Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
kunjungan Bulan


__ADS_3

"iya kan dari tadi aku udah ngaku salah, bahkan kalaupun mereka nuntut agar kasus ini di bawa ke ranah hukum aku sudah siap" ucap Rafa lantang tanpa ada keraguan sedikitpun.


''Tampaknya ia begitu serius dengan ucapannya, Namun aku harus tetap waspada aku ga boleh lengah apalagi sampai kecolongan menghadapi ni bandit atu"


"jadi gimana kamu mau ya bantu aku untuk bisa ngomong sama mereka, aku benar-benar serius jika itu yang kamu ragukan " ujar laki-laki itu seakan bisa membaca apa yang ada dalam pikiran Bulan yang sejak tadi keningnya berkerut syarat akan berpikir.


***


Tanpa terasa waktu terus bergulir, sekarang baby Arsyi sudah memasuki usia empat bulan. sedang lucu-lucunya.


"Apa sayang dingin mandinya ya. gapapa nanti biar segar dan anak bunda sehat ok" oceh Rara yang baru selesai memandikan anaknya sambil memberikan minyak telon di tempat tertentu di tubuh sang anak.


Ia begitu menikmati moment menjadi seorang ibu muda. Banyak hal yang baru ia ketahui sekaligus sadari bahwa menjadi ibu ternyata tidak segampang yang dilihat atau yang di bayangkan. Namun di balik itu semua Rara semakin menaruh rasa hormat kepada sang bunda setelah ia sendiri melewati proses ini.


Hendra yang baru keluar dari kamar mandi melihat pemandangan di depannya ia begitu bahagia melihat interaksi keduanya wanita yang begitu ia sayangi itu. Walau ocehan Rara selalu dibalas gumaman tidak jelas dari sang anak, Rara seakan tidak pernah lelah untuk mengajak anak nya itu untuk bicara.


"nah sekarang anak bunda udah wangi" ucap Rara gemes sambil melayangkan kecupan bertubi-tubi yang membuat anaknya kegelian.


"eh mas ngapain berdiri disitu?" tanya Rara heran melihat sang suami, sekarang ia sudah memangku baby Arsyi yang nampak sangat lucu dengan bando warna pink nya.


"uluh uluh anak ayah udah cantik, wangi lagi" ucap Hendra mengabaikan istrinya sambil membenarkan bando yang sempat bergeser karena tangan Baby Arsyi yang begitu aktif.


Dan terakhir ia menyematkan kecupan di kedua pipi sang anak yang sedang tertawa. Rara hanya tersenyum melihat interaksi tersebut, rasanya ia begitu beruntung mempunyai partner seperti suaminya itu.


Hendra setiap malam tidak pernah absen menemani Rara begadang untuk mengurus baby Arsyi jika sedang rewel. Pernah sekali Rara demam di awal-awal mereka menjadi orang tua. Rara sudah bilang agar menelpon sang bunda saja namun Hendra bilang tidak usah takut menganggu karena malam sudah larut.


Akhirnya Hendra kesusahan untuk mengurus kedua wanita yang begitu berarti baginya. Namun tidak sedikitpun Hendra mengeluh walau mata panda nya seakan memberikan gambaran bertapa lelahnya ia malam itu.


"sayang ini kan sudah empat bulan semenjak Arsyi lahir. apakah....


"apa mas?" jawab Rara setelah menunggu beberapa saat namun tidak ada lanjutan dari kalimat sang suami yang menggantung.


"apakah mas sudah.....


"mas mau ngomong apa sih?" tanya Rara sambil mengulum senyum.


"jangan gitu dong sayang, kamu tau betul apa yang mas maksud " ujar Hendra merenggut yang nampak lucu dimata Rara.

__ADS_1


"lihat nak bunda meledek ayah" adu Hendra kepada sang anak yang masih tertawa setiap kali di ajak bicara.


"mas kan yang ga tega," ujar Rara melanjutkan topik pembicaraan.


"iya sayang tapi semakin kesini mas juga ga tahan. Boleh ya nanti malam" bujuk Hendra yang tidak dapat menghentikan tawa Rara yang pecah seketika.


namun hal itu membuat baby Arsyi menangis mungkin karena terkejut.


