
"Satu hal yang pasti Ra, jangan pernah berpikiran bahwa ini semua kejadian yang disengaja apalagi keinginan mas. Tapi Ra bagaimana pun keadaan kita nanti nya mas akan tetap berharap kita akan memiliki kesempatan untuk bisa bersama dan yakinlah jika pun kita tidak memiliki kesempatan itu kamu akan menempati salah satu ruang di hati ini dan tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi mu " sambung mas Hara dengan suara yang serak dan bisa ku lihat dia mengusap matanya.
"Sesakit inikah jika apa yang kita cita-citakan dan apa yang kita inginkan tidak bisa terwujud apalagi setelah penantian panjang " ucap ku dalam hati.
Kesunyian begitu mencekam ketika kami saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Bertanggung jawablah mas, sebagai perempuan aku tidak ingin kamu menjadi laki-laki yang lari dari apa yang sudah kamu perbuat dan menjadi laki-laki pengecut. Aku duluan mas" segera aku berdiri dari tempat duduk dan menyambar tas yang terletak di meja. Sempat mas Hara mencegat dengan memegang tangan ku namun segera ku tepis. Bahkan panggilannya pun ku abaikan.
Langsung saja aku keluar dengan membawa segala sesak di dada ini. Dan segera aku di sambut Bulan dengan membuka wajah yang menggambarkan rasa simpati seorang sahabat.
Sampai di mobil tangis ku semakin pecah di hadapan Bulan. Entah bagaimana aku mendeskripsikan betapa hancurnya hati ku saat ini dan Bulan tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Dia hanya membiarkan aku menangis dengan memberikan pelukan dalam diam.
Dapat ku rasakan bahwa elusan di punggung ku tidak pernah berhenti.
Setelah sedikit tengah dan masih dalam keadaan hening di mobil aku menoleh kembali ke ara cafe dan dapat aku lihat wanita tadi sudah masuk ke dalam dan sedang duduk di tempat yang aku tempati tadi.
__ADS_1
"Gimana Ra masih mau disini, kita pulang atau ada rencana lain" tanya Bulan menyadarkan aku.
Tolong bawa aku kemana pun itu Lan, asal jangan pulang dulu" dan ucapan ku hanya di angguki oleh Bulan.
Di tengah perjalanan muncul nama ayah, mungkin mereka sudah khawatir karena hari juga sudah mau gelap karena sudah memasuki maghrib. Namun aku belum bisa menjawab panggilan ayah tersebut sampai akhir handphone ku di ambil alih oleh Bulan.
"Assalamualaikum Ra, kok belum pulang nak. Kamu ga kenapa napa kan?" Ucap ayah keterusan tanpa mendengarkan balasan ku terlebih dahulu.
"Eh iya om waalaikumsalam, maaf om ini Bulan yang angkat telpon om soalnya Rara nya lagi mandi om" ucap Bulan dengan berbohong di ujung kalimatnya.
"Iya om dia mau nginap katanya, tadi udah di ingatin loh om jangan sampai lupa izin nya eh ternyata tetap lupa, hehehe" tawa Bulan terdengar aneh di telinga mungkin karena menutupi kebohongan nya.
"Oh ya sudah nak Bulan, gapapa biar om sama Tante tenang aja"
"Hehehe iya om"
__ADS_1
"Ya sudah ya nak Bulan kalian kalau cerita jangan sampai lupa waktu ya. Ingat kalian juga butuh waktu untuk tidur besok kalian masih kerja" peringatan ayah dengan nada bercanda.
"Hehehe iya om, Udah ya om assalamualaikum om" setelah terdengar balasan salam dari Ayah Bulan pun mematikan panggilan tersebut dan melanjutkan perjalanan kembali.
Setelah sekitar 2 jam memutari jalan Bulan menoleh ke arah ku.
"Sampai kapan kita mutar-mutar ga jelas begini Ra, ini udah malam dan kita belum mempunyai tempat untuk kita tuju" ucap Bulan masih sabar dengan keterdiaman ku.
"Ra kita ke danau tempat kita biasa yok. Kalau kamu udah ga kuat nyetir biar aku aja" saran ku kemudian.
"Ok Ra kita ke danau, tapi biar aku aja yang bawa mobil kan ga nyampe satu jam kesana" dan hanya ku balas dengan anggukan.
Setelah sampai di sana kami duduk di atas rumput persis ketika kami kesini waktu masa SMA, tidak ada yang berubah dari tempat ini.
Tidak terasa ternyata sudah lama kami berada disini dan Ketika sedang asik menikmati suasana danau yang begitu tenang tiba-tiba ada suara
__ADS_1
"Ra ...