Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Dasar Bumil


__ADS_3

"Makasih ya Ra, kamu udah menyelematkan anak kita dan maaf kamu ga bisa berbagi sakit dengan mas. Kalau bisa biar mas saja yang merasakannya jangan kalian.Namun akan mas pastikan Rafa akan menuai apa yang telah ia perbuat" kata Hendra lirih tanpa menyentuh Rara takut itu akan membangun sang istri dan yang lebih parah akan menyakiti Rara.


Lama Hendra memandangi Rara, akhirnya ia merebahkan diri di samping tempat istri di rawat dengan Posisi duduk dan kepala ia letakkan di dekat tangan Rara. Ia takut karena terlalu capek nanti Rara terbangun mau minum atau apalah ia tidak dengar, cukup ia menjadi suami yang teledor hari ini seterusnya ia akan lebih waspada dan siaga.


Tiga hari di rawat akhirnya Rara diperbolehkan pulang dengan catatan harus lebih hati-hati dan tidak boleh kecapean.


"mas aku bisa jalan sendiri loh" ucap Rara ketika Hendra meminta perawat membawakan kursi roda ke ruangan Rara.


"kamu ga boleh capek sayang, jadi pake kursi roda aja ya" bujuk Hendra dengan lembut.


"mas tapi aku ga selemah itu kok" jawab Rara dengan memanyunkan bibirnya yang membuat Hendra gemes melihatnya.


"ok baiklah ga usah pake kursi roda" ujar Hendra yang membuat Rara seketika tersenyum.


"biar mas gendong aja" lanjut Hendra yang membuat Rara mencebikkan bibirnya.


"ya udah deh mas, pake kursi roda aja kalau gitu" pasrah Rara.


"nah pintar" ucap Hendra sekalian mengelus kepala Rara.


***


Seminggu berlalu keadaan Rara sudah semakin membaik. Biru karena memar juga sebagai besar sudah hilang walau masih ada yang tersisa namun sudah tidak sakit lagi.


"Mas hari ini ga bisa pulang cepat ya sayang" ucap Hendra ketika Rara memasangkan dasi di lehernya.


"iya mas gapapa, udah tiga kali loh mas mengulangi kalimat ya sama" jawab Rara yang kini merapikan kemeja sang suami setelah selesai memasang dasi.


"Mas tetap khawatir sama kamu sayang, pokonya kamu ga boleh kemana-mana kalau ga sama mas" ucap Hendra berdiri dari posisi jongkok nya karena tidak mau Rara yang berdiri makanya ia yang jongkok agar Rara mudah memasangkan dasinya.

__ADS_1


"iya sayang iya, bawel banget sih kan nanti Bulan yang datang kesini" ujar Rara dengan senyum merekah merasa senang dengan perhatian sang suami walaupun terlalu posesif. Namun ia tahu itu untuk kebaikannya bersama baby dalam perutnya.


"Coba ulangi lagi Ra" pinta Hendra dengan wajah yang lucu menurut Rara.


"apa sih mas?" tanya Rara pura-pura tidak tau.


"ayolah Ra, jangan pura-pura deh" rajuk Hendra memalingkan wajah yang membuat Rara gemes dengan tingkah sang suami.


"apa mas, apa yang perlu aku ulangi?" ujar Rara dengan mengulum senyum.


"sini deh mas, lebih dekat" pinta Rara menarik tangan suami agar lebih dekatnya. Sedangkan Hendra ceritanya sedang merajuk sekarang.


"makasih ya sayang, aku dan baby kita beruntung punya suami dan ayah seperti kamu" ucap Rara dengan lirih dan suara yang kecil. Kini ia telah memeluk suaminya dengan posisi wajahnya berada di depan perut Hendra.


"ga perlu terima kasih sayang, itu sudah kewajiban ku. Dan aku lebih beruntung memiliki kamu." ucap Hendra yang membuat Rara sesegukan di pelukan Hendra.


"suuuttt jangan nangis dong, nanti baby nya ikutan sedih gimana" ucap Hendra menghibur sang istri yang masih menangis. Hendra memang sudah tidak asing lagi dengan perubahan mood sang istri sejak awal kehamilan Rara Hendra sudah banyak mempelajari berbagai hal, salah satunya seperti sekarang ini.


"suuuttt kamu ga boleh ngomong gitu, kamu di samping mas aja mas udah sangaat bahagia apalagi di tambah dengan kehadiran baby kita. seperti nya mas tidak akan meminta apapun lagi asal itu dengan kalian mas siap menghadapi apa saja. Udah ya, jangan nangis lagi" ucap Hendra yang kini sudah melepaskan pelukannya dan kembali berjongkok di depan Rara yang masih duduk dengan posisi awal.


"kamu ga boleh sedih, ingat apa kata dokter ya. nanti mas bawa oleh-oleh ketika pulang ya" sambung Hendra sambil menghapus air mata Rara. mendengar kalimat terakhir suaminya Rara segera mengukir senyum masih. secepat itu memang perubahan mood nya. Dasar bumil.


kemudian Hendra mengecup perut sang istri.


"jangan nakal ya nak, ayah kerja dulu. jangan buat bunda susah ok" ucap Hendra seolah ia memang tengah berbicara dengan sang anak.


"Mas berangkat ya sayang, jangan terlalu banyak gerak dulu ingat kamu baru sembuh. kalau ada apa-apa segera hubungi mas. ok" ujar Hendra yang kemudian mengecup bibir Rara.


"mas udah ah malu. ada reader tuh" ucap Rara dengan muka Semerah tomat busuk.(wkwkwk)

__ADS_1


"ah biarin aja, lagi pula siapa lagi yang menyaksikan kemesraan kita kalau bukan mereka" sahut Hendra cuek.


Setelah kepergian Hendra, Rara kini sedang menonton televisi sembari menunggu kedatangan sahabat, Bulan.


Rara sebenarnya agak heran karena tiba-tiba tadi malam Bulan mengajak ketemuan. Awalnya ia meminta di tempat biasa namun Hendra tentu saja tidak membolehkan sang istri berkeliaran mengingat Rara baru sembuh itupun belum sepenuhnya. Hingga akhirnya Bulan lah yang mendatangi kediamanan Rara atas saran Hendra dan Bulan pun tidak masalah dengan itu, karena ia memang belum pernah berkunjung ke rumah sahabat nya bersama suami.


Tidak sampai setengah jam, akhirnya bik iyun datang bersama Bulan.


"eh udah nyampe Lan?" tanya Rara agak sedikit terkejut melihat keberadaan Bulan pasalnya ia tidak mendengar apapun. Entahlah mungkin ia terlalu asik dengan keberadaan film kartun di depannya ini.


Rara menaruh toples cemilan yang ia pangku sejak tadi. Niat hati ingin berdiri menyambut Bulan, tapi


"ga usah berdiri Ra, aku aja yang langsung duduk. Nanti pak bos marah lagi" ujar Bulan cepat karena semalam ia sudah di wanti-wanti akan berbagai hal. Bulan sedikit merenggut pada awalnya namun ia tau ini untuk kebaikan sahabatnya.


"lama-lama kamu sama dengan mas Hendra Lan, apa-apa ga boleh" ujar Bulan dengan memutar bola matanya.


"Jadi istri itu harus nurut Ra, ga boleh ngeyel apalagi membantu ucapan suami"


"iya in aja deh, biar cepat" jawab Rara yang membuat Bulan seketika tertawa. Memang sahabat nya itu tidak pernah berubah dari dulu.


"Ra aku putus sama Hengky" ujar Bulan memulai pembicaraan setelah mereka berbasa-basi selama setengah jam yang lalu.


"ha kok bisa?" tanya Rara dengan cepat.


Cerita mengalir dari Bulan yang menyatakan bahwa sang kekasih terpikat untuk main hati dengan teman kerjanya sendiri.


"hiks hiks, yang sabar ya Lan" respon Rara benar-benar membuat Bulan melongo di tempatnya. Ia saja yang putus tidak sampai menangis karena ia ga sayang sayang amat sama tuh laki.


"Ra Apa yang kamu tangisi coba?" tanya Bulan tidak habis pikir dengan Rara yang masih berurai air mata di depannya. namun masih sambil mengunyah cemilan nya. kebayang ga sih nangis sambil ga berhenti makan. ya itu lah keadaan Rara saat ini. Dasar bumil.

__ADS_1


memang mendengar rencana kedatangan Bulan, Hendra segera menyuruh pak Beni untuk membeli beberapa cemilan untuk menemani kedua wanita tersebut bergosip. ya apalagi kalau dua wanita dipertemukan . begitu pikir Hendra.


__ADS_2