semalam ia memang kurang tidur gara-gara kegiatan mereka di tambah dengan badannya yang masih terasa remuk dimana-mana. Walau ia masih sempat mendengar ucapan sang suami yang entah apa karena ia lebih tertarik untuk tidur dari pada bertukar cerita sekarang.


"Jangan pernah tinggalkan aku Ra, hanya kamu harapkan ku untuk bisa percaya kepada wanita lagi. Jika itu terjadi aku tidak yakin akan bisa percaya lagi kepada wanita" ujar Hendra yang kini sudah mengehentikan sholawat nya melihat sang istri sudah terlelap dengan begitu damai.

__ADS_1


"Aku janji tidak akan pernah mempermainkan mu Ra, karena sejak awal aku sudah menaruh kepercayaan kepada mu. Dan aku harap kamu juga begitu" tangan Hendra kini terulur untuk menyentuh wajah yang istri dengan sayang.


"mari kita berjuang bersama"satu kecupan mendarat dengan manis di kening Rara.


__ADS_2