Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Bertemu Bulan


__ADS_3

Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat kini hubungan Rara dengan Hendra sudah hampir memasuki waktu sebulan. Tiga hari yang lalu mereka sudah mengunjungi keluarga Rara kembali. Karena perusahaan juga sedang sibuk-sibuknya untuk mempersiapkan hari penting perusahaan yang sebentar lagi akan dirayakan jadi harus menunggu Hendra bisa untuk libur beberapa hari ke depan. Itulah kenapa mereka baru bisa menyambangi kediaman Rara.


Respon antusias menyambut kedatangan Rara dan Hendra. Bahkan Hendra yang notabene nya baru beberapa kali menginjakkan kaki di rumah mertuanya tidak merasa di anggap orang asing, ia di terima dengan baik disana.


Dan selama disana juga ia melihat sisi lain dari sang istri. karena selama mereka tinggal bersama Rara tidak pernah bersikap semanja itu. Apakah dia belum nyaman dengan keberadaan ku atau dia masih memerlukan waktu mengingat hubungan kami yang pada dasarnya.....ya begitulah. Sehingga dia belum bisa bersikap seperti itu kepada ku.


Melihat dia bermanja dengan sang cinta pertama nya membuat setengah hati ku bahagia kerena melihat ia bahagia adalah ketenangan bagiku namun setelah hati ku lagi meringis karena bisa-bisa nya merasakan cemburu dengan mertua ku sendiri.


"Sadar Hendra sadar dia adalah ayah dari istri mu jadi tidak perlu merasa cemburu begitu. dasar bodoh" umpat Hendra dalam hati.


Percakapan terus berlanjut ke inti pembahasan yang memang dari awal sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari yang lalu, yaitu tepat malam mereka sah menjadi suami istri.


"Kalian mau konsep yang seperti apa nak?, tanya bunda antusias setelah menentukan hari yang pas dengan rencana pelaksanaan penikahan tersebut yang rencananya akan diadakan bersamaan dengan hari penting peringatan perusahaan.


jika resepsi pernikahan dilaksanakan pada pagi hari maka perayaan untuk perusahaan di gelar pada malam harinya. Untuk memutuskan kesepakatan itu sempat terjadi salah paham antara Rara dan Hendra. Awalnya Hendra menolak untuk melaksanakan dua hari penting itu secara bersamaan karena takut Rara akan merasakan capek yang luar biasa nantinya, namun ternyata pendapat tersebut disalahartikan oleh Rara. Rara beranggapan bahwa Hendra belum siap jika hubungan mereka muncul kepermukaan dan diketahui oleh publik.


Namun setelah menemukan titik terang permasalahan tersebut Hendra paham bahwa sang istri nya juga butuh pengakuan di depan semua orang termasuk karyawan nya. Ia bisa apa setelah istri nya bilang bahwa ia tidak akan merasakan capek seperti yang di tuturkan oleh suaminya tersebut.


Setelah semua konsep dan segala sesuatu nya telah ditetapkan maka baik Hendra ataupun Rara tidak diperkenankan untuk membantu apapun itu.


"biar ini menjadi kejutan untuk kalian berdua Ra, lagian kan menikah hanya sekali seumur hidup jadi harus benar-benar berkesan" ujar bundanya Rara kala itu.


Dan ketika Rara meminta bantuan kepada sang ayah respon nya malah angkat bahu tanda ia tidak bisa juga menolak keinginan sang istri yang begitu ia sayangi.

__ADS_1


Begitu pun ketika ia curhat dengan sang suami.


"ayah dan bunda mau yang terbaik untuk kita Ra, wajar mereka begitu antusias karena kamu adalah putri mereka yang pertama kali menikah. sedangkan Gina masih lama untuk sampai ke tahap ini. memang bang Candra juga sudah menikah namun kan akan beda rasanya mempersiapkan pernikahan diantara kalian, kerena kalian mempunyai masing-masing tempat di hati ayah dan bunda" jawab Hendra dengan tenang yang membuat Rara bisa apa selain menerima pendapat baik orang tua maupun suaminya itu.


Namun tanpa sepengetahuan Rara Hendra adalah orang yang paling sibuk untuk mempersiapkan ini dan itu, ia adalah orang yang paling antusias sering kali membuat ayah dan bunda menggelengkan kepala karena antusias nya.


Hendra sengaja meminta ayah dan bunda Rara untuk tidak memperbolehkan Rara turun tangan untuk mengurus ini semua, karena ia tidak ingin istri mungil nya itu merasakan capek, jadi biar ia saja. Tentu saja hal itu membuat kedua orang tua tersebut tidak bisa menyembunyikan keharuan nya atas tindakan menantu mereka tersebut. mereka merasa Rara sudah berada di tangan orang yang tepat dan mereka tidak menyesali pernikahan yang terjadi diantara anak dan menantunya. karena mereka melihat dengan mata kepala sendiri begitu besar cinta sang menantu terhadap anak mereka.


Hari ini Rara sudah mengantongi izin dari sang suami untuk bertemu dengan Bulan, sahabat Rara yang sudah lewat sebulan tidak ada pertemuan diantara keduanya. ya setelah kejadian hujan sore itu yang berakhir mereka dinikahkan Rara dan Bulan belum pernah bertemu karena kesibukan masing-masing.


Oh iya Rara juga sudah cuti dari seminggu yang lalu, jangan tanya apa boleh ia cuti selama itu. jawabannya tentu saja boleh karena yang punya perusahaan kan suami sendiri jadi bebas dong.


"Astaga itu tidak benar thor, aku izin baik-baik ya. walau itu perusahaan suami sendiri aku melalui proses pengajuan cuti sebagimana karyawan lainnya. namun tentunya saja segalanya lebih mudah karena buk Salsa juga sekarang tidak bisa lagi marah-marah kepada ku" Rara merenggut kepada author pemirsah namun akhirnya ia membenarkan juga kekuatan orang dalam. Dasar si Rara.


Setelah sampai di tempat mereka janjian Rara segera mengedarkan pandangan untuk mencari sang sahabat. Namun ia belum menemukan keberadaan Bulan jadi ia memutuskan untuk menunggu di tempat favorit mereka yang biasa setelah memesan minuman terlebih dahulu.


Sepuluh menit berlalu barulah Bulan muncul dengan nafas yang terengah-engah.


"sorry ya Ra, aku telat banget pasti ya" ujar Bulan dengan nafas yang belum stabil.


"duduk dulu Lan, atur nafas dulu baru ngomong" kekeh Rara melihat wajah Bulan yang memerah.


Langsung saja Bulan menyeruput minuman Rara yang tersisa setelah.

__ADS_1


"tenang hari ini aku yang traktir sebagai penebus keterlambatan ku" ujar Bulan ketika melihat ekspresi tidak rela Rara yang disambut dengan raut antusias Rara.


memang ya yang namanya gratiskan berlipat kali lebih nikmat rasanya walau ia telah memiliki suami yang tidak akan habis hartanya hanya untuk membeli minuman.


Ah iya mengenai suami Rara langsung ingat bahwa memberi tahu bulan tentang suaminya adalah tujuan utama ia menemui Bulan di samping untuk melepaskan rindu kepada sang sahabat.


Setelah mereka mengobrol dan bergosip ria yang menghabiskan waktu hampir dua jam. Dasar cewek kalau topik yang dibahas asik memang suka lupa waktu untung ga lupa diri. wkwkwk. pengalaman pribadi ygy.


"oh iya Ra, kemarin waktu aku bawa mama untuk check up aku melihat Hara bersama gundiknya. mungkin mereka mau memeriksa kehamilan juga" ujar Bulan dengan nada tidak suka jika masih ingat wanita itu yang menyebabkan luka menganga di hati sang sang sahabat.


"udah Lan, jangan ngomong gitu ah. lagian kan wajar mereka memeriksakan kandungannya istri nya untuk mengetahui perkembangan sang janin" jawab Rara dengan tenang namun meringis dalam hati mengingat status mereka yang aneh sekarang.


Dan Bulan mengamati wajah Rara yang tidak ada lagi ekspresi kesakitan disana.


Bulan takjub bagaimana Rara dapat melalui masa-masa sulit dengan begitu dewasa, jika ia yang berada di Posisi itu ia mungkin akan stres karena tidak bisa membendung luapan kesedihan jika mengingat semua kenangan yang mereka lalui bersama.


"oh iya Lan hampir lupa, aku mau ngasih tau sesuatu sama kamu" Rara menggigit bibir untuk meredakan kegugupannya.


"apa Ra? kamu udah mendapatkan pengganti si brengsek Hara itu. Dan kalian udah pacaran gitu?" tanya Bulan dengan antusias.


Rara meringis mendengar perkataan Bulan yang tidak salah namun tidak juga benar sepenuhnya.


"Lan Minggu depan aku akan melaksanakan pernikahan......

__ADS_1


__ADS_2