Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
pria beruntung


__ADS_3

setelah sampai di lantai bawah entah mengapa jantung Rara terasa berdebar dan ia merasa ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Rata melihat dua orang yang rasanya tidak asing dan deg...


"kenapa harus dia" batin Rara dan ia tidak dapat menyembunyikan raut keterkejutannya.


"oh iya Har Yel, ini dia istri papa yang sekarang akan menjadi mama kalian juga" ucap Hendra dengan ceria berbanding terbalik dengan kita orang di samping sekaligus di hadapannya sekarang.


"kok pada diam sih, ayok dong Har salim sama mama mu" ucap Hendra yang mengejutkan semua orang.


"p-pa boleh kita berdua ngomong dulu" ucap Hara yang pertama kali mendapatkan suaranya.


"ini penting pa" sahut Hara sebelum Hendra sempat menyangkal.


"oh ok kita ke depan sebentar. sebentar ya Ra kalian ngobrol aja dulu sama yelsi" ucap Hendra yang benar-benar tidak bisa memahami keadaan.

__ADS_1


"ada apa sih Har? emang ga bisa lagi ya nanti ngobrolin bisnisnya? kan sekarang kita lagi pertemuan keluarga"


"bukan gitu pa, ini bukan masalah bisnis tapi ini memang masalah keluarga kita" Hara tidak berani memandang wajah Hendra yang sudah dianggap ayah olehnya dan keluarga satu-satunya.


"emang kamu sama yelsi ada masalah apa?" tanya Hendra yang menduga bahwa yang bermasalah adalah hubungan anak dengan sang menantu.


"bukan masalah aku dengan yelsi pa, tapi aku dengan Rara...


"loh kamu tau nama mama kamu? kalian udah saling kenal? atau jangan-jangan Rara yang kamu.... " tanya Hendra yang kini ia juga sudah deg deg an karena ia mempunyai firasat yang tidak tidak sehingga ia tidak mampu untuk melanjutkan kalimatnya.


"namun entah mengapa selalu saja ada kendala ketika kita akan mengadakan perjumpaan. entah itu papa yang tiba-tiba ada urusan penting atau aku yang ga bisa nyempetin waktu ketika papa bisa"


Hendra seolah kehilangan kata-kata dan ia tidak tau harus menanggapi bagaimana.


Keadaan di dalam rumah juga tidak jauh berbeda kedua wanita itu sama-sama tidak ada yang tau harus bereaksi seperti apa. mereka sama-sama membisu dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


"apakah aku sudah menikahi mantan calon mertua ku?." batin Rara kalut memikirkan runtutan cerita selama beberapa jam kebelakang hingga saat ini.


"mbak eh aku harus manggil apa ya?" tanya Yelsi yang sudah tidak nyaman dengan kebisuan mereka sejak tadi.


"eh iya panggil senyaman kamu aja. ada apa?" tanya Rara yang berusaha menguasai keadaan.


"ternyata benar kata orang ya mbak, dunia ini hanya sebesar daun kelor saja. nyatanya kita dipertemukan dengan keadaan dan kondisi yang jauh berbeda dengan perjumpaan kita terakhir kali" ujar Yelsi yang dibenarkan Rara dalam hati namun ia masih belum mampu merespon kata-kata yelsi.


"sekali lagi aku mohon maaf mbak, walau keadaan kemarin membuat mbak merasa yang paling tersakiti nyata nya aku oun tidak bahagia dengan ikatan kami ini. bukan bukan karena mas Hara memperlakukan aku dengan tidak baik. namun matanya tidak bisa berbohong bahwa sosok mbak belum bisa ia lupakan " sontak saja Rara terkejut dengan ucapan Yelsi ia tidak menyangka Hara akan sebegitunya. ia merasa yang paling sakit adalah ia namun ternyata mereka bertiga sama-sama merasa terluka namun tentunya dengan porsi yang berbeda.


"kamu tenang saja yelsi, aku sudah mencoba untuk ikhlas untuk keadaan kita. Dan aku akan berkomitmen menjalani hubungan ku dengan mas Hendra. karena bagiku hubungan kami bukan untuk main-main dan dia sekarang adalah imam ku" jawab Rara mantap dan tanpa ia sadari kedua pria di belakangnya mendengar dengan jelas dan memberikan dua reaksi yang berbeda.


"sekali lagi makasih ya Ra, aku tadi tidak bisa membayangkan bagaimana tanggapan mu atas hubungan kita yang entah bagaimana menjelaskannya" ucap Hendra haru dan bangga dengan istrinya tidak salah ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan wanitanya ini.


"mas merasa menjadi pria yang paling beruntung....

__ADS_1


__ADS_2