
Gimana udah lebih baik?" tanya ku. Dia hanya menjawab dengan anggukan kepala saja.
"Minum dulu Lan, biar lebih tenang" ujarku sambil mengambil minuman yang sudah dia pesan terlebih dulu sebelum aku datang.
"Lebih tenang sekarang?"tanya ku
Dan lagi ia hanya mengangguk namun kali ini di sertai dengan senyuman.
"Kita pesan makan dulu ya Lan, aku udah lapar" kelakar ku mencoba cairkan suasana.
"Maaf ya Ra aku merusak suasana yang kita rancang dan malah menangis tidak jelas seperti ini" kali ini Bulan berbicara panjang lebar.
"Siapa bilang merusak? Nanti di sambung lagi nangisnya setelah kita siap makan ya. Nangis juga butuh tenaga loh" ucap ku disertai kekehan.
__ADS_1
"Lebay kamu Ra nangis ya tinggal nangis ga perlu tenaga"
"Ih siapa bilang kalau kelaparan kan jadi ga konsen galau nya jadi ga bisa nangis deh" ucap ku bingung dengan perkataan sendiri. Apa benar begitu ah sudahlah yang penting Bulan sudah ga bersedih lagi.
"Iya in aja deh, yok kita pesan makanan tadi katanya lapar" sahut Bulan yang ga ingin berdebat lagi.
"Nah tepat sekali makanannya sudah datang Lan, makanan kesukaan kamu masih yang dulu kan?"
"Kamu memang sahabat aku yang paling baik Ra"
Lalu kami makan dalam diam dan setelah siap kami melanjutkan obrolan yang terpending tadi.
"Saran aku ya Lan lebih baik kamu tanya dulu sama mas Aji. Tanya baik-baik tanpa disertai emosi. Walaupun seandainya jawaban mas Aji ga sesuai dengan yang diharapkan setidaknya kamu tau lebih awal bahwa kalian sudah ga sejalan lagi daripada kamu terus-terusan berada dalam ketidakpastian dengan diam begini kan lebih baik apabila semua jelas Lan" aku kembali menggenggam tangan nya guna meyakinkan perkataan ku tersebut.
__ADS_1
"Iya Ra kamu benar, aku akan coba untuk melakukan saran kamu. lebih baik aku tau semuanya di awal jadi aku bisa menentukan langkah selanjutnya dari pada aku bergelut dengan pikiran sendiri dan di bawah naungan ketidakpastian" ucap nya dengan bijak.
"nah kan sahabat aku jadi lebih pintar kalau ga mewek" ujar ku dengan nada menggoda.
Bulan pun memutar bola matanya malas mendengar ledekan ku.
Itu sudah biasa bagi kami setelah curhat-curhatan kami akan meledak yang curhat guna mencairkan suasana dan agar tidak larut dalam kesedihan seperti saat sekarang ini.
Dan setelah Bulan tenang kami memutuskan untuk mengakhiri pertemuan kali ini. Kerena hari juga sudah mau sore. Dan setelah perdebatan panjang akhirnya Bulan yang membayar makanan kami kali ini. Kami kalau mau membayar makanan tu pasti berebut siapa yang membayar, karena jarang ada moment seperti ini.
Sambil menunggu Bulan membayar makanan kami aku berencana menunggu Bulan di luar tampak ada notif di handpone ku ternyata dari mas Hara yang menanyakan apakah sudah siap dan menawarkan akan di jemput dan diantar pulang.
Aku pun menolak dengan halus mengatakan ga usah karena Cafe ini sudah dekat ke rumah ku dan aku bisa pulang sendiri.
__ADS_1
Karena jika mas Hara yang menjemput ku maka akan jauh nanti dia putar baliknya Karena terlalu asik dengan handphone aku sampai tidak sadar telah menabrak seseorang dan orang tersebut......