"owek owek" (anggap ini suara tangisan bayik ya gaes)


"astaga cup cup sayang, jangan dengarin bunda ya. bunda jahat he em" ujar Hendra membujuk baby Arsyi yang tengah di gendong Rara sambil berdiri.


"kamu sih mas" sahut Rara menyalahkan sang suami.


"cup cup sayang, enggak enggak suuutttt diam ya. ayah disini. clup ba clup ba"


ajaib. tangisan sang anak langsung berhenti dan berganti dengan senyuman.


"ya udah mas, buruan siap-siap gih. nanti terlambat loh" Ujar Rara mengingatkan sang suami yang sampai sekarang masih menggunakan handuk. Heran apa ga kedinginan kali ya.


"jawab dulu dong sayang " Hendra masih menuntut jawaban atas pertanyaannya.


"iya sayang iya, mas memang ga tega karena kan masih baru tapi sekarang mas udah ga bisa menahan lagi "


"iya mas aku paham, bahkan aku salut sama pertahanan mas karena takut aku kesakitan " ujar Rara yang membuat Hendra membawa sang istri ke dalam pelukannya.


"makasih ya mas" ujar Rara.


"kan udah mas bilang ga ada kata terima kasih diantara kita hmmm"


Namun suasana romantis itu tidak bertahan lama karena di pisahkan oleh tangisan baby Arsyi.


"maaf ya sayang ayah sama bunda lupa, ternyata disini ada malaikat kecil" Ujar Hendra yang mengecup pipi sang anak kemudian mencium bibir istrinya walau hanya sekilas.


***


Setelah keberangkatan Hendra ke kantor Rara kembali menjalani rutinitas sebagai ibu muda yang antusias atas segala perkembangan anaknya.

__ADS_1


"bentar ya sayang, handphone bunda bunyi" ujar Rara seakan baby Arsyi sudah bisa mengerti dengan apa yang di ucapkannya.


"assalamualaikum Lan" ujar Rara membuka percakapan diantara mereka, setelah melihat bahwa yang menelpon adalah Bulan sahabatnya.


"wah aku senang banget kalau kamu mau datang, kemarin kan waktu Arsyi lahir kamu hanya kirim hadiah" Rara merenggut namun ia tetap mengajak anaknya berbicara walau hanya dengan gerakan bibir.


"iyain aja deh si paling sibuk


begitulah obrolan mereka tidak ada habisnya hingga satu jam berlalu.


"ok nanti malam di tunggu ya Lan, kita makan malam disini "


tidak lama percakapan itu pun diakhiri setelah mengucapkan salam perpisahan.


"Aunty Ulan mau datang sayang ha a , Arsyi senang mau jumpa sama aunty iya".


***


"Tadi katanya bulan datang jam berapa sayang?" tanya Hendra sambil memainkan rambut arsyi yang kini tengah di pangku nya.


"katanya sih jam makan malam ma...


Tiiiin tiiiin


"nah tu mungkin dua dah nyampe" sahut Rara ketika mendengar suara klakson mobil di depan.


"sebentar ya mas" Rara berjalan ke depan untuk menyambut sahabat nya itu, sementara Hendra masih betah dengan anaknya di tempat yang sama. tidak berminat mengikuti sang istri karena ia tau betul gimana kedua sahabat itu jika sudah bertemu. Ia tidak mau anaknya nanti ada gangguan pendengaran.


"aaaa Rara" teriak Bulan sambil memeluk Rara sahabat.


"nah kan, aunty mu itu betul-betul ribut sayang" ujar Hendra kepada anaknya.


"ayo ayo masuk, mas Bulan bawa temen lo" ujar Rara memberi tau suaminya yang masih bercanda dengan sang putri sambil tersenyum.


Namun ketika mendongak kepala senyum itu langsung pudar berganti dengan wajah datar dengan tatapan tajam.


Jujur Rara baru melihat ekspresi itu setelah mereka menikah. Hendra tidak pernah memberikan tatapan melainkan tatapan hangat nan penuh cinta.

__ADS_1


"ngapain kamu kesini?"


__ADS_2