
Entah apa yang membuat Hara begitu gelisah dari tadi, padahal ia baru saja berhubungan via telpon dengan yesli dua jam yang lalu. namun itu tidak mampu menenangkan hatinya.
"kamu harus fokus Hara, agar kamu bisa pulang malam ini juga" batin Hara.
Getaran ponsel di meja menyadarkan Hara dari pekerjaan nya.
"iya hallo, a-apa baik saya Segera kesana" jawab Hara panik mendengar tulang ucok diseberang sana.
Segera saja Hara meraih gagang telpon kantor di hadapannya dan menekan beberapa tombol angka disana.
"segera ke ruangan saya" tut sambungan itu di putuskan Hara tanpa mendengar jawaban dari sang asisten.
setelah Hara mengintruksikan apa yang ia anggap perlu lekas ia bergegas keluar kantor menuju mobilnya.
"Oh iya astaghfirullah, aku belum menghubungi papa" rutuk Hara kepada diri sendiri setelah berada di dalam mobil.
Terlihat sambungan dering di handphone-nya menandakan bahwa si penerima telpon belum juga menjawab.
"papa kemana sih, setidaknya papa bisa membawa Rara kesana agar ada yang menemani Yelsi disana sebelum aku tiba" racau Hara ketika telpon tidak di jawab Hendra padahal sudah ke empat kalinya ia coba.
"apa aku telpon Rara aja ya?. lagian kan ini darurat " ujar Hara sendiri.
Dering pertama juga sama, Rara belum mengangkat telpon dari Hara, bahkan yang kedua. untuk ketiga kalinya Hara sudah pasrah jika Rara tidak juga mengangkat nya.
"ha-hallo, assalamualaikum " sapa Rara di seberang sana dengan terbata, karena ia memang dilema untuk mengangkat telpon itu tadi. Ia sudah membuka hati untuk Hendra sang suami jadi ia memutuskan agar tidak berhubungan dulu dengan Hara, sampai mereka berdua benar-benar berdamai dengan keadaan. namun Hara menelpon bukan hanya sekali tapi ini sudah yang ketiga kalinya dan Rara memutuskan untuk mengangkatnya mana tau ada yang penting kan.
"waalaikumsalam, maaf mengganggu Ra, papa mana ya?" tanya Hara yang sedikit aneh di telinga Rara. Ya Rara masih belum menyesuaikan diri untuk panggilan seperti yang baru di sebutkan oleh Hara barusan. walau itu di peruntukan untuk suaminya.
"hallo Ra..." ujar Hara kembali ketika tidak mendengar jawaban dari Rara.
"eh iya, mas Hendra mungkin lagi ada rapat. coba di telpon" saran Rara setelah mendengar teguran Hara.
"udah tapi ga di angkat. Ra tolong kamu cari papa sekarang, karena Yelsi sekarang udah di rumah sakit mau melahirkan dan aku masih di perjalanan menuju kesana" titah Hara yang membuat Rara terdiam lagi.
"Ra kamu dengar aku kan?"
"dengar kok, sebentar aku ke ruangan mas Hendra dulu.
Segera saja pembicaraan mereka di putus setelah Rara menanyakan alamat rumah sakitnya dimana dan Rara beranjak dari tempat duduk nya yang dulu. Ya Rara tetap bekerja dan menempati posisi yang sebelum ia menikah dengan pemilik perusahaan ini. Awalnya banyak karyawan yang segan lantaran dia adalah istri bos, namun karena sikap nya yang ramah dan supel itu tidak bertahan lama. Sekarang para karyawan disana sudah berteman dengannya walau mereka masih membatasi diri karena rasa segan tadi.
"Mas..." panggil Rara yang melihat Hendra baru keluar dari ruang meeting yang di sambut Hendra dengan senyuman.
__ADS_1
Rara tidak menghiraukan masih ada petinggi perusahaan disana. segera ia menyeret tangan sang suami ke dalam ruangan Hendra.
Dan Hendra pun pamit dengan menunduk dan senyum tipis dan mereka menjawab dengan anggukan, paham karena pemilik perusahaan tersebut masih pengantin baru.
"kenapa sih sayang?" tanya Hendra masih mengulum senyum melihat Rara dengan gemes.
"handphone mu mana mas?" tanya Rara marah yang membuat Hendra menyentuh saku celana nya kemudian mengalihkan pandangan ke arah meja kerjanya.
"hehehe mas lupa sayang. kenapa?" tanya Hendra lagi dengan cengiran karena ia memang sering melupakan handphone nya dimana.
Namun ia sedikit heran kenapa Rara marah hanya dengan masalah sepele seperti ini, biasa juga cuma mengomel tidak sampai marah seperti ini.
"ayo sekarang kita ke rumah sakit, Menantu mu mau melahirkan dan anak mu masih di perjalanan menuju ke sini" ujar Rara yang membuat Hendra membelalakkan mata. Hendra ingat dengan kejadian ia menolong wanita yang mau melahirkan dan ia rasanya tidak sanggup lagi berurusan dengan rumah sakit perkara itu.
"mas reaksinya kok gitu?" tanya Rara heran.
"eh ga kok, ayo kasian Yelsi disana sendiri" ucap Hendra cepat menguasai keadaan.
"segera ia meraih handphone di atas meja dan menggenggam tangan Rara.
mereka langsung pergi parkir yang hanya di peruntukan untuk para petinggi perusahaan saja, karena Rara juga sudah membawa tas-nya ketika akan ke ruangan Hendra tadi.
Selama di perjalanan Rara terus mengomel dan marah kepada Hendra.
"iya sayang maaf ya, mas lupa. kamu tau sendiri kan mas sering melupakan itu" jawab Hendra dengan kalimat yang sama karena memang pertanyaannya juga sama. Hendra sebenarnya sudah sedikit jengkel kepada sang istri namun ia tahan karena takut memperumit keadaan.
"udah deh mas diam aja, dari tadi itu mulu jawabnya. Kenapa bisa benda sepenting handphone sampai tinggal?" ujar Rara membuang muka.
"kan memang dari tadi pertanyaan mu itu ke itu juga sayaaang" gemes, Hendra menghela nafas mengahadapi sikap Rara yang sekarang.
"kok ga di jawab mas?" tanya Rara yang membuat Hendra mau membenturkan kepalanya ke stir mobilnya sekarang juga, boleh ga sih.
Untung perjalanan ke rumah sakit tidak begitu lama walau menghabiskan waktu beberapa saat juga sih, namun Hendra sedikit lega karena terbebas dari amukan sang istri.
Segera mereka bertanya dimana ruangan Yelsi dan setelah mendapatkan jawaban mereka berjalan kesana dengan diam.
Setelah sampai di depan ruangan yang di arahkan mereka melihat seorang lelaki paruh baya.
"mohon maaf pak, benar ini ruangan Yelsi" tanya Rara dengan nada seperti biasa.
"sama aku aja marah-marah terus giliran sama orang kembali baik" omel Hendra yang tentu saja dalam hati, mana berani ia menyuarakannya.
__ADS_1
"Betul betul, apakah ini yang bernama Pak Hendra ?" tanya pria tersebut yang sangat kental dengan logat bataknya.
"oh iya lupa aku, perkenalkan saya adalah tukang kebun sekaligus sopir di rumah pak Hara. Pak Hara biasa memanggil aku dengan Tulang ucok" ujar lelaki itu.
""oh iya pak, bagaimana keadaan Yelsi sekarang?" tanya Rara setelah mereka berjabat tangan.
"nah itu dia saya juga kurang tau buk, dari satu jam yang lalu istri saya belum juga lagi keluar. Seperti ibu masuk saja dulu " saran Tulang ucok.
"kamu masuk aja dulu sayang,kamu lihat bagaimana keadaan Yelsi sekarang di dalam" ujar Hendra yang di angguki Rara kali ini.
Rara mendorong pintu pelan kemudian menutupnya kembali.
Disana ia di sajikan pemandangan dengan Yelsi yang nampak sesekali meringis dan juga kesakitan. Di sampingnya ada seorang wanita paruh baya yang Rara duga adalah istri tulang ucok yang di maksud tadi.
"udah bukaan berapa Yel?" tanya Rara ketika sudah sampai di dekat Yelsi.
"eh baru bukaan tiga katanya mbak, tapi ga tau kenapa rasanya sakit sekali" kata Yelsi menitikkan air mata.
"sabar ya Yel, bentar lagi kamu akan melihat senyum anak mu. kamu pasti bisa" ujar Rara sambil mengelus bahu Yelsi.
Dua jam berlalu sakit yang dirasakan Yelsi semakin menjadi, dokter sudah menyarankan jika Yelsi sudah tidak kuat boleh saja operasi namun Yelsi tetap mau melahirkan secara normal, Karena dokter bilang dari hasil pemeriksaan tidak ada yang perlu di khawatirkan semua normal, hanya saja proses setiap ibu yang melahirkan berbeda-beda.
Dari waktu dua jam tersebut hanya bertambah dua bukaan yang berarti sekarang Yelsi baru bukaan lima. Rara semakin tidak tega melihat Yelsi kesakitan, namun ia juga tidak bisa meninggalkan Yelsi sendirian karena satu jam yang lalu Bi Sumi yang baru ia kenal namanya itu pamit ke rumah mengambil perlengkapan Yelsi karena tadi mereka buru-buru berangkat jadi kelupaan barang tersebut.
Tidak banyak yang dapat Rara lakukan kecuali hanya dengan kata-kata penyemangat dan juga usapan tangan nya yang tiada henti. entahlah Rara tidak tau harus berbuat seperti apa.
BRAK... terdengar suara pintu yang di buka dengan keras dari luar, yang membuat kedua wanita tersebut terkejut. Segera Rara menghapus air matanya karena yang datang adalah Hara.
Rara sadar diri ia segera keluar dari ruangan Yelsi memberikan ruang untuk suami istri tersebut.
"kamu kenapa sayang?" tanya Hendra menyambut Rara di depan pintu karena ia yakin Rara akan segera keluar.
"m-mas Yelsi begitu kesakitan, aku kasian mas" ujar Rara yang tangis nya kembali pecah di rengkuhan sang suami.
"Itu kan memang kodrat wanita sayang, nanti kamu juga akan merasakan seperti itu" jawab Hendra mencoba menenangkan istrinya.
"mas juga tadi salah, jadi Yelsi lama kesakitan" ujar Rara menepis tangan Hendra yang membuat Hendra memutar mata malas.
"emang kalau aku angkat telpon cepat, Yelsi sekarang udah ga kesakitan gitu. Sabar Hen, sabar." batin Hendra lama-lama ia juga kesal dengan Rara yang terus menyalahkan ia.
"iya maafkan mas ya, sekarang kita makan yok, kita sudah melewatkan jadwal makan" ujar Hendra mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"bisa-bisanya ya mas di keadaan genting seperti ini kamu lebih mementingkan perut" ucap Rara yang disertai dengan tatapan tajam.
Ya salam, siapapun tolong Hendra sekarang. bawa ia ke kandang hewan sekalian. eh